INGATLAH.COM – Air mata Jelita Sirait tak terbendung saat dua kalimat syahadat mulai terucap dari bibirnya.
Dengan mengenakan mukena putih bermotif bunga, perempuan berusia 27 tahun asal Pekanbaru itu berdiri di hadapan Ustad Rubianto dari Mualaf Center An Nur Riau, Jumat (9/10/2026).
Di hadapannya, ratusan jamaah menyaksikan momen yang menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Belasan teman Jelita yang turut hadir juga larut dalam suasana haru.
Sebagian jamaah tampak berkaca-kaca, tak kuasa menahan air mata saat mendengar kisah di balik keputusannya memeluk agama Islam.
Bagi Jelita, hari itu bukan sekadar tentang mengucapkan dua kalimat syahadat.
Ada perjalanan panjang, rasa ingin tahu yang tumbuh sejak remaja, serta ketenangan yang perlahan menguatkan keyakinannya untuk mengambil keputusan besar dalam hidup.
Dengan langkah mantap, Jelita menghampiri Rubianto yang telah menunggunya di depan saf imam.
Sebelum prosesi dimulai, Rubianto meminta dua orang jamaah menjadi saksi. Keduanya maju secara sukarela untuk menyaksikan langsung momen penting tersebut.
Namun, sebelum membimbing Jelita bersyahadat, Rubianto terlebih dahulu mengajaknya berbicara.
Ia ingin mengetahui alasan dan keyakinan yang mendasari keputusan perempuan muda itu untuk memeluk Islam.
Di hadapan para jamaah, Jelita menegaskan bahwa pilihannya bukan karena paksaan siapa pun.
Keputusan tersebut lahir dari kemantapan hatinya sendiri, setelah melalui pengalaman dan perjalanan batin yang tidak singkat.
Kisah Jelita dengan Islam ternyata telah berawal sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).
Saat itu, ia sering melihat teman-temannya yang beragama Islam melaksanakan salat.
Ada sesuatu yang menarik perhatiannya setiap kali menyaksikan mereka menjalankan ibadah.
Rasa penasaran itu perlahan tumbuh menjadi ketertarikan. Bahkan, Jelita mengaku pernah mengingatkan teman-temannya yang Muslim agar tidak lupa menunaikan salat.
Pengalaman sederhana tersebut terus membekas hingga ia beranjak dewasa.
Ketertarikannya terhadap salat semakin terasa ketika ia mulai merasakan ketenangan setelah menjalankan ibadah itu.
Bagi Jelita, pengalaman tersebut menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ia merasakan kenyamanan yang berbeda, seolah menemukan ruang untuk menenangkan diri di tengah berbagai hal yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Perasaan itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan keyakinannya.
Salat tidak lagi sekadar sesuatu yang ia lihat dilakukan oleh teman-temannya, tetapi menjadi ibadah yang ingin terus ia jalani.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Jelita mencoba mengungkapkan perasaan yang selama ini ia rasakan.
Kalimat demi kalimat disampaikannya di hadapan Rubianto dan para jamaah yang menyimak dengan penuh perhatian.
“Saat saya setelah salat, saya merasa dipeluk. Tapi saat saya bersama teman-teman biasanya hanya didengar, tapi kalau ini saya merasa dipeluk dan rasanya tenang dan nyaman,” ungkap Jelita kepada Rubianto.
Pengakuan itu membuat suasana semakin emosional. Bagi Jelita, perasaan tenang tersebut menjadi pengalaman yang begitu berarti.
Ia merasakan kenyamanan yang mendorongnya untuk semakin mantap menjalankan ibadah salat dan mendalami Islam.
Sejumlah jamaah tampak meneteskan air mata mendengar kesaksiannya. Suasana masjid yang semula tenang berubah menjadi penuh haru ketika para jamaah turut menyambut perjalanan keyakinan Jelita dengan seruan takbir.
Di balik kemantapan hatinya, Jelita menghadapi keadaan yang tidak mudah. Keputusannya untuk memeluk Islam disebut belum mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya.
Situasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang harus dihadapinya. Meski demikian, Jelita menegaskan bahwa pilihannya lahir dari keyakinan pribadi, bukan karena tekanan atau paksaan pihak lain.
Menyikapi keadaan itu, Rubianto menyampaikan pesan penting agar Jelita tetap menjaga hubungan baik dengan keluarganya.
Ia mengingatkan bahwa memeluk Islam tidak berarti mengabaikan kewajiban menghormati dan menyayangi kedua orang tua.
“Apapun alasan, tetaplah berbuat baik kepada kedua orang tua karena Islam mengajarkan itu,” pesan Rubianto kepada Jelita.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan keyakinan yang baru dimulai tetap harus berjalan seiring dengan sikap hormat, kasih sayang, dan kebaikan kepada keluarga.
Rubianto juga berpesan agar Jelita senantiasa istiqamah dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslimah.
Ia mendorong Jelita untuk terus belajar, memperdalam pengetahuan agama, serta memahami ajaran Islam secara bertahap.
Menurutnya, mempelajari Rukun Iman dan Rukun Islam merupakan langkah mendasar bagi Jelita untuk memahami keyakinan yang kini dipilihnya dan menjalankan ibadah dengan baik.
Bagi seorang mualaf, perjalanan tidak berhenti ketika dua kalimat syahadat selesai diucapkan.
Ada proses belajar dan penyesuaian yang perlu dijalani, termasuk membangun pemahaman agama sekaligus menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.
Setelah mendengarkan penjelasan dan pesan dari Rubianto, Jelita kemudian mengikuti bimbingan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Dengan lancar, ia mengikuti setiap kalimat yang diucapkan oleh Rubianto. Suasana kembali dipenuhi rasa haru ketika Jelita menyelesaikan prosesi tersebut di hadapan dua saksi dan ratusan jamaah.
“Alhamdulillah,” ucap kedua saksi bersama jamaah yang menyaksikan momen itu.
Seruan tersebut disambut suasana penuh kehangatan.
Bagi Jelita, pengucapan dua kalimat syahadat menjadi langkah penting setelah perjalanan panjang yang dimulai dari rasa ingin tahu saat masih SMA hingga menemukan ketenangan melalui ibadah salat.
Usai prosesi, Rubianto mengingatkan Jelita untuk melaksanakan mandi besar.
Ia juga menerima bingkisan dari Mualaf Center An Nur Riau berupa perlengkapan salat lengkap sebagai bentuk dukungan untuk memulai aktivitas ibadahnya.
Sejumlah jamaah kemudian menghampiri Jelita untuk menyampaikan ucapan selamat.
Satu per satu memberikan dukungan dalam suasana kekeluargaan yang terasa hangat setelah prosesi yang diwarnai tangis haru tersebut.
Hari itu menjadi awal perjalanan baru bagi Jelita Sirait. Perempuan muda asal Pekanbaru tersebut telah memantapkan pilihannya untuk memeluk Islam dengan keyakinan sendiri.
Di balik air mata yang mengalir saat bersyahadat, tersimpan kisah tentang ketertarikan yang tumbuh sejak remaja, pengalaman menemukan ketenangan dalam salat, serta keberanian mengambil keputusan yang diyakininya.
Kini, perjalanan Jelita berlanjut dengan langkah-langkah baru. Ia diingatkan untuk terus belajar, menjaga keteguhan hati, dan tetap berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
Sebab, bagi Jelita, hari ketika dua kalimat syahadat terucap bukanlah akhir dari sebuah pencarian, melainkan awal untuk lebih mengenal dan menjalani keyakinan yang telah dipilihnya.





