Opini

Jalan yang Ikut Diekstraksi

×

Jalan yang Ikut Diekstraksi

Sebarkan artikel ini

Penulis: Ozi Sukma R

Jalan yang Ikut Diekstraksi
Ozi Sukma R - Pemerhati Isu Sosial-Lingkungan

Kapitalisasi sumber daya alam tidak berhenti di kebun, tambang, atau pabrik. Ia ikut bergerak bersama truk, masuk ke jalan kampung, menggetarkan rumah, memenuhi udara dengan debu, dan perlahan mengubah ruang hidup manusia.

Suatu pagi saya mengendarai sepeda motor di ruas jalan yang menghubungkan Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Jalan ini seperti urat nadi bagi berbagai komoditas. Truk pengangkut sawit datang dan pergi. Tangki CPO melintas. Truk batu bara beriringan. Kendaraan berat bergerak dari satu titik produksi menuju titik lainnya.

Barang yang mereka bawa bernilai tinggi.

Jalannya tidak.

Lubang berserakan di mana-mana. Sebagian aspal bahkan seperti kehilangan bentuk. Seusai hujan, genangan air menutup lubang-lubang itu. Pengendara yang tidak biasa melewati ruas ini harus menebak: di depan hanya air, atau cekungan cukup dalam yang bisa membuat setang motor bergoyang seperti baling-baling.

Gambar Ilustrasi

Warga setempat mungkin sudah hafal.

Mereka tahu bagian mana yang harus dihindari, kapan memperlambat kendaraan, dan di mana harus sedikit mengambil sisi jalan.

Pengetahuan tentang jalan rusak akhirnya menjadi keterampilan hidup.

Ironis.

Di daerah yang setiap hari dilalui kendaraan pengangkut kekayaan alam, masyarakat justru harus belajar menghindari lubang agar selamat sampai rumah.

Di kiri-kanan jalan, berdiri rumah-rumah warga. Sebagian rumah panggung dari kayu. Terasnya hanya beberapa langkah dari aspal. Di halaman yang sempit itulah anak-anak tumbuh.

Ada yang berlari.

Ada yang bermain.

Ada pula yang berdiri di pinggir jalan, memandangi truk besar lewat beberapa meter dari tubuh mereka.

Bagi orang yang hanya sesekali melintas, pemandangan itu membuat was-was. Tetapi bagi anak-anak yang lahir dan besar di sana, mungkin itulah dunia yang mereka kenal: suara mesin, debu, klakson, truk besar, dan kemacetan. Ya begitupun orang-orang disna, seperti tidak ada yang salah yang dalam perspektif  Pierre Bourdieu, disebut doxa . Doxa adalah keadaan ketika tatanan sosial tertentu telah begitu diterima sehingga tidak lagi dipertanyakan.

Baca Juga  Ketimpangan antara Gaya dan Realita

Kita sebagai orang yang sesekali kesana, menganggap ini sebagai sesuatu yang keliru dan bisa berbahaya, namun ini menjadi hal yang biasa karena bahaya telah kehilangan wajah dan martabatnya sebagai kata yang disebut “bahaya”.

Di tengah kemacetan, Saya melihat seorang lelaki tua mengayuh sepeda ontel. Ia bergerak santai melewati barisan kendaraan. Truk-truk tertahan. Mobil pribadi berbaris di belakang. Sepeda motor mencari celah.

Lelaki itu terus mengayuh.

Ada sesuatu yang terasa jenaka sekaligus serius dari pemandangan itu.

Seolah ia sedang berkata: ini kampung kami. Jalan ini melewati rumah kami. Kalau kalian sedang terburu-buru membawa sawit, batu bara, atau minyak, tunggulah sebentar.

Para sopir truk tampaknya memahami bahasa tanpa kata tersebut. Mereka memperlambat kendaraan ketika warga menyeberang. Memberi ruang pada sepeda motor. Menunggu anak-anak menepi. Kadang tangan mereka memberi isyarat kepada kendaraan kecil untuk mendahului.

Seakan mereka menjawab: kami tahu ini rumah kalian. Kami juga hanya sedang bekerja. Izinkan kami lewat.

Karena itu, persoalannya tidak cukup diselesaikan dengan menunjuk sopir truk sebagai biang masalah.

Sopir hanyalah mata rantai paling terlihat. Di belakang kemudi terdapat jaringan yang jauh lebih panjang: kebun, tambang, pabrik, kontraktor, perusahaan, pelabuhan, pasar, investasi, hingga kebijakan pembangunan.

Kita terbiasa membicarakan dampak industri ekstraktif di tempat sumber daya diambil. Hutan hilang, tanah berkonflik, sungai tercemar, atau masyarakat kehilangan ruang hidup.

Tetapi ada dampak lain yang bergerak mengikuti komoditas: koridor ekstraksi.

Sawit membutuhkan jalan. Batu bara membutuhkan jalan. CPO membutuhkan jalan. Dan kendaraan yang membawa komoditas itu melintasi kampung-kampung yang belum tentu memiliki hubungan apa pun dengan perusahaan.

Baca Juga  Jumat Jadi WFH, Warga Mengurus ke Mana?

Masyarakat di sana mungkin tidak menerima kompensasi.

Tidak bekerja di perusahaan.

Tidak memiliki kebun plasma.

Bahkan mungkin tidak pernah tahu dari mana muatan truk itu berasal.

Namun setiap hari mereka menerima debunya, kebisingannya, kemacetannya, kerusakan jalannya, dan risiko kecelakaannya.

Keuntungan bergerak menuju satu tempat. Sebagian biayanya tertinggal di tempat lain.

Ekonomi menyebutnya eksternalitas.

Namun istilah itu terasa terlalu rapi ketika kita melihat seorang anak bermain hanya beberapa meter dari kendaraan bermuatan puluhan ton.

Lalu muncul pertanyaan: siapa sebenarnya yang mengganggu siapa?

Apakah rumah warga terlalu dekat dengan jalan? Ataukah arus industri sudah terlalu besar untuk jalan yang sejak awal juga menjadi halaman, ruang pergaulan, dan bagian dari kehidupan kampung?

Mungkin jawaban paling mudah adalah memperlebar jalan dan memindahkan rumah.

Tetapi rumah bukan sekadar bangunan yang dapat digeser beberapa meter.

Di sana ada ingatan, tetangga, warung, pohon yang ditanam bertahun-tahun lalu, tempat anak belajar berjalan, dan kehidupan yang tumbuh sebelum jalan menjadi begitu sibuk.

Ruas Indragiri Hulu-Indragiri Hilir menunjukkan bahwa jalan bukan sekadar infrastruktur ekonomi.

Ia juga ruang sosial.

Di atas aspal yang sama, komoditas miliaran rupiah bertemu anak-anak yang sedang bermain, ibu yang berdiri di teras, dan lelaki tua dengan sepeda ontelnya.

Barangkali lelaki tua itu tidak pernah berniat melawan siapa pun.

Ia hanya mengayuh sepeda di depan rumahnya sendiri.

Namun beberapa menit pagi itu, truk-truk besar harus memperlambat laju.

Ekonomi menunggu.

Dan jalan seperti mengingat kembali sesuatu yang sederhana:

sebelum menjadi jalur komoditas, ia adalah ruang hidup manusia, bahkan sampai hari ini.