Coba ingat sejenak. Kapan terakhir kali perasaan Anda begitu kuat sampai tubuh ikut merasakannya? Jantung berdebar kencang sebelum wawancara kerja pertama. Air mata yang tiba-tiba jatuh saat melihat anak bungsu berangkat kuliah ke luar kota. Atau rasa lega yang begitu besar setelah akhirnya berani berkata “tidak” di tengah begitu banyak peran yang harus dijalani sekaligus: sebagai anak, istri, ibu, sekaligus perempuan yang bekerja.
Semua itu emosi. Dan meski terasa sangat pribadi, ternyata emosi punya cara kerja yang bisa dipahami dengan cukup sederhana. Banyak orang mengira emosi hanya soal perasaan di hati. Padahal emosi selalu melibatkan tiga hal sekaligus: tubuh, pikiran, dan tindakan kita. Saat cemas, bukan cuma hati yang berdebar tangan berkeringat, pikiran berputar mencari kemungkinan terburuk, dan tubuh ingin menghindar. Ketiganya datang bersamaan. Itu sebabnya emosi tidak bisa “dipikir saja sampai hilang”, ia bukan urusan pikiran semata, melainkan urusan seluruh diri.
Lalu, dari mana perasaan itu sebenarnya datang? Sebagian orang mengira tubuh bereaksi dulu, baru muncul rasa kita menangis dulu, baru merasa sedih. Tapi penelitian menemukan sesuatu yang lebih penting: yang paling menentukan bukan apa yang terjadi pada kita, melainkan bagaimana kita memaknainya. Psikolog Richard Lazarus menunjukkan, sebelum emosi muncul, pikiran kita secepat kilat, sering tanpa kita sadari lebih dulu bertanya: “Apakah ini mengancam saya? Sanggupkah saya menghadapinya?”
Dua perempuan bisa menerima kritik yang sama persis dari atasan, tapi merasakan emosi yang jauh berbeda satu merasa hancur, satu lagi merasa tertantang. Bedanya cuma satu: cara mereka memaknai kritik itu. Di sinilah letak kabar baiknya. Kita punya ruang, meski kecil, untuk melatih cara memaknai sebuah situasi sebelum emosi itu yang mengambil alih kendali.
Emosi dasar seperti bahagia, sedih, takut, dan marah dikenali oleh semua manusia di mana pun ia lahir bahkan oleh suku-suku terpencil yang belum pernah melihat televisi. Tapi cara kita mengalami dan menunjukkan emosi itu sangat dipengaruhi budaya dan didikan kita masing-masing. Artinya, hubungan kita dengan emosi sendiri bukan sesuatu yang sudah baku dan tidak bisa diubah ia terus bisa dipelajari ulang, sepanjang hidup.
Bagi perempuan, perjalanan emosi ini bahkan berganti wajah di setiap tahap kehidupan. Di usia muda, tantangannya adalah mencari jati diri. Di usia dewasa, banyak perempuan menanggung beban mengurus banyak peran sekaligus. Di usia yang lebih matang, muncul perubahan hormonal dan pencarian makna hidup yang baru.
Beban mengurus banyak peran sekaligus yang disebutkan di atas itu, dalam psikologi dan kajian gender, punya nama sendiri: peran ganda. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika perempuan menjalankan peran domestik atau tradisional sebagai istri, ibu, dan pengelola rumah tangga, bersamaan dengan peran di ranah publik sebagai pekerja atau bagian dari angkatan kerja. Fenomena ini bukan sekadar pengalaman personal segelintir orang. Data Badan Pusat Statistik mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia terus naik, dari 56,42 persen pada Agustus 2024 menjadi 56,63 persen setahun berikutnya, meski angka itu masih jauh di bawah partisipasi laki-laki yang mencapai 84,40 persen. Yang lebih penting untuk dicermati, kenaikan jumlah perempuan bekerja ini ternyata tidak diikuti oleh pergeseran yang setara dalam pembagian tanggung jawab di rumah.
Psikolog Jeffrey Greenhaus dan Nicholas Beutell menyebut ketegangan ini sebagai konflik peran, yang menurut keduanya muncul lewat tiga jalan. Pertama, konflik berbasis waktu, ketika waktu yang tersita di satu peran membuat peran lain kekurangan waktu. Kedua, konflik berbasis tekanan, ketika kelelahan atau tekanan dari satu peran ikut terbawa dan memengaruhi peran yang lain. Ketiga, konflik berbasis perilaku, ketika sikap yang dituntut di satu tempat justru bertentangan dengan yang dituntut di tempat lain: tegas dan cepat mengambil keputusan di kantor, namun harus lembut dan sabar begitu sampai di rumah. Ketiga, bentuk ini bisa muncul bersamaan, dan itulah sebabnya perempuan dengan peran ganda sering merasa lelah di banyak lini sekaligus, bukan hanya lelah fisik.
Sosiolog Arlie Hochschild menamai sisi yang lebih tersembunyi dari peran ganda ini sebagai giliran kerja kedua, atau yang lebih dikenal dengan istilah beban ganda. Setelah menyelesaikan satu shift penuh di tempat kerja, banyak perempuan pulang untuk langsung memulai shift berikutnya di rumah: memasak, mengurus anak, memastikan seluruh kebutuhan keluarga terpenuhi, sementara pasangannya sudah bisa beristirahat. Ini bukan berarti laki-laki tidak mau membantu, dan bukan pula karena perempuan tidak mampu bekerja secara profesional. Yang terjadi adalah norma lama tentang siapa yang “seharusnya” bertanggung jawab penuh atas rumah tangga masih bertahan, jauh lebih lambat berubah dibanding pergeseran peran perempuan di dunia kerja.
Bagi kesehatan jiwa, peran ganda yang terus berlangsung tanpa ruang bernapas bukan risiko kecil. Sejumlah tinjauan di bidang psikologi organisasi menemukan, semakin tinggi konflik peran yang dirasakan seseorang, semakin besar pula risiko tekanan psikologis, kecemasan, dan kelelahan emosional yang menyertainya. Pada perempuan, risiko itu kerap diperberat oleh rasa bersalah yang tidak proporsional: bersalah karena merasa kurang maksimal sebagai ibu ketika sedang fokus bekerja, sekaligus bersalah karena merasa kurang berkontribusi ketika sedang fokus mengurus keluarga. Dan sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, bukan banyaknya peran itu sendiri yang paling menentukan besar kecilnya beban emosional, melainkan bagaimana perempuan memaknai tuntutan-tuntutan itu, serta seberapa besar ruang yang ia izinkan untuk dirinya sendiri di tengah semuanya.
Jauh sebelum istilah peran ganda dikenal dalam psikologi modern, ajaran Islam sudah menekankan prinsip mu’awanah, atau tolong-menolong, dalam rumah tangga. Aisyah r.a. pernah menuturkan bahwa Rasulullah SAW terbiasa menambal sandal dan menjahit pakaiannya sendiri, bahkan mengerjakan pekerjaan rumah sebagaimana laki-laki lain di rumah mereka (HR. Ahmad): sebuah teladan bahwa pembagian tugas rumah tangga bukan perkara baku yang harus jatuh sepenuhnya pada satu pihak, melainkan soal kerja sama yang disepakati sesuai kondisi masing-masing keluarga. Islam juga mengingatkan pentingnya keseimbangan lewat riwayat ketika sahabat Salman al-Farisi menegur Abu Darda’ yang nyaris menelantarkan diri dan keluarganya demi terus beribadah, bahwa Tuhan, diri sendiri, dan keluarga masing-masing memiliki hak yang harus ditunaikan (HR. Bukhari). Memenuhi hak diri sendiri untuk beristirahat, dengan kata lain, bukan bentuk kelalaian, melainkan bagian dari keseimbangan yang justru dianjurkan.
Selama ini, banyak perempuan menyebutnya sekadar “capek mikirin semuanya sendirian” capek yang sulit dijelaskan karena tidak kelihatan dari luar. Padahal, penelitian yang terbit tahun ini membuktikan capek semacam itu nyata: beban terus-menerus mengingat, merencanakan, dan memikirkan kebutuhan seisi rumah, di samping pekerjaan sendiri, benar-benar berdampak pada kesehatan jiwa. Bahkan ketika suami sudah ikut membantu pekerjaan rumah, beban ini bisa tetap terasa berat sebab yang lelah bukan hanya tenaga, melainkan pikiran yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Mengapa semua ini penting dipahami, bukan sekadar dirasakan? Psikolog James Gross menemukan sesuatu yang mengubah cara kita memahami kepribadian: cara kita biasa merespons emosi apakah memendamnya, meledakkannya, atau berhenti sejenak untuk berpikir ulang kalau dilakukan berulang-ulang bertahun-tahun, lama-lama tidak lagi terasa seperti pilihan. Ia menjadi kebiasaan otomatis. Dan kebiasaan itulah yang akhirnya dikenali orang lain sebagai watak kita: “penyabar”, “gampang marah”, “hangat”, atau “dingin”. Dengan kata lain, watak bukan sesuatu yang sudah ditentukan sejak lahir dan tidak bisa diubah. Ia adalah hasil dari ribuan momen emosi kecil yang, tanpa kita sadari, terus-menerus kita ulangi.
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Perempuan yang terbiasa memendam perasaan demi menjaga suasana tetap tenang sering dipuji sebagai sosok yang sabar. Padahal ada bedanya: ketenangan yang lahir dari benar-benar berdamai dengan sebuah keadaan itu sehat. Tapi ketenangan yang sebenarnya adalah menahan dan mengubur perasaan terus-menerus, bertahun-tahun, justru bisa melelahkan jiwa dan mengganggu kesehatan fisik dalam jangka panjang.
Lalu bagaimana cara mengelola emosi dengan sehat? Bukan dengan memaksa diri agar selalu terlihat tenang di depan anak, suami, atau atasan. Caranya justru sederhana: beri diri sendiri jeda sebelum bereaksi, meski hanya beberapa detik. Bisa dengan menarik napas dalam-dalam. Bisa dengan berhenti sejenak sebelum membalas pesan yang membuat emosi naik. Mengelola emosi yang sehat juga berarti berani menetapkan batas antara urusan rumah dan pekerjaan bukan sebagai tembok yang mengucilkan diri, melainkan sebagai pintu yang kuncinya tetap kita pegang sendiri.
Menariknya, kearifan lama sudah lebih dulu memahami hal ini. al-Quran, dalam surah Ali ‘Imran ayat 134, memuji “orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.” Menahan di sini bukan berarti memendam, melainkan memilih untuk merespons dengan lebih bijak persis seperti yang ditemukan psikologi modern hari ini.
Kabar baiknya, kemampuan mengelola emosi seperti ini bisa dilatih, di usia berapa pun baik masih muda, sudah berkeluarga, maupun sudah memasuki usia yang lebih matang. Ini bukan bakat yang hanya dimiliki segelintir orang beruntung. Ini keterampilan, yang tumbuh justru lewat latihan yang sengaja diulang: mengenali perasaan dengan lebih jelas dan rinci, memberi diri sendiri waktu untuk berhenti sejenak, dan berhenti menilai kedewasaan seseorang dari seberapa jarang ia menangis.
Sebab pada akhirnya, emosi bukan musuh yang harus dikalahkan. Ia hanya butuh ruang untuk bernapas, sebelum kita memilih langkah terbaik. Dan dari situlah, pelan-pelan, lahir watak perempuan yang lebih utuh sekalipun harus menjalani banyak peran sekaligus.





