RiauPekanbaru

Kisah Haru Elizabeth, Dari Cerita Ayah hingga Ucap Syahadat di Masjid An Nur

×

Kisah Haru Elizabeth, Dari Cerita Ayah hingga Ucap Syahadat di Masjid An Nur

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Di antara suasana haru yang menyelimuti Masjid Raya An Nur, seorang gadis kecil bernama Elizabeth Kamppainen Kelinduan (12) duduk di samping kakaknya.

Meski masih sangat muda, ia menunjukkan keyakinan yang tak kalah kuat.

Elizabeth menjadi salah satu dari tiga perempuan yang mengucapkan syahadat pada Jumat, 24 Juli 2026.

Namun di balik keputusannya, tersimpan peran besar seorang ayah.

Sejak kecil, Elizabeth terbiasa mendengar cerita tentang Islam dari ayahnya.

Kisah-kisah para nabi, ajaran kebaikan, serta nilai-nilai kehidupan sering disampaikan dengan sederhana namun penuh makna.

“Ayah sering cerita tentang Islam,” ucap Elizabeth.

Cerita-cerita itu perlahan membentuk pemahamannya.

Ia mulai mengenal konsep keimanan, kebaikan, dan kasih sayang dalam Islam.

Baca Juga  Ratusan Massa Padati PN Pekanbaru, Pengamanan Berlapis Kawal Sidang Abdul Wahid Cs

Meski belum sepenuhnya mengerti, ia merasakan ada sesuatu yang menarik.

Berbeda dengan pembelajaran formal di sekolah, pendekatan sang ayah terasa lebih dekat dan hangat.

Dari situlah, ketertarikan Elizabeth tumbuh secara alami.

Seiring waktu, rasa penasaran itu berubah menjadi keinginan untuk lebih mengenal Islam.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk memeluk agama tersebut bersama kakaknya.

Saat prosesi syahadat berlangsung, Elizabeth tampak tenang.

Ia mengikuti setiap lafal yang dibimbing dengan lancar, tanpa ragu.

Momen itu menjadi bukti bahwa keyakinan bisa tumbuh dari lingkungan terdekat.

Dalam hal ini, peran keluarga, terutama orang tua, menjadi sangat penting.

Jamaah yang menyaksikan tampak tersentuh melihat keberanian Elizabeth.

Di usia yang masih belia, ia telah membuat keputusan besar dalam hidupnya.

Baca Juga  Penanganan Bencana di Humbahas Terus Membaik, Dua Warga Masih Dicari

Setelah prosesi selesai, Elizabeth menerima perlengkapan ibadah.

Wajahnya tampak cerah, seolah siap memulai perjalanan baru.

Pesan dari pembimbing mualaf menjadi bekal penting baginya.

Ia diingatkan untuk tetap menghormati keluarga dan menjaga hubungan baik, apapun perbedaan yang ada.

Elizabeth pun mengangguk pelan, menunjukkan bahwa ia memahami pesan tersebut.

Hari itu, langkah kecil Elizabeth menjadi bagian dari perjalanan besar.

Ia mungkin belum sepenuhnya memahami semua ajaran Islam, tetapi ia telah memilih jalannya.

Dari cerita sang ayah, ia menemukan keyakinan. Dari lingkungan keluarga, ia belajar tentang iman.

Dan di Masjid Raya An Nur, ia memulai babak baru sebagai seorang Muslim dengan hati yang penuh harapan.