Pekanbaru

Penanganan Bencana di Humbahas Terus Membaik, Dua Warga Masih Dicari

×

Penanganan Bencana di Humbahas Terus Membaik, Dua Warga Masih Dicari

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Upaya penanganan darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatra Utara, terus menunjukkan perkembangan positif hingga Minggu (30/11).

Seluruh unsur Forkopimda Humbahas bergerak secara terpadu mengoperasikan posko darurat terpusat di lapangan sepak bola Desa Panggugunan, sebagai tindak lanjut arahan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto.

Kehadiran Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi (FPKP) BNPB, Nelwan Harahap, di posko turut memastikan berbagai layanan kemanusiaan berjalan efektif bersama Bupati Humbahas Oloan Paniaran Nababan, mulai dari operasi pencarian dan penyelamatan, penyediaan dapur umum, pelayanan kesehatan, bantuan logistik, hingga layanan pengaduan masyarakat.

Pada tahap awal, BNPB telah menyalurkan bantuan berupa sembako, makanan siap saji, tenda pengungsi, matras, selimut, velbed, pompa alkon, genset, dan perahu polietilen guna mendukung kebutuhan dasar warga terdampak.

Nelwan juga menyempatkan diri menjenguk sejumlah warga yang mengungsi di rumah kerabat dan menyerahkan langsung dukungan logistik sembari mendengarkan kondisi dan kebutuhan mereka.

Di sisi lain, pemulihan jaringan komunikasi darurat terus dipercepat. BNPB bersama Diskominfo Humbahas telah mengoperasikan internet satelit Starlink di tiga titik, yakni posko Desa Sihombu, Kantor Camat Pakkat, dan Gereja HKBP Parbotihan di Onan Ganjang.

Baca Juga  Pemprov Riau Genjot Pelayanan Publik Jelang Penilaian Ombudsman 2026

Layanan ini dapat diakses gratis selama 24 jam oleh warga di sekitarnya. Dinas Perhubungan juga memasang lampu penerangan di area posko demi menjaga keamanan pada malam hari, sementara Tagana dari Dinas Sosial memastikan distribusi makanan bergizi tiga kali sehari berjalan lancar bagi seluruh pengungsi.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, PhD, menyampaikan bahwa sinergi antarinstansi menjadi kunci percepatan penanganan bencana ini.

Menurut data terbaru per Minggu (30/11) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat enam orang, dua lainnya masih dalam pencarian, sembilan mengalami luka-luka, dan sebanyak 2.200 warga terpaksa mengungsi di posko maupun di rumah kerabat terdekat.

Bencana hidrometeorologi ini telah melanda 31 desa di enam kecamatan, dengan dua desa masih terisolir lantaran akses tertutup material longsor dan jembatan amblas.

Sementara itu, kerusakan rumah warga mencapai puluhan unit dengan beragam tingkat kerusakan, disertai dampak besar pada lahan pertanian dan infrastruktur publik seperti jalan dan jembatan.

Baca Juga  Debut Pahit Marcos Reina, Persik Kediri Siap Bangkit Hadapi Persis

Upaya normalisasi akses terus dilakukan, termasuk pembukaan jalur Pulo Godang–Pakkat–Barus yang kini mulai dapat dilalui setelah pengerahan empat alat berat untuk membersihkan material longsor berupa lumpur dan batu berukuran besar.

Dari peninjauan lapangan, terlihat kondisi memprihatinkan di Desa Panggugunan, di mana sejumlah rumah rusak parah, termasuk satu rumah dua lantai yang hanya menyisakan struktur bagian atas, serta bongkahan batu sebesar truk berserakan di sekitar permukiman.

Selain fokus pada pencarian korban hilang dan penyelamatan warga, pemerintah juga memprioritaskan pemulihan akses vital serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sepanjang masa tanggap darurat.

BNPB telah merekomendasikan Badan Geologi melakukan kajian menyeluruh terhadap wilayah rawan guna merencanakan relokasi aman bagi warga setelah tahap tanggap darurat berakhir.

Kolaborasi erat antara BNPB, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat dinilai menjadi fondasi utama dalam menghadapi dan mempercepat pemulihan pascabencana ini.