Serbaneka

Trauma Bencana di Sumbar, Fenomena Arti Lirik Lagu Rayola-Darah Taraso Baku

×

Trauma Bencana di Sumbar, Fenomena Arti Lirik Lagu Rayola-Darah Taraso Baku

Sebarkan artikel ini
Rayola lagu Darah Taraso Baku. (Foto: Istimewa)

INGATLAH – Musik seringkali menjadi bahasa universal yang menyuarakan perasaan terdalam, dan di Sumatera Barat (Sumbar) belakangan ini karena bencana, peran itu diambil alih oleh lagu Minang berjudul Darah Taraso Baku yang dilantunkan oleh artis populer, Rayola viral di media sosial karena liriknya.

Lagu yang sejatinya bercerita tentang ketakutan kehilangan cinta ini, secara mengejutkan, bertransformasi menjadi soundtrack emosional bagi masyarakat di tengah pusaran bencana alam yang melanda wilayah mereka.

Sejak pertama kali tayang di YouTube pada 18 November 2025, lagu ini telah menyentuh hati jutaan penonton.

Hingga kini, Selasa (9/12) menunjukkan bahwa Darah Taraso Baku telah menembus angka 1.8 juta penonton, sebuah bukti popularitas yang tak terbantahkan.

Namun, lonjakan hype terbesar terjadi di media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Dalam beberapa minggu terakhir, hampir setiap unggahan video warganet yang memperlihatkan kerasnya dampak bencana mulai dari longsor, banjir, hingga evakuasi selalu diiringi dengan melodi sendu dan lirik mendalam lagu ini.

Baca Juga  PPM Diniyyah Pasia Tekankan Fondasi Ibadah dalam Orientasi Santri Baru Tahun 2025

Peleburan Makna di Tengah Trauma

Fenomena ini menarik untuk dikaji. Lirik Darah Taraso Baku sebenarnya berfokus pada kegelisahan dan ketakutan akan kehilangan kekasih. Baris seperti:

“Darahlah taraso baku (Darah sudah terasa beku)

Pangana indak manantu (Pikiran tidak menentu)

Takuik rasian ka jadi nyato (Takut mimpi jadi nyata)”

Meski bercerita tentang kerinduan, lirik-lirik ini rupanya beresonansi kuat dengan perasaan cemas dan ketidakberdayaan yang dialami korban bencana.

Frasa atau arti lagu Darah Taraso Baku atau Darah Terasa Beku secara metaforis menggambarkan rasa syok, dingin, dan ketidakmampuan berpikir jernih yang dialami saat menghadapi kehancuran mendadak.

Lagu Rayola ini secara tidak langsung telah menjadi wadah kolektif bagi masyarakat Sumbar untuk mengekspresikan trauma, kekhawatiran, dan rasa kehilangan yang melanda, membuktikan bahwa karya seni mampu melampaui makna aslinya di tengah krisis kemanusiaan.

Baca Juga  Pascabanjir, Bantuan Terus Mengalir di Posko Padang Panjang

Lirik dan Makna Mendalam

Berikut adalah cuplikan lirik lagu yang telah diterjemahkan (berdasarkan Ingatlah.com)

Lirik Minang (Asli) Terjemahan (Indonesia)
Di ujuang malam nan sunyi Di ujung malam yang sunyi
Tasintak lalok dek ulah mimpi Terbangun tidur karena mimpi
Di hati raso takuik kahilangan cinto Di hati terasa takut kehilangan cinta
Sakujua tubuah den tak badayo Sekujur tubuh tidak berdaya
Takuik rasian ka jadi nyato Takut mimpi jadi kenyataan

Fenomena ini menegaskan bahwa dalam situasi sulit, seni musik Minang bukan hanya hiburan, tetapi juga terapi emosional dan penanda solidaritas kultural. (*)