INGATLAH – Meski sudah dipastikan terdegradasi dari BRI Liga 1 2024/25, PSIS Semarang menolak menyerah. Tim berjuluk Mahesa Jenar tetap menargetkan kemenangan saat melawat ke markas Malut United FC dalam laga pekan ke-33 yang digelar di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Jumat (16/5) malam.
Hingga pekan ke-32, PSIS masih terpuruk di dasar klasemen dengan 25 poin. Namun, status sebagai tim juru kunci tak mengendurkan semangat mereka. Caretaker pelatih PSIS, Muhammad Ridwan, memastikan timnya datang ke Ternate dengan tekad tinggi dan harga diri yang harus dijaga.
“Kami memang sudah pasti terdegradasi, tapi kami tetap akan berjuang. Ini soal marwah klub, marwah pemain, dan juga marwah kompetisi. Kami datang ke sini bukan untuk formalitas, tapi untuk tampil total,” tegas Ridwan.
Menariknya, laga kontra Malut United terasa emosional karena sejumlah pemain tuan rumah adalah mantan punggawa PSIS. Namun hal itu tak membuat Ridwan silau. Justru, ia ingin anak asuhnya menjadikan pertandingan ini sebagai momentum untuk bangkit dan menebus keterpurukan.
“Ada dua pilihan – menyerah atau bertarung dengan sepenuh hati. Kami pilih bertarung, karena itulah yang pantas dilakukan,” ucapnya penuh semangat.
PSIS menunjukkan sedikit sinyal positif usai berhasil mencetak gol di laga terakhir meski tetap kalah. Hal itu menjadi modal berharga bagi Ridwan untuk membangun kembali kepercayaan diri tim yang sempat runtuh karena rentetan hasil buruk.
Sayangnya, PSIS harus kembali kehilangan beberapa pemain andalan. Alfeandra Dewangga dan Boubakary Diarra belum pulih dari cedera, sementara Gali Freitas juga mengalami masalah fisik usai laga melawan PSS Sleman.
“Kami memang tidak tampil dengan kekuatan penuh, tapi semangat kami tetap utuh. Kami membawa motivasi besar dari Semarang dan ingin menutup musim dengan kepala tegak,” tutup Ridwan, legenda hidup PSIS.
Dengan dua laga tersisa, PSIS ingin membuktikan bahwa mereka masih punya nyali dan harga diri, sekalipun sudah dipastikan turun kasta. Malut United boleh berada di papan atas, namun Mahesa Jenar tak ingin jadi bulan-bulanan. Mereka datang ke Ternate dengan satu tekad: pulang membawa kemenangan.(thohir)





