INGATLAH.COM – Pagi itu, suasana di lahan Balai Benih Inti UPTD Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau di Kota Pekanbaru terasa berbeda dari biasanya.
Hamparan jagung seluas empat hektare yang menguning, seolah menjadi saksi keberhasilan sebuah kerja bersama yang tak biasa.
Di tengah barisan tanaman yang siap dipanen, Kepala Biro Sumber Daya Manusia Polda Riau, Kombes Pol Dr. Boy Jeckson Situmorang, turun langsung ke lapangan.
Tak sekadar hadir, ia bahkan mengemudikan sendiri mesin panen modern, combine harvester, memulai proses panen jagung yang telah dinanti para petani.
Mesin besar itu perlahan bergerak, memotong batang-batang jagung yang telah matang.
Suara mesin berpadu dengan semangat para petani dan penyuluh yang ikut menyaksikan momen tersebut.
Panen perdana itu menjadi simbol kuat bahwa kolaborasi lintas sektor bukan sekadar wacana.
Usai memulai panen, Kombes Boy Jeckson menyampaikan bahwa kehadiran Polri di tengah lahan pertanian merupakan bagian dari komitmen nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, persoalan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petani semata, tetapi membutuhkan kerja bersama berbagai pihak.
“Polri tidak bisa bekerja sendiri. Ketahanan pangan adalah kerja bersama. Kami hadir bukan hanya sebagai aparat keamanan, tetapi sebagai mitra petani di lapangan,” ujarnya.
Ia juga meluruskan persepsi yang berkembang di masyarakat terkait peran kepolisian dalam sektor pertanian.
Polisi, kata dia, bukan ditugaskan menjadi petani, melainkan berperan sebagai penggerak dan penghubung untuk mempercepat solusi atas berbagai kendala yang dihadapi di lapangan.
“Peran kami adalah menjembatani, memangkas birokrasi, serta membantu koordinasi agar program bisa berjalan lebih efektif,” jelasnya.
Panen jagung ini menjadi gambaran nyata bagaimana kolaborasi itu dijalankan. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau memberikan dukungan berupa benih unggul, pupuk, serta pendampingan teknis.
Kelompok tani bertanggung jawab dalam pengolahan lahan dan perawatan tanaman. Sementara itu, Polda Riau melalui jajaran Bhabinkamtibmas aktif membantu dalam pengawasan, komunikasi, hingga memastikan distribusi berjalan lancar.
Hasilnya pun mulai terlihat. Jika sebelumnya produktivitas jagung di Riau hanya berkisar antara 0,5 hingga 1 ton per hektare, kini melalui penerapan manajemen pertanian yang lebih baik dan pendampingan intensif, produksi ditargetkan meningkat hingga 4 sampai 6 ton per hektare.
“Semua ini tidak instan. Sejak awal kita siapkan lahan dengan serius, melakukan treatment khusus, serta mengikuti standar operasional pertanian di bawah pengawasan tenaga ahli,” kata Boy Jeckson.
Kegiatan panen ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program swasembada jagung nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah menargetkan pengurangan impor jagung pakan dengan cara meningkatkan produksi dalam negeri, termasuk melalui optimalisasi lahan di daerah.
Di Riau sendiri, jagung diproyeksikan menjadi salah satu komoditas strategis untuk mendukung industri peternakan dan pakan ternak yang terus berkembang.
Bagi kepolisian, kehadiran di tengah lahan pertanian bukan hanya soal program, tetapi juga bagian dari menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Sementara bagi petani, panen ini menjadi bukti bahwa kolaborasi yang solid mampu mengubah lahan biasa menjadi sumber kesejahteraan.
Di bawah langit Pekanbaru yang cerah pagi itu, deretan jagung yang dipanen bukan sekadar hasil tani, tetapi simbol harapan bahwa dengan kerja bersama, kemandirian pangan bukan lagi sekadar mimpi.





