INGATLAH – Produksi jagung di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mengalami penurunan signifikan pada tahun 2024, turun sekitar 9,9 ribu ton dari 49 ribu ton pada 2023 menjadi 39,1 ribu ton.
Penurunan ini disebabkan oleh mahalnya harga bibit serta rendahnya harga jual jagung di pasaran.
“Bantuan benih jagung dari pemerintah juga sangat minim, hanya sekitar 9 ton untuk 603 hektare lahan,” kata Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Padang Pariaman, Irawati Febriani, di Parik Malintang, Jumat (14/2/2025).
Bantuan benih jagung yang diberikan pemerintah ternyata kurang diminati petani karena varietasnya berbeda dengan yang biasa mereka tanam.
“Petani di Padang Pariaman umumnya menggunakan benih jagung varietas P-32 dan NK 212, sedangkan benih bantuan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka,” jelas Irawati.
Selain itu, harga bibit jagung yang semakin mahal juga menjadi kendala bagi petani untuk memulai usaha tanam jagung.
Akibatnya, banyak petani memilih untuk beralih ke komoditas lain, seperti sayuran, yang dianggap lebih menguntungkan.
Selain mahalnya biaya produksi, para petani juga menghadapi harga jual jagung yang rendah saat panen.
Ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual membuat banyak petani kesulitan meraih keuntungan.
“Biaya yang dikeluarkan untuk bibit dan perawatan cukup besar, tapi harga jual di pasaran rendah. Ini yang membuat petani mulai meninggalkan jagung,” tambahnya.
Selain faktor ekonomi, kondisi cuaca juga menjadi penyebab menurunnya produksi jagung.
Curah hujan tinggi yang terjadi di wilayah Padang Pariaman mengakibatkan sekitar 35 hektare lahan jagung rusak akibat bencana.
“Akibat berbagai kendala ini, luas tanam jagung mengalami penurunan drastis dari 8,3 ribu hektare pada 2023 menjadi hanya 6 ribu hektare pada 2024,” ungkap Irawati.
Padahal, luas tanam jagung pada 2023 merupakan yang tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu 7,4 ribu hektare pada 2022, 7,8 ribu hektare pada 2021, dan 6,6 ribu hektare pada 2020.
Dengan kondisi ini, Irawati berharap pemerintah pusat dapat memberikan solusi melalui program ketahanan pangan, termasuk penyediaan benih berkualitas dan subsidi harga jagung.
“Kami berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah agar produksi jagung kembali meningkat dan petani tidak lagi merugi,” tutupnya.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, nasib petani jagung di Padang Pariaman masih bergantung pada kebijakan yang akan diambil pemerintah dalam waktu dekat. (*)





