BeritaUtama

Mengungsi di Masjid, Cerita Perempuan dan Anak Difabel Menyintas Bencana Padang

×

Mengungsi di Masjid, Cerita Perempuan dan Anak Difabel Menyintas Bencana Padang

Sebarkan artikel ini
Di balik sunyi pengungsian Masjid Nurul Jadid, Risma merawat putrinya, Wahyuni, yang hanya bisa terbaring sejak kecil. (SINGGALANG/ Riani Melda)
Di balik sunyi pengungsian Masjid Nurul Jadid, Risma merawat putrinya, Wahyuni, yang hanya bisa terbaring sejak kecil. (SINGGALANG/ Riani Melda)

“Setidaknya, kami masih hidup,” Ramiyanti, seorang perempuan korban longsor di Padang.

 

INGATLAH.COM – Siang yang redup menggantung di atas Masjid Nurul Jadid, Balai Gadang, ketika ruang pengungsian itu tampak lebih sepi dari biasanya.

Hanya dua kasur tipis yang masih terbentang, seolah menjadi penanda sunyi dari puluhan keluarga yang sejak lima hari lalu terpaksa meninggalkan rumah mereka di lereng Bukit Air Dingin, sebuah kawasan yang tanahnya kini terus bergerak, menyimpan potensi bahaya yang tak lagi bisa diabaikan.

Di salah satu sudut ruangan, Risma (53) duduk bersimpuh, menyuapi anaknya kue pemberian relawan.

Anak itu, Wahyuni, memiliki kulit putih bersih dan tatapan yang lembut, tetapi tubuhnya ringkih.

Pada usianya yang menginjak 21 tahun, postur dan ekspresinya lebih menyerupai anak sepuluh tahun.

Yuni hanya mampu menelentang, mengandalkan ibunya untuk semua kebutuhan dasar.

Kisah tubuhnya yang lemah bermula dua dekade lalu, ketika demam panjang memaksanya menjalani prosedur pengambilan jaringan sumsum tulang belakang.

Baca Juga  Danyon B Pelopor menghadiri Upacara penutupan TMMD ke - 125 di Pekaitan

Sejak itu, daya tahan tubuhnya merosot cepat, membuatnya sempat dirawat lama di ICU, lalu melewati bertahun-tahun terapi fisik yang tidak pernah sepenuhnya memulihkan kondisinya.

Di tengah riuh bencana, Masjid Nurul Jadid menjadi ruang yang merawat harapan.

Dapur umum di teras salah satu rumah warga menampung arus bantuan yang datang, meski kebutuhan khusus seperti susu dan popok untuk Yuni tetap sulit tercukupi.

Longsor pertama yang mengguncang Bukit Air Dingin terjadi pada Rabu (26/11).

Hanya sebagian teras rumah warga yang tertimbun waktu itu. Namun tanah yang jenuh oleh hujan, ciri khas kawasan berbukit yang rentan erosi, tampaknya menyimpan energi yang lebih besar.

Dua hari kemudian, longsor besar menyapu habis tiga rumah sekaligus. Tanah yang terus melorot hingga kini mengancam 37 rumah lain di bawahnya.

“Turun itu berat bagi kami. Bagaimana membawa Yuni?” ujar Risma, mengingat momen sebelum evakuasinya dilakukan oleh tim SAR dan jajaran Polwan yang datang khusus membantu keluarga itu.

Baca Juga  Duka di Dunia Jurnalistik, Wartawan Singgalang Muhammad Bayu Vesky Tutup Usia

Beberapa rumah warga di sekitar kawasan Beringin, Kelok Asmara, dan Lubuk Lukum kini hanya tersisa puing.

Bagi Ramiyanti, salah satu korban, yang tersisa hanya dua helai pakaian dan beberapa surat penting.

Rumahnya telah lenyap di bawah gelimpang tanah.

“Setidaknya, kami masih hidup,” tuturnya.

Lurah Balai Gadang, Yusrizal Maas, menyebut ada delapan rumah rusak berat serta enam titik longsor yang kini menjadi fokus pemulihan.

Lima titik berada di jalur alternatif Padang–Solok, satu titik lainnya di sekitar TPU Air Dingin—menandai bagaimana patahan tanah dan kemiringan bukit telah membentuk kembali lanskap kawasan itu.

Di tengah ketidakpastian, Risma masih berharap dapat kembali ke rumahnya suatu hari nanti. Di sanalah ladang tempat ia dan suaminya menggantungkan hidup.

Namun bagi banyak warga, bencana ini menjadi pengingat bahwa lanskap yang selama ini mereka huni sedang berubah ditarik oleh intensitas hujan, kondisi tanah, dan tekanan ekologi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.