INGATLAH – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang mengambil langkah cepat menyusul kasus viral dugaan pelecehan pasien oleh seorang dokter kandungan di Bandung.
Pihak rumah sakit menyatakan akan memperkuat regulasi pendidikan serta etika profesi di lingkungan kerja.
Direktur Utama RSUP M Djamil, dr. Dovy Djanas, mengatakan bahwa institusinya sangat memperhatikan integritas dan profesionalisme, terutama dalam interaksi antara tenaga medis dan pasien.
“Sebagai respons terhadap kasus yang mencoreng citra profesi, RSUP M Djamil akan segera melakukan sosialisasi terhadap regulasi pendidikan yang sudah ada,” kata Dovy di RSUP M Djamil, Senin (21/4/2025).
Langkah tersebut, menurut Dovy, bertujuan agar seluruh staf, khususnya yang terlibat dalam pendidikan dan pelayanan pasien, memahami dengan jelas batas-batas etika dan profesionalisme yang berlaku.
Selain itu, RSUP M Djamil akan membentuk Komite Pendidikan, yang salah satu fungsinya adalah meningkatkan pengawasan dan menerapkan langkah-langkah preventif terhadap potensi pelanggaran etika, termasuk isu sensitif seperti pelecehan maupun perundungan.
“Masalah perundungan dalam bentuk apa pun juga sudah diatur dalam regulasi internal. Dengan kasus ini, sosialisasi regulasi tersebut akan kami percepat dan perkuat,” ujar Dovy.
Untuk mendukung keterbukaan informasi, rumah sakit juga menyediakan saluran pengaduan resmi di nomor 08116662123.
Saluran ini dapat digunakan oleh pasien, keluarga pasien, maupun tenaga medis untuk melaporkan dugaan pelanggaran etika atau tindakan tidak profesional lainnya.
Dovy menegaskan, RSUP M Djamil tidak akan mentolerir bentuk pelanggaran etika apa pun.
“Jika terbukti ada pelanggaran, kami akan mengambil tindakan tegas sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.
Warga Resah
Kasus dugaan pelecehan oleh oknum dokter kandungan tersebut turut memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Salah seorang ibu hamil di Padang, Dewi (29), mengaku kini merasa tidak nyaman jika harus diperiksa oleh dokter kandungan laki-laki.
“Saya jadi risih. Sekarang kalau periksa kehamilan, saya lebih memilih dokter kandungan perempuan agar lebih tenang,” kata Dewi.
Ia berharap, kejadian serupa tidak terjadi lagi di fasilitas kesehatan mana pun di Indonesia, dan tenaga medis terus menjaga kepercayaan serta kenyamanan pasien.





