INGATLAH.COM – Arema FC membuktikan bahwa dominasi penguasaan bola bukan jaminan meraih kemenangan di sepak bola.
Meski hanya menguasai 34 persen bola, Singo Edan sukses menghajar Dewa United dengan skor telak 4-0 pada pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027.
Bermain di kandang sendiri, Arema FC tampil efektif dalam memanfaatkan peluang, sementara Dewa United yang mendominasi penguasaan bola hingga 66 persen justru gagal mencetak satu gol pun.
Perbedaan efektivitas kedua tim juga terlihat dari statistik tembakan. Dewa United melepaskan 21 tembakan dengan akurasi 42 persen, sedangkan Arema FC hanya mencatatkan 10 tembakan dengan akurasi mencapai 56 persen.
Catatan tersebut menjadi bukti bahwa jumlah peluang dan penguasaan bola tidak selalu berbanding lurus dengan hasil pertandingan.
Arema mampu memaksimalkan kesempatan yang didapat, sementara dominasi Dewa United tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari kekalahan pertama musim ini.
Pelatih interim Arema FC, Andre Caldas, mengakui anak asuhnya sempat mengalami kesulitan menghadapi tekanan Dewa United pada awal pertandingan.
Namun, ia meminta para pemain tetap tenang dan disiplin menjalankan rencana permainan meski situasi belum berjalan sesuai harapan.
“Kami sudah punya rencana permainan, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa lawan kami adalah tim peringkat kedua di kompetisi ini,” kata pelatih asal Brasil tersebut.
Menurut Andre, Dewa United merupakan lawan yang kuat dan agresif.
Karena itu, Arema harus mampu melewati tekanan awal tanpa kehilangan konsentrasi, terutama dalam menjaga pertahanan agar tidak kebobolan lebih dahulu.
“Dewa United sangat kuat dan juga agresif. Namun, yang terpenting adalah jika segalanya tidak berjalan lancar dalam 5–10 menit pertama, kita tidak boleh panik atau kehilangan kendali. Kita harus tetap tenang, bersabar dan yang utama, jangan sampai kebobolan. Jika kita tidak kebobolan, situasi akan membaik. Itulah yang terjadi dalam pertandingan itu,” imbuhnya.
Strategi tersebut terbukti efektif. Setelah bertahan menghadapi tekanan pada 10 hingga 15 menit pertama, Arema mulai menemukan celah untuk melancarkan serangan balik dan membangun serangan melalui sisi lapangan.
Gol Morais Careca pada menit ke-30 menjadi titik balik pertandingan.
Keunggulan tersebut membuat para pemain Arema semakin percaya diri dalam mengembangkan permainan, sekaligus memaksa Dewa United menghadapi situasi yang berbeda dari awal laga.
“10–15 menit awal memang berat. Namun, setelah itu kami mulai melancarkan serangan balik dan mampu menguasai bola di sisi lapangan. Begitulah cara kami bermain. Kemudian, Careca mencetak gol yang indah, dan jalannya pertandingan pun berubah,” ujar Andre Caldas.
“Kami mulai lebih banyak menguasai bola dan lebih memegang kendali permainan. Sekali lagi, yang terpenting adalah tidak kebobolan,” sambungnya.
Memasuki babak kedua, Arema semakin menunjukkan ketajamannya.
Careca kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-52 untuk menggandakan keunggulan tuan rumah.
Samuel Otusanya kemudian memperlebar jarak menjadi 3-0 pada menit ke-65.
Sementara itu, Julian Guevara melengkapi pesta gol Singo Edan melalui gol pada masa tambahan waktu.
Empat gol tersebut memperlihatkan bagaimana Arema mampu mengubah tekanan lawan menjadi peluang untuk menyerang.
Mereka tidak hanya mengandalkan pertahanan, tetapi juga tampil lebih berani ketika berhasil menemukan ruang dan momentum untuk membangun serangan.
Andre Caldas pun menegaskan bahwa situasi sulit pada awal pertandingan merupakan bagian dari dinamika sepak bola.
Menurutnya, tim harus mampu menjaga ketenangan dan tidak terburu-buru mengubah pendekatan hanya karena lawan tampil lebih dominan.
“Setelah itu, gol kedua, ketiga, dan keempat pun tercipta sebagai konsekuensinya. Intinya, jangan panik saat keadaan tidak berjalan baik di menit-menit awal. Itu bagian dari sepak bola, terkadang kita tampil bagus, terkadang lawan yang tampil lebih baik,” pungkasnya.
Kemenangan 4-0 ini menjadi hasil penting bagi Arema FC dalam melanjutkan persaingan di BRI Super League 2026/2027.
Lebih dari sekadar kemenangan dengan skor besar, Singo Edan menunjukkan bahwa ketenangan, kedisiplinan taktik, dan efektivitas penyelesaian akhir bisa menjadi pembeda, bahkan ketika menghadapi lawan yang lebih dominan dalam penguasaan bola.





