INGATLAH – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Biosolar masih terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
Kondisi tersebut membuat warga harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM dengan harga sesuai ketentuan resmi. Antrean bahkan dilaporkan mengular hingga ke bahu jalan di sejumlah lokasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan terlihat di beberapa SPBU, di antaranya kawasan Batang Toman, Sariak, Batang Lingkin, dan Kinali.
Deretan sepeda motor hingga kendaraan roda empat terlihat menunggu giliran untuk mengisi BBM. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat karena telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Di tengah sulitnya mendapatkan BBM di SPBU, sebagian warga memilih membeli BBM dari pengecer di pinggir jalan. Namun, harga yang harus dibayar jauh lebih tinggi dibandingkan harga resmi.
Harga Pertalite dan Biosolar di tingkat pengecer disebut mencapai Rp15.000 per liter.
“Pemandangan antrean ini sudah berlangsung lama. Para pelansir bebas bolak-balik, sementara warga biasa sering kehabisan. Akhirnya kami terpaksa membeli di kios eceran dengan harga yang lebih mahal,” kata Adi, salah seorang warga Pasaman Barat.
Warga menduga praktik pembelian BBM dalam jumlah tertentu untuk kemudian dijual kembali turut memperparah kondisi distribusi BBM di sejumlah SPBU. Mereka berharap dugaan tersebut dapat ditelusuri oleh aparat dan instansi terkait.
Selain itu, masyarakat meminta adanya pengawasan lebih ketat di SPBU, terutama untuk memastikan penyaluran Pertalite dan Biosolar bersubsidi tepat sasaran.
Warga juga berharap pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum segera mencari solusi atas antrean panjang yang terjadi. Pengawasan terhadap aktivitas pembelian dan penjualan kembali BBM juga dinilai perlu diperkuat agar masyarakat tidak semakin kesulitan memperoleh BBM.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, warga khawatir aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu karena BBM merupakan kebutuhan utama untuk transportasi dan kegiatan usaha sehari-hari.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat maupun aparat terkait mengenai penyebab antrean panjang dan langkah penanganan terhadap persoalan distribusi BBM tersebut.





