RiauSiakUtama

Begini Kronologi Tenggelamnya Kapal Pompong di Pelabuhan Tanjung Buton Siak

×

Begini Kronologi Tenggelamnya Kapal Pompong di Pelabuhan Tanjung Buton Siak

Sebarkan artikel ini
Begini Kronologi Tenggelamnya Kapal Pompong di Pelabuhan Tanjung Buton Siak
Begini Kronologi Tenggelamnya Kapal Pompong di Pelabuhan Tanjung Buton Siak

INGATLAH.COM – Malam itu, perairan Pelabuhan Tanjung Buton, Kabupaten Siak, tampak seperti biasa.

Aktivitas pelayaran berjalan normal, termasuk sebuah kapal pompong yang tengah melakukan kegiatan draft survei di sekitar kapal MV Himala, Selasa (7/7/2026) sekitar pukul 00.00 WIB.

Tak ada yang menyangka, rutinitas tersebut akan berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik.

Berdasarkan keterangan Kepala Kantor SAR Pekanbaru, Budi Cahyadi yang mendapat laporan dari pihak Perusahaan Pelayaran Tujuh Samudra kapal kecil itu sedang menjalankan tugas teknis pelayaran ketika arus laut yang kuat tiba-tiba menjadi ancaman yang tak terhindarkan.

Awalnya, kapal pompong berada di sisi kapal besar untuk melakukan pemeriksaan draft.

Namun, derasnya arus membuat kapal kehilangan kendali. Perlahan namun pasti, kapal terseret mendekat ke arah tongkang yang berada di sisi MV Himala.

Situasi berubah mencekam. Dalam waktu singkat, kapal pompong terjepit di antara badan kapal besar dan tongkang.

Ruang gerak yang sempit serta tekanan arus membuat kapal tak lagi mampu bertahan.

Detik-detik berikutnya menjadi penentu. Kapal akhirnya tenggelam, membawa serta para awak yang berada di atasnya.

Baca Juga  Dua Hari Dicari, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Sungai Kuantan Ditemukan Meninggal

Sebagian korban berusaha menyelamatkan diri di tengah kondisi gelap dan arus yang masih kuat.

Tiga orang berhasil selamat dari maut. Namun, nasib tragis menimpa korban lainnya. Satu orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara tiga lainnya hingga kini masih hilang.

Laporan kejadian segera diterima oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru.

Tanpa menunggu lama, sebanyak 10 personel SAR langsung diberangkatkan menuju lokasi kejadian yang berjarak sekitar 103 kilometer.

Perjalanan panjang di tengah malam tidak menyurutkan langkah tim. Setibanya di lokasi, operasi pencarian langsung digelar.

Tim SAR Gabungan memfokuskan pencarian di titik terakhir korban terlihat atau Last Known Position (LKP), yang diyakini sebagai lokasi tenggelamnya kapal.

Penyisiran dilakukan di permukaan air, sementara opsi penyelaman disiapkan untuk mempercepat proses pencarian.

Namun, upaya tersebut tidak berjalan mudah. Arus laut yang masih cukup kuat menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan.

Setiap langkah harus diperhitungkan demi menjaga keselamatan personel.

“Kami akan terus melakukan pencarian hingga seluruh korban ditemukan. Ini adalah prioritas utama kami,” tegas Budi Cahyadi.

Baca Juga  Hanyut di Sungai Kampar Saat Cari Ikan, Reno Ditemukan Tak Bernyawa

Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, mulai dari instansi terkait hingga pihak pelabuhan.

Koordinasi dilakukan secara intensif agar proses pencarian berjalan efektif dan tepat sasaran.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa aktivitas di perairan, terutama di kawasan pelabuhan yang padat, menyimpan risiko besar.

Kegiatan seperti draft survei yang terlihat rutin tetap membutuhkan kewaspadaan tinggi terhadap kondisi alam, terutama arus dan cuaca.

Pihak SAR pun mengimbau seluruh pelaku usaha dan pekerja di sektor pelayaran untuk tidak mengabaikan aspek keselamatan kerja.

Perencanaan yang matang dan kewaspadaan terhadap lingkungan menjadi kunci utama dalam mencegah kejadian serupa.

Hingga kini, harapan masih bergantung pada kerja keras tim SAR yang terus berupaya tanpa henti.

Di tengah duka yang menyelimuti, keluarga korban menanti dengan cemas, berharap orang-orang yang mereka cintai dapat segera ditemukan.

Laut kembali mengingatkan, bahwa di balik rutinitasnya yang tampak biasa, selalu ada risiko yang menuntut kesiapsiagaan dan kehati-hatian.