Berita

Fauzi Bahar: Demonstrasi Boleh, Tapi Jangan Rusak Citra Minangkabau

×

Fauzi Bahar: Demonstrasi Boleh, Tapi Jangan Rusak Citra Minangkabau

Sebarkan artikel ini

INGATLAH – Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) secara tegas mengimbau mahasiswa, khususnya yang berasal dari ranah Minang, untuk tidak terlibat dalam aksi demonstrasi yang bersifat anarkis.

Imbauan ini disampaikan menyusul insiden aksi unjuk rasa di depan Mapolda Sumbar, Senin (21/4), yang dinilai mencoreng nilai-nilai luhur budaya Minangkabau.

Ketua Umum LKAAM, Fauzi Bahar Datuak Nan Sati, menyampaikan bahwa Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi adat, musyawarah, dan diplomasi dalam menyelesaikan setiap persoalan.

“Marwah Minangkabau itu santun, beradat, dan mengedepankan diplomasi. Jangan sampai aksi-aksi tak terkendali merusak citra yang telah dijaga oleh para pendahulu kita,” tegas Fauzi Bahar di Padang, Kamis (24/4/2025).

Baca Juga  3.954 Kendaraan ASN di Sumbar Nunggak Pajak, Pemprov Serius Tertibkan 

LKAAM Siap Jadi Mediator

Sebagai bentuk tanggung jawab moral, LKAAM juga menyatakan kesiapannya untuk menjadi jembatan antara mahasiswa dengan pihak kepolisian, pemerintah provinsi, maupun lembaga terkait lainnya.

Fauzi menegaskan, tradisi “musyawarah basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” harus tetap menjadi pijakan dalam menyampaikan aspirasi.

“Kami mengajak mahasiswa kembali kepada nilai-nilai diplomasi Minangkabau. Sampaikan pendapat secara santun dan bermartabat, bukan dengan cara yang merugikan diri sendiri dan mencoreng nama baik kampung halaman,” ujarnya.

Baca Juga  Demo di Bukittinggi Solidaritas, Mahasiswa UIN Gelar Shalat Gaib untuk Korban Aksi

Permohonan Maaf dan Harapan LKAAM

Fauzi Bahar turut menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas aksi anarkis yang dilakukan sebagian mahasiswa.

Ia berharap insiden tersebut bisa menjadi pelajaran agar penyampaian aspirasi ke depan lebih mengedepankan etika dan kesantunan.

LKAAM, kata dia, membuka pintu selebar-lebarnya untuk berdialog bersama mahasiswa, demi mencari solusi dari permasalahan yang ada secara damai dan bermartabat.

“Kita semua ingin perubahan, tapi jangan sampai niat baik itu justru mencederai marwah Minangkabau,” pungkasnya. (*)