OlahragaLiga Indonesia

Ini 10 Klub Liga 2 yang Mulai Musim dengan Beban Pengurangan Poin

×

Ini 10 Klub Liga 2 yang Mulai Musim dengan Beban Pengurangan Poin

Sebarkan artikel ini
Ini 10 Klub Liga 2 yang Mulai Musim dengan Beban Pengurangan Poin
Ini 10 Klub Liga 2 yang Mulai Musim dengan Beban Pengurangan Poin

INGATLAH.COM – Perjuangan 10 klub di Liga 2 Indonesia musim 2026/2027 tidak dimulai dari titik yang sama.

Mereka harus menjalani kompetisi dengan beban pengurangan poin akibat berbagai persoalan yang menjadi perhatian operator kompetisi, I League.

Kondisi tersebut membuat persaingan sejak pekan pertama menjadi semakin berat.

Klub-klub yang terkena sanksi harus bekerja ekstra keras karena selain mengejar kemenangan, mereka juga dituntut menutup defisit poin yang sudah melekat di klasemen.

Direktur Utama I League, Ferry Paulus, mengatakan pengurangan poin diberikan karena persoalan yang beragam.

Namun, masalah finansial menjadi salah satu faktor yang paling banyak ditemukan.

“Kan memang macam-macam. Selain yang lebih banyak itu sebenarnya di finansial, ya,” ujar Ferry Paulus.

Selain finansial, persoalan homebase atau markas pertandingan juga menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian.

Menurut Ferry, persoalan tersebut tidak sekadar menyangkut stadion yang digunakan sebuah klub untuk menjalani pertandingan kandang.

Hal yang paling fundamental, kata dia, adalah homebase yang didaftarkan klub serta wilayah administratif yang menjadi cakupannya.

“Homebase itu sebenarnya yang paling fundamental adalah homebase yang didaftarkan dan areanya area mana,” jelasnya.

Ferry menjelaskan, perpindahan markas masih dapat dilakukan dalam kondisi tertentu selama tetap berada di wilayah yang diperbolehkan.

Kawasan Jabodetabek, misalnya, memiliki karakteristik berbeda karena perpindahan antarkota masih berada dalam cakupan wilayah yang memungkinkan.

“Yang katakan kalau Jabodetabek kan masih memungkinkan,” lanjutnya.

Pertimbangan serupa juga dapat diterapkan di sejumlah daerah dengan cakupan wilayah provinsi yang luas.

Ferry mencontohkan beberapa kota di Kalimantan, seperti Banjarmasin serta Balikpapan dan Samarinda di Kalimantan Timur.

“Terus kemudian ada beberapa daerah misalnya di Kalimantan seperti Banjarmasin, ya kan. Kalimantan Timur ada Balikpapan, ada Samarinda, itu masih masuk dalam area provinsi,” katanya.

Baca Juga  Pemko Padang Alokasikan Rp1 Miliar Bangkitkan Prestasi PSP Padang

Namun, persoalan homebase menjadi lebih kompleks ketika perpindahan dilakukan pada wilayah dengan karakteristik geografis dan administratif berbeda, terutama di Pulau Jawa.

“Nah, yang agak susah itu adalah memang di Jawa Tengah,” kata Ferry.

Meski demikian, Ferry menyebut sebagian besar klub di Jawa Tengah tidak menghadapi persoalan serius terkait ketentuan homebase tersebut.

“Tapi sebagian besar di Jawa Tengah justru hampir enggak ada masalah,” lanjutnya.

Menurut dia, persoalan yang lebih banyak mendapat perhatian justru berasal dari klub-klub yang melakukan perpindahan markas dengan jarak cukup jauh, khususnya klub dari luar Pulau Jawa.

“Yang masalah justru yang jauh-jauh dari luar pulau,” tegas Ferry.

Berdasarkan data pengurangan poin pada awal kompetisi, PSBS Biak dan Persiba Balikpapan menjadi klub dengan sanksi paling berat.

Keduanya harus menerima pengurangan empat poin atau minus empat (-4).

Dengan defisit tersebut, kedua klub langsung menghadapi pekerjaan berat sejak pertandingan pertama.

Setiap kemenangan menjadi sangat penting karena mereka tidak hanya harus mengumpulkan poin, tetapi juga mengejar ketertinggalan dari klub-klub yang memulai kompetisi tanpa pengurangan poin.

Sementara itu, Persiku Kudus harus memulai musim dengan pengurangan dua poin (-2).

Adapun tujuh klub lainnya masing-masing mendapat pengurangan satu poin (-1).

Ketujuh klub tersebut adalah Persipura, Persiraja, Kendal Tornado FC, Persela Lamongan, Sumsel United, PSIS Semarang, dan Semen Padang FC.

Artinya, terdapat 10 klub yang harus memulai kompetisi dengan kondisi berbeda.

Ketika sebagian besar peserta memulai musim dari nol poin, klub-klub tersebut harus terlebih dahulu mengatasi defisit yang diberikan sebelum bisa berbicara banyak mengenai persaingan di papan klasemen.

Baca Juga  Persik Kediri Punya Idola Baru, Khurshidbek Mukhtorov Tampil Multifungsi

Situasi ini membuat setiap pertandingan memiliki nilai yang semakin penting. Kemenangan bukan hanya soal tambahan tiga poin, tetapi juga menjadi cara paling cepat untuk memangkas jarak dengan klub lain.

Di sisi lain, hasil imbang bagi klub yang terkena pengurangan poin juga belum tentu memberikan dampak signifikan terhadap posisi mereka apabila tim pesaing mampu meraih kemenangan.

Pengurangan poin tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa persaingan sepak bola profesional tidak hanya ditentukan oleh performa pemain di lapangan.

Sebelum bertanding, klub harus memastikan berbagai kewajiban dan persyaratan kompetisi telah terpenuhi.

Aspek finansial, administratif, hingga kepastian homebase menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah klub sepanjang musim.

Ferry menegaskan persoalan finansial menjadi salah satu aspek yang cukup dominan dalam persoalan yang dihadapi klub.

Karena itu, profesionalisme klub tidak hanya diukur dari kemampuan mendatangkan pemain berkualitas atau meraih kemenangan.

Kemampuan memenuhi kewajiban serta mematuhi regulasi kompetisi juga menjadi bagian penting dari keberlangsungan sebuah klub profesional.

Sementara terkait homebase, I League mempertimbangkan wilayah yang diperbolehkan bagi klub untuk menjalani pertandingan kandang.

Perpindahan antarkota yang masih berada dalam satu wilayah provinsi memiliki pertimbangan berbeda dibandingkan perpindahan markas yang melintasi wilayah geografis yang jauh, termasuk lintas pulau.

Dengan kondisi tersebut, klub peserta Liga 2 dituntut tidak hanya fokus mempersiapkan tim di lapangan.

Kepatuhan terhadap regulasi, kondisi finansial, serta kepastian homebase harus disiapkan sejak awal agar persoalan administratif tidak kembali menjadi beban dalam perjalanan kompetisi.