INGATLAH – Stasiun Geofisika Kelas I Padang Panjang merilis data aktivitas seismik di wilayah PGR VI untuk periode 13 hingga 19 Februari 2026.
Dalam rentang waktu sepekan tersebut, tercatat sebanyak 23 kejadian gempa bumi mengguncang kawasan tersebut.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Padang Panjang, Suaidi Ahadi, mengungkapkan bahwa aktivitas tektonik ini bersumber dari dua jalur utama di wilayah Sumatera.
“Gempa bumi yang terjadi di wilayah PGR VI disebabkan oleh aktivitas pergerakan lempeng di zona subduksi Mentawai dan aktivitas sesar Sumatera,” jelas Suaidi dalam keterangannya, Jumat (20/2/2026).
Berdasarkan data statistik yang dihimpun, kekuatan gempa didominasi oleh magnitudo rendah. Rinciannya, 14 kejadian memiliki magnitudo di bawah M3,0 dan 9 kejadian berada pada rentang M3,0 hingga M5,0.
Selama periode ini, magnitudo tertinggi yang tercatat berada di angka M5,0, sedangkan yang terendah adalah M2,0.
Dari aspek kedalaman, mayoritas gempa merupakan gempa dangkal:
- Kedalaman < 60 km: 21 kejadian.
- Kedalaman 60 – 300 km: 2 kejadian.
- Kedalaman minimum: 2 km.
- Kedalaman maksimum: 85 km.
Dari puluhan getaran yang terekam, terdapat dua kejadian gempa yang dirasakan langsung oleh masyarakat dengan intensitas II hingga III MMI:
- Minggu, 15 Februari 2026 (13.14 WIB): Gempa berkekuatan M4,8 berpusat di 30 km Barat Daya Seluma, Bengkulu (kedalaman 39 km). Guncangan terasa di Kota Bengkulu, Bengkulu Tengah, Kepahiang, dan Argamakmur.
- Senin, 16 Februari 2026 (13.00 WIB): Gempa berkekuatan M5,1 berpusat di 99 km Barat Daya Agam, Sumatera Barat (kedalaman 59 km). Getaran dirasakan di wilayah Agam, Pasaman Barat, Padang Panjang, Kepulauan Mentawai, Bukittinggi, Padang, hingga Pariaman.
BMKG menegaskan bahwa pemantauan aktivitas seismik terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai langkah mitigasi risiko bencana di wilayah Sumatera.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan hanya mempercayai informasi resmi dari kanal BMKG guna menghindari berita bohong (hoax) yang tidak terverifikasi. (*)





