INGATLAH.COM – Dari ribuan mahasiswa yang pernah menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB), hanya segelintir yang benar-benar meninggalkan jejak intelektual mendalam hingga layak disebut sebagai the real genius.
Salah satu di antaranya adalah Purbaya Yudhi Sadewa.
Hal itu disampaikan mantan Duta Besar Indonesia untuk Polandia (2014–2018), Peter F. Gontha, dalam pernyataan tertulis yang diterima Minggu (14/9/2025).
Peter mengenang, sejak masa kuliah, Purbaya bukanlah sosok yang gemar tampil di organisasi atau aktif di politik kampus.
Ia lebih sering larut dalam dunia angka, persamaan diferensial, serta model matematis yang rumit.
Teman-temannya bahkan menjulukinya nerdy. Namun di balik kesan itu tersimpan pengakuan tulus: Purbaya adalah seorang jenius sejati.
“Di ITB ada budaya tak tertulis: jika seseorang benar-benar jenius, maka sedikit arogansi dianggap wajar. Sebab mereka bermain di liga yang berbeda,” ujar Peter.
Peter menuturkan, ketika banyak ekonom Indonesia menempuh jalur aman dengan menulis disertasi berbasis data lokal dan model konvensional, Purbaya justru memilih jalan menantang.
Disertasinya di luar negeri bukan sekadar menempelkan data pada model orang lain.
“Ia membangun model matematisnya sendiri, menurunkan persamaan demi persamaan, memenuhi appendix dengan pembuktian matematik murni. Tidak hanya satu negara, tapi berbagai case study lintas dunia digunakan untuk membuktikan: modelnya universal, bukan sekadar lokal,” jelas Peter.
Dengan gaya berpikir itu, kata Peter, Purbaya bukan sekadar ekonom biasa, melainkan seorang mathematical economist ilmuwan yang memandang kebijakan ekonomi bukan sebagai wacana politik, melainkan sistem yang dapat dirumuskan, diuji, dan dibuktikan.
Kini, setelah menempuh perjalanan panjang sebagai akademisi, peneliti, dan teknokrat, Purbaya Yudhi Sadewa diangkat menjadi Menteri.
Menurut Peter, hal ini bukan sekadar rotasi birokrasi, melainkan momen penting ketika seorang pemikir yang dulu larut dalam derivasi matematika kini ditantang untuk menerjemahkan logika akademis ke dalam kebijakan publik.
“Bagi banyak orang, ini mengejutkan. Sosok yang dulu lebih banyak diam, larut dalam dunia hitam di atas putih, kini menjadi tokoh publik. Namun bagi yang mengenalnya, ini adalah kelanjutan logis: negara akhirnya memberi tempat pada seorang jenius, bukan hanya teknokrat biasa,” pungkas Peter.(*)





