Opini

Teman Paling Pintar Itu Pergi Lebih Dulu

×

Teman Paling Pintar Itu Pergi Lebih Dulu

Sebarkan artikel ini
Dr. Novia Nengsih, M. A, Ek., CIFA.
Dr. Novia Nengsih, M. A, Ek., CIFA

Kepergian itu selalu terasa tiba-tiba, innalillahi wainna Ilaihi rajiun, bahkan ketika kita tahu seseorang telah berjuang bangkit dan melawan sakitnya. Begitulah kabar duka itu datang, pelan namun menghantam dalam.

Dr. Novia Nengsih, M. A, Ek., CIFA atau yang kami panggil akrab Ineng, ia telah pulang menghadap Allah tepat sehari sebelum Hari Kartini 2026.

Hari yang biasanya identik dengan perempuan tangguh dan berilmu, justru menjadi hari perpisahan terakhir dengan salah satu perempuan paling cerdas yang pernah saya kenal sejak bangku pesantren di Pondok Pesantren Al-Makmur Tungkar.

Sejak awal, Ineng bukan sekadar teman satu angkatan. Ia adalah standar. Ukuran kecerdasan.

Sosok yang membuat kami sadar bahwa kesungguhan dalam menuntut ilmu bukan sekadar kata-kata motivasi, tetapi jalan hidup.

Di pesantren, hampir setiap semester namanya selalu berada di puncak. Juara umum. Lagi dan lagi.

Sampai pada titik kami tidak lagi bertanya siapa yang akan menjadi terbaik, karena jawabannya hampir pasti: Novia Nengsih.

Bagi saya pribadi, tidak banyak kenangan kebersamaan yang panjang dengannya. Bukan karena ia jauh, tetapi karena ia selalu terlihat tenggelam dalam keseriusan belajar.

Ia hadir sebagai sosok yang sulit disaingi bahkan untuk sekadar diimbangi pun rasanya mustahil tetapi tak satupun kalimat sombong terdengar keluar dari lisannya.

Yang pasti, mau di kelas manapun ia duduk di barisan paling depan. Namun justru satu kenangan kecil itulah yang paling melekat.

Baca Juga  3 Pilar Pendidikan Santri di Pondok Pesantren Modern Diniyyah Pasia

Pernah suatu hari, tanpa alasan besar, ia memberikan lauk makan siangnya kepada saya dan teman-teman. Katanya, ia sedang ingin makan nasi putih saja. Sesederhana itu. Tidak dramatis, tidak istimewa bagi orang lain.

Tetapi begitulah Ineng, sosok perempuan cerdas, bersahaja, dan hanya sesekali tersenyum seolah hidup tak perlu dirayakan secara berlebihan.

Ia pintar, serius, tetapi tetap periang. Riangnya orang berilmu. Tidak banyak yang tahu, perempuan yang di usia muda telah menyandang gelar doktor itu justru menjadi guru bagi banyak generasi lintas usia.

Ia ternyata pernah menjadi dosen S2 kakak ipar saya yang usianya bahkan sepuluh tahun lebih tua darinya.

Di sisi lain, adik teman kamipun yang terpaut hampir belasan tahun lebih muda juga pernah duduk sebagai mahasiswanya.

Inilah bukti bahwa, ilmu tidak pernah mengenal umur, dan Ineng membuktikan itu.

Kariernya berakhir dalam pengabdian terbaik: sebagai Wakil Dekan III FEBI sekaligus dosen di UIN Muhammad Yunus Batusangkar.

Ia menghabiskan hidupnya bukan untuk dikenal, tetapi untuk memberi manfaat. Dan mungkin itulah bentuk kemenangan sejati seorang pencari ilmu.

Di angkatan kami, Ineng adalah yang pertama pergi. Kenyataan yang sulit diterima. Seolah satu bagian masa muda ikut dikuburkan bersamanya.

Namun ada satu hal yang membuat hati terasa hangat di tengah kehilangan: grup WhatsApp Teman Sejawat yang ikut ia gagas sejak 2016 kembali hidup.

Baca Juga  Ketika Kebenaran Berhadapan dengan Ego

Satu per satu teman lama muncul. Bahkan ada yang baru bergabung tepat di hari pemakamannya. Seakan Ineng masih menyatukan kami, bahkan setelah kepergiannya.

Kami kehilangan sosoknya, tetapi tidak kehilangan warisannya.

Ilmu yang ia ajarkan akan terus mengalir. Setiap mahasiswa yang ia bimbing, setiap kelas yang ia isi, setiap pemikiran yang ia tanamkan semuanya menjadi amal jariyah yang tak akan terputus.

Mungkin tubuhnya telah kembali ke tanah pada Hari Kartini, tetapi semangat Kartini sejati justru hidup dalam dirinya: perempuan berilmu, rendah hati, dan mengabdikan hidup untuk pendidikan.

Kepergian Ineng juga menjadi pengingat bagi kami semua. Bahwa kecerdasan, jabatan, dan kesibukan tidak pernah membuat manusia kebal terhadap waktu.

Bahwa kesehatan sering kali baru terasa mahal ketika mulai hilang. Bahwa di tengah ambisi dan pengabdian, menjaga diri sendiri adalah tanggung jawab yang tak boleh diabaikan.

Untuk kita yang masih diberi waktu, mari lebih peduli pada kesehatan. Istirahat yang cukup, menjaga tubuh, dan tidak menunda pemeriksaan ketika sakit datang.

Karena dunia pendidikan, keluarga, dan sahabat selalu membutuhkan kita dalam keadaan sehat.

Selamat jalan, Ineng.
Kami mungkin tak pernah mampu menyaingimu di bangku sekolah, tetapi kami akan selalu belajar dari keteladananmu.

Dan seperti ilmu yang kau tinggalkan, kenangan tentangmu akan terus hidup diam, sederhana, namun abadi.