INGATLAH – Riset terbaru Populix mengungkapkan bahwa nastar masih menjadi kue kering Lebaran terfavorit tahun 2025.
Sebanyak 82% responden, yang mayoritas berasal dari generasi milenial dan gen-Z, memilih nastar sebagai sajian wajib di Hari Raya.
Survei yang dilakukan pada 6-8 Maret 2025 ini melibatkan 979 responden dan menemukan bahwa setelah nastar, kue kering lain yang paling diminati adalah putri salju (44%), kastengel (35%), dan sagu keju (27%).
“Nastar unggul sangat jauh dibanding kue lainnya, hampir dua kali lipat dari peringkat kedua. Ini menunjukkan bahwa nastar kemungkinan besar akan menjadi kue pertama yang habis di meja suguhan saat Lebaran nanti,” ujar Indah Tanip, VP of Research Populix.
UMKM Jadi Pilihan Utama Konsumen
Selain menyoroti preferensi rasa, survei ini juga melihat tren pembelian kue kering. Hasilnya, lebih dari separuh responden memilih membeli kue produksi rumahan (UMKM), sementara sisanya lebih menyukai kue kemasan bermerek dari pabrikan besar atau membeli dari toko terkenal yang umumnya dipilih oleh kalangan ekonomi atas.
Menariknya, meskipun generasi milenial dan gen-Z akrab dengan teknologi digital, mereka lebih suka membeli kue kering secara langsung daripada secara online.
Mayoritas memilih membeli di toko kue, mini market, supermarket, atau langsung dari teman dan kerabat, sementara hanya 3% yang membeli lewat layanan online delivery.
“Banyak konsumen lebih nyaman membeli langsung karena lebih yakin dengan kualitas dan keamanan produk. Ini bisa menjadi peluang bagi industri makanan kemasan untuk berinovasi dalam kategori kue kering,” tambah Indah.
Rasa dan Harga Jadi Faktor Utama dalam Pembelian
Saat memilih kue kering, konsumen mempertimbangkan dua faktor utama, yakni rasa (hampir seluruh responden) dan harga (72%).
Tren kue viral yang sempat booming beberapa tahun lalu kini tidak lagi menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian.
Dari sisi harga, mayoritas konsumen menganggap rentang Rp50.000–Rp75.000 per toples adalah harga yang paling pas. Namun, ada juga yang tetap bersedia membeli kue kering hingga harga Rp100.000 per toples.
Lebih lanjut, survei menemukan bahwa milenial dan gen-Z cenderung membeli lebih dari tiga toples kue kering tahun ini, dengan kecenderungan di atas lima toples.
“Meski nastar dinobatkan sebagai kue kering terfavorit, itu tidak serta-merta menjadikannya yang paling laris. Proses pembuatannya yang lebih rumit dan bahan yang lebih mahal bisa membuat harganya lebih tinggi. Karena itu, produsen perlu memastikan harga tetap kompetitif sambil tetap mengutamakan rasa,” tutup Indah. (*)





