INGATLAH.COM – Kematian seekor tapir jantan dewasa di jalur koridor PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Baserah membuka fakta penting tentang risiko tinggi yang dihadapi satwa liar di wilayah perlintasan habitat alami mereka.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melalui tim gabungan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap bangkai satwa yang ditemukan di Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi.
Proses ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari kepolisian, Polisi Kehutanan, hingga pengelola kawasan.
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menyebutkan bahwa lokasi kejadian merupakan jalur yang sering digunakan satwa liar untuk berpindah habitat.
Kedekatannya dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) menjadikan area tersebut sebagai lintasan alami berbagai satwa, termasuk tapir.
“Wilayah ini memang dikenal sebagai koridor pergerakan satwa. Tapir kerap melintas untuk mencari makan maupun berpindah tempat,” jelas Ujang.
Dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter hewan BBKSDA, ditemukan sejumlah indikasi kuat bahwa kematian tapir disebabkan oleh benturan keras.
Luka pada bagian tubuh serta kondisi fisik secara keseluruhan menunjukkan adanya trauma akibat tabrakan dengan kendaraan yang melintas di jalan tersebut.
Tidak ditemukan adanya unsur perburuan dalam kasus ini.
Hal tersebut diperkuat dengan absennya luka akibat senjata api maupun benda tajam.
Dengan demikian, dugaan utama mengarah pada kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan operasional di kawasan koridor tersebut.
Proses pemeriksaan dilakukan secara kolaboratif bersama Kapolsek Logas Tanah Darat, pihak PT RAPP Estate Baserah, staf Balai Taman Nasional Tesso Nilo, serta Tim Penanggulangan Konflik Satwa Liar dari perusahaan.
Sinergi ini bertujuan memastikan penanganan berjalan sesuai prosedur sekaligus mengumpulkan data penting untuk upaya pencegahan di masa mendatang.
Sebagai langkah lanjutan, bangkai tapir dikuburkan di lokasi penemuan.
Proses ini dilakukan sesuai standar operasional untuk mencegah potensi penyebaran penyakit serta risiko zoonosis yang dapat berdampak pada manusia maupun satwa lain.
Kejadian ini menjadi perhatian serius, mengingat meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar di kawasan hutan produksi.
Aktivitas industri yang berkembang di sekitar habitat alami turut memperbesar peluang terjadinya konflik maupun kecelakaan yang melibatkan satwa.
BBKSDA Riau menegaskan pentingnya langkah mitigasi di jalur-jalur rawan, seperti pemasangan rambu peringatan, pembatasan kecepatan kendaraan, hingga pembangunan jalur khusus satwa.
Upaya ini dinilai krusial untuk mengurangi risiko kejadian serupa di masa depan.
Kematian tapir ini menjadi bukti nyata bahwa tanpa pengelolaan yang tepat, keberadaan infrastruktur di kawasan hutan dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa liar yang dilindungi.





