RiauPekanbaru

Warga Riau Menjerit Dikepung Kabut Asap Karhutla, Tenggorokan Sakit hingga Aktivitas Terganggu

×

Warga Riau Menjerit Dikepung Kabut Asap Karhutla, Tenggorokan Sakit hingga Aktivitas Terganggu

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin mengganggu kehidupan masyarakat di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Riau.

Selain menghambat aktivitas sehari-hari, kondisi udara yang dipenuhi asap juga memicu kekhawatiran warga terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Keluhan datang dari berbagai daerah, mulai dari Kabupaten Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kota Dumai hingga Pekanbaru.

Warga mengaku harus berhadapan dengan asap saat berangkat kerja, berbelanja ke pasar, maupun menjalankan aktivitas di luar rumah.

Seorang warga Kabupaten Kampar, Trya Ayu, mengaku saat ini mengalami sakit tenggorokan yang sudah dirasakannya selama hampir sepekan.

Kondisi tersebut membuatnya harus membeli obat di apotek untuk meredakan keluhan yang dialaminya.

“Ini sudah masuk sepekan. Sebelum berangkat kerja, saya mau singgah ke apotek untuk membeli obat radang tenggorokan,” kata Trya, Rabu (14/10/2026).

Menurut Trya, asap di wilayah tempat tinggalnya sudah cukup tebal.

Ia menduga paparan asap menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tenggorokannya terasa sakit.

Untuk mengurangi paparan asap saat beraktivitas, Trya mengaku menggunakan masker berlapis setiap hari.

Masker tersebut bahkan harus diganti beberapa kali, mulai dari saat berangkat kerja hingga pulang pada sore hari.

“Ini saja setiap hari masker dipakai tiga lapis. Kalau hanya satu, bisa tembus. Itu pun sekali pakai. Siang saat pergi makan dan sore pulang kerja, diganti lagi,” ungkapnya.

Keluhan serupa dirasakan masyarakat di Pasir Pengaraian, Kabupaten Rokan Hulu.

Baca Juga  GMPB Dukung Agrinas Pekanbaru, Penertiban Kawasan Hutan dan Bongkar Dugaan Mafia Tanah

Asap yang menyelimuti kawasan perkotaan membuat warga merasa tidak nyaman ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Warga Pasir Pengaraian, Dyah Anggraini, mengeluhkan kabut asap yang menurutnya telah berlangsung hampir tiga bulan.

Ia mengaku setiap hari harus menghadapi udara berbau menyengat saat menjalankan rutinitas.

“Ini sudah masuk bulan ketiga kabut asap. Setiap hari harus menghirup udara asap yang baunya sangat menyengat,” kata Dyah kepada media melalui sambungan telepon WhatsApp.

Kondisi tersebut membuat Dyah membatasi aktivitas di luar rumah.

Ia memilih keluar hanya untuk keperluan penting, termasuk bekerja, karena khawatir kondisi udara yang buruk akan berdampak terhadap kesehatannya.

“Sebenarnya bisa saja keluar, tetapi takut kalau ujungnya nanti sakit. Ini saja keluar rumah hanya untuk pergi ke kantor,” ujarnya.

Kekhawatiran lebih besar dirasakan Rina, warga Kota Dumai.

Sebagai ibu yang memiliki dua bayi, ia mengaku cemas ketika melihat asap tebal masuk ke lingkungan tempat tinggalnya.

“Saat buka pintu, asapnya terlalu banyak. Ditambah saya memiliki dua bayi, yang membuat khawatir akan membuat bayi rentan terserang penyakit ISPA,” kata Rina.

Bagi Rina, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan.

Ia juga mengkhawatirkan dampak kualitas udara yang buruk terhadap kesehatan kedua anaknya, sehingga berharap kabut asap segera berkurang.

Sementara itu, kabut asap turut menjadi perhatian Mustika, warga Kabupaten Rokan Hilir.

Ia mengaku khawatir kondisi udara yang tidak sehat akan mengganggu rencana pernikahannya dalam waktu dekat.

Baca Juga  Gubernur Riau Soroti Kabel Semrawut di Jembatan Siak I, PUPR Diminta Bertindak

Menurutnya, kabut asap yang masih menyelimuti daerahnya berpotensi membuat kegiatan keluarga dan tamu undangan menjadi kurang nyaman.

Ia berharap kondisi udara membaik sebelum acara tersebut digelar.

“Kan tidak mungkin kita buat acara dengan kondisi udara yang tidak sehat. Bisa mengganggu acara,” ujarnya.

Keluhan juga disampaikan Rahmadi, warga Kota Pekanbaru, yang sehari-hari terbiasa beraktivitas di luar rumah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari bersama istrinya.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, ia mengaku mulai mengurangi kegiatan pada pagi hari karena asap terasa menyengat di hidung.

“Biasanya setiap pagi pergi belanja ke pasar bersama istri. Tapi sekarang sudah enggak, menyengat di hidung. Sudah pakai dua lapis masker pun masih terasa,” kata Rahmadi.

Rahmadi berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menangani karhutla dan mengurangi dampak kabut asap yang dirasakan masyarakat.

Menurutnya, penanganan tidak boleh ditunda karena kualitas udara yang memburuk telah mengganggu aktivitas warga.

“Pemerintah harusnya cepat tanggap dengan kondisi seperti ini, jangan ditunda-tunda untuk mengatasi kabut asap. Kalau dilihat dari indeks udara, sudah sangat tidak sehat, bahkan malam tadi sudah mencapai berbahaya,” pungkasnya.

Keluhan masyarakat dari sejumlah daerah tersebut menunjukkan bahwa kabut asap bukan hanya menghambat aktivitas sehari-hari, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan dan keselamatan keluarga.

Warga berharap penanganan karhutla dilakukan secara serius agar kualitas udara kembali membaik dan masyarakat dapat beraktivitas dengan lebih aman.