RiauPekanbaru

Kisah Mualaf Gabe Tambunan Bersyahadat di Masjid An Nur Riau

×

Kisah Mualaf Gabe Tambunan Bersyahadat di Masjid An Nur Riau

Sebarkan artikel ini

INGATLAH.COM – Siang itu, suasana di Masjid Raya An Nur Provinsi Riau di Kota Pekanbaru terasa lebih khidmat dari biasanya.

Pasalnya, ratusan pasang mata tertuju pada 3 calon mualaf yang satu diantaranya seorang pria yang duduk tenang di hadapan imam dan jamaah.

Namanya Gabe Tambunan. Ia telah berusia 48 tahun.

Wajahnya tampak tenang, meski sorot matanya menyimpan haru yang sulit disembunyikan.

Tak banyak kata yang ia siapkan. Tak ada kisah panjang tentang pencarian spiritual yang berliku.

Namun justru dalam kesederhanaannya, tersimpan makna yang begitu dalam.

“Saya masuk Islam karena niat dari diri sendiri,” ucapnya singkat.

Kalimat itu meluncur pelan, namun terasa kuat menggema di dalam ruangan.

Bagi sebagian orang, perjalanan menuju keyakinan baru adalah kisah panjang penuh pergulatan dan ada yang berani menceritakan dan ada juga yang memilih menyimpan untuk dirinya sendiri.

Tetapi bagi Gabe, semuanya berawal dari satu hal yang paling mendasar: niat.

Jumat (19/6/2026) menjadi hari yang tak akan ia lupakan.

Di Masjid Raya An Nur, ia resmi memeluk agama Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Baca Juga  Kecelakaan Maut Dekat Masjid Raya Riau, Dua Pemotor Tewas Terlindas Truk

Setiap lafaz yang ia ikuti diucapkan dengan hati-hati, seolah memastikan bahwa setiap kata benar-benar terpatri dalam dirinya.

Suasana berubah semakin haru saat ia menuntaskan syahadatnya.

Takbir pun bergema dari para jamaah, menyambut langkah baru seorang saudara yang baru saja memulai perjalanan hidupnya sebagai Muslim.

Di balik ketenangan Gabe, ada keyakinan yang tumbuh tanpa perlu banyak penjelasan.

Pembimbing Mualaf Center An Nur Riau, Ustaz Ir. Rubianto, memahami bahwa setiap orang memiliki jalan berbeda dalam menemukan hidayah.

“Tidak semua mualaf memiliki cerita panjang. Ada yang melalui proses bertahun-tahun, ada juga yang lahir dari keyakinan yang tumbuh diam-diam dalam hati,” ujar Rubianto.

Menurutnya, yang paling penting bukan seberapa panjang prosesnya, melainkan seberapa tulus niat yang melandasinya.

Ia menegaskan bahwa keputusan memeluk Islam harus datang dari hati, bukan karena tekanan atau paksaan dari pihak mana pun.

Setelah resmi menjadi Muslim, Gabe tak langsung dibiarkan berjalan sendiri.

Ia akan mendapat bimbingan awal tentang dasar-dasar ajaran Islam mulai dari cara berwudhu, salat, hingga membaca Al-Qur’an.

Baca Juga  Sidang Ketiga Abdul Wahid Digelar di PN Pekanbaru, Ini Agendanya

Semua itu akan menjadi langkah kecil yang perlahan membentuk perjalanan panjangnya ke depan.

“Belajar sedikit demi sedikit. Yang penting istiqamah,” pesan Rubianto.

Sebagai bentuk dukungan, Gabe juga menerima bingkisan perlengkapan salat dari Mualaf Center An Nur Riau.

Bagi sebagian orang mungkin sederhana, namun bagi Gabe, itu adalah simbol awal dari kehidupan baru yang kini ia jalani.

Ia tak banyak berbicara setelah prosesi selesai. Namun dari raut wajahnya, terlihat ketenangan yang berbeda seolah ia telah menemukan sesuatu yang selama ini ia cari, meski tanpa hiruk-pikuk cerita.

Kisah Gabe Tambunan menjadi pengingat bahwa hidayah tidak selalu datang dengan gemuruh.

Kadang ia hadir dalam diam, tumbuh perlahan, lalu menguat menjadi keputusan besar yang mengubah arah hidup seseorang.

Kini, dengan satu bekal utama berupa niat tulus dari dalam hati, Gabe memulai lembaran barunya.

Sebuah perjalanan panjang yang mungkin penuh tantangan, namun juga sarat makna menuju kehidupan sebagai seorang Muslim.