UtamaPekanbaruRiau

Menuntun Tanpa Memaksa, Profil dan Perjuangan Ustaz Rubianto Menjaga Ratusan Mualaf di Riau

×

Menuntun Tanpa Memaksa, Profil dan Perjuangan Ustaz Rubianto Menjaga Ratusan Mualaf di Riau

Sebarkan artikel ini
Beginilah salah satu momen akral saat prosesi persyahadatan disaksikan ratusan jaamh di Masjid Annur Riau.(ist)
Beginilah salah satu momen akral saat prosesi persyahadatan disaksikan ratusan jaamh di Masjid Annur Riau.(ist)

PEKANBARU – Suasana Masjid Raya An-Nur Pekanbaru siang itu perlahan mereda. Zikir dan doa penutup salat Jumat masih menggema lembut, seolah menyelimuti ruang dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Jamaah belum benar-benar beranjak, sebagian masih larut dalam dzikir, sebagian lain menunduk khusyuk.

Di tengah suasana itu, seorang pria berpakaian serba putih melangkah pelan. Ia menggeser sebuah meja kecil ke barisan depan, tepat di belakang sajadah imam.

Gerakannya sederhana, namun cukup untuk menarik perhatian. Jamaah yang paham mulai menoleh. Mereka tahu, sebuah momen sakral akan segera dimulai.

Tak lama, seorang pria lain mendekat. Wajahnya teduh, langkahnya tenang. Sorot matanya lembut, namun menyimpan keyakinan yang kuat.

Dialah Ustaz Ir. H. Rubianto, sosok yang selama ini menjadi penuntun bagi ratusan mualaf di Pekanbaru.

Ia duduk di hadapan seseorang yang tampak gugup. Bukan sebagai pengajar, bukan pula sebagai tokoh agama yang berjarak, melainkan sebagai saudara.

Sebelum prosesi dimulai, satu pertanyaan selalu ia ajukan, pertanyaan yang sangat sederhana, namun sarat makna:

“Ada yang memaksa? Ada yang menjanjikan sesuatu?”

Pertanyaan itu bukan formalitas. Bagi Rubianto, dua kalimat syahadat bukan sekadar ucapan, melainkan keputusan hidup. Ia memastikan, setiap langkah menuju Islam lahir dari kesadaran, bukan tekanan.

Dan ketika kalimat itu akhirnya terucap, suasana masjid berubah. Hening pecah oleh haru. Sebagian jamaah menitikkan air mata, sebagian lain mengangkat tangan, mengucap takbir.

“Allahu Akbar…”

Di momen itulah, sebuah kehidupan baru dimulai.

  • Dari Laut ke Jalan Dakwah

Tak banyak yang tahu, jalan hidup Rubianto tak selalu beririsan dengan dunia dakwah. Ia ternyata lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau.

Baca Juga  Tiga Pria Resmi Peluk Islam di Masjid Agung An-Nur Pekanbaru, Ini Alasannya

Ia adalah seorang insinyur yang pernah akrab dengan dunia laut, bukan mimbar.

Namun, benih kecintaannya pada agama telah tumbuh sejak kecil. Ia mengenal Al-Qur’an di MDA Masjid Taqwa Muhammadiyah, di Jalan Pepaya, Pekanbaru.

Di sanalah, tanpa ia sadari, arah hidupnya perlahan dibentuk.

“Dari muda saya aktif di remaja masjid. Saat kuliah pun, saya tetap belajar agama,” kenangnya kepada INGATLAH.COM.

Titik balik itu datang pada 2018. Sebuah ajakan dari seorang sahabat membawanya terlibat di Mualaf Center An-Nur. Sejak saat itu, hidupnya berubah.

“Prinsip saya sederhana, kalau itu untuk kebaikan, saya tidak akan menolak,” ujarnya.

Ia pun mulai menapaki jalan yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya yaitu menjadi penuntun bagi mereka yang mencari cahaya.

Ir. H. Rubianto.(ist)
Ir. H. Rubianto.(ist)
  • Menuntun dengan Hati

Bagi Rubianto, menjadi mualaf bukan perkara mudah. Ia menyaksikan sendiri bagaimana keputusan itu kerap dibayar mahal seperti ditolak keluarga, kehilangan pekerjaan, bahkan terusir dari rumah.

“Banyak yang datang bukan hanya mencari agama, tapi juga tempat berlindung,” ucapnya pelan.

Dalam setahun, sekitar 90 hingga 100 orang lebih datang ke Mualaf Center An-Nur. Mereka datang dari berbagai latar belakang.

Ada mahasiswa, pekerja, pengusaha hingga masyarakat umum dan Warga Negara Asing. Masing-masing membawa cerita, luka, dan harapan.

Salah satu kisah yang membekas bagi Ustaz Rubianto adalah tentang seorang remaja Tionghoa berusia 17 tahun. Ia datang diam-diam, ingin belajar Islam. Setelah bersyahadat, keluarganya marah besar.

“Ia dipukul, diusir. Kami sempat berpindah-pindah untuk melindunginya,” tutur Rubianto.

Kini, remaja itu hidup sudah tenang dan terus belajar agama islam.

Ada pula kisah lain seorang pemuda yang begitu cepat memahami Islam hingga bercita-cita menjadi pendakwah hanya dalam dua tahun.

Baca Juga  Tangis Haru Warnai 5 Orang Mengucapkan Syahadat di Pekanbaru

“Kadang saya sendiri yang belajar dari mereka,” kata Rubianto, tersenyum.

  • Mengabdi Tanpa Batas

Dedikasi Rubianto tak berhenti di ruang syahadat. Ia juga aktif membina generasi muda di Pondok Pesantren Darul Khair, Pekanbaru.

Di sana, ia mendampingi para santri mempelajari kitab kuning, bahasa Arab, hingga tahfiz Al-Qur’an.

Selain itu, ia juga memimpin Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Haramain Darul Khair, membantu ribuan jamaah memahami manasik hingga menapaki Tanah Suci.

“Capek itu biasa. Tapi melihat orang lain bisa beribadah dengan baik, itu kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan,” ujarnya.

Bahkan, tak jarang ia merogoh kocek pribadi untuk membantu para mualaf bertahan hidup. Baginya, dakwah bukan sekadar menyampaikan, tapi juga mendampingi.

Pengurus Mualaf Center Riau, Ir. H. Rubianto.(ist)
Pengurus Mualaf Center Riau, Ir. H. Rubianto.(ist)
  • Mimpi yang Belum Usai

Di balik semua pengabdian itu, Rubianto menyimpan satu mimpi besar mendirikan rumah singgah bagi para mualaf.

“Saya sering sedih kalau tahu ada mualaf yang tidak punya tempat tinggal,” ucapnya lirih.

Ia membayangkan sebuah tempat yang bukan hanya menjadi hunian, tapi juga ruang aman tempat mereka belajar, tumbuh, dan merasa diterima.

“Rumah singgah itu bukan sekadar bangunan. Itu simbol bahwa kita peduli,” tegasnya.

Di Masjid Raya An-Nur, prosesi syahadat mungkin hanya berlangsung beberapa menit.

Namun bagi Rubianto, setiap detik di dalamnya adalah perjalanan panjang tentang keyakinan, pengorbanan, dan harapan.

Ia tahu, tugasnya bukan memberi hidayah. Ia hanya menuntun. Selebihnya, adalah urusan langit.

“Capek itu biasa,” katanya sambil tersenyum, “tapi ketika melihat orang lain menemukan kebahagiaan, semua lelah itu hilang.” pungkasnya.