Berita

Bangkit dari Lumpur, Aceh Tamiang Pulihkan Peradaban Melayu Tua

×

Bangkit dari Lumpur, Aceh Tamiang Pulihkan Peradaban Melayu Tua

Sebarkan artikel ini

INGATLAH – Sebulan tiga hari pascabencana banjir bandang yang dahsyat, Kabupaten Aceh Tamiang kini mulai menatap masa depan.

Meski puing peradaban dan material lumpur masih menyelimuti wilayah yang paling parah terdampak, sinergi antara negara, relawan, dan masyarakat lokal menjadi pemantik optimisme untuk membangun kembali kota di tepian sungai ini.

Dukungan masif dari berbagai instansi, termasuk pengerahan puluhan alat berat dan ribuan relawan, membuktikan bahwa Tamiang tidak sendirian dalam menghadapi nestapa ini.

“Awal bencana hingga dua tiga hari pasca bencana ada rasa bahwa Tamiang dibiarkan bangkit sendiri, tapi kekinian kami tahu bahwa negara dan jajarannya, bangsa Indonesia tidak akan biarkan Tamiang bangkit sendiri,” ungkap Wulandari, seorang guru SDIT di Tamiang, Minggu (28/12).

Progres Pemulihan dan Kehadiran Negara Perubahan signifikan mulai terlihat di lapangan. Khairian, seorang pemerhati banjir setempat, mencatat kemajuan pesat terutama setelah dua kali kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto.

Baca Juga  600 Hunian Danantara di Aceh Tamiang Rampung dalam 8 Hari

Kolaborasi BUMN seperti BUM Karya, Himbara, Pertamina, dan PLN telah memulai pembangunan hunian sementara di sekitar Masjid Darussalam.

Tamiang bukan sekadar wilayah geografis di timur Aceh; ia adalah situs peradaban Melayu tertua di Sumatra yang sudah eksis sejak abad ke-7 Masehi.Jauh sebelum peta politik modern terbentuk, wilayah ini merupakan pusat perdagangan dan budaya yang menghubungkan pedalaman Sumatra dengan Selat Malaka.

Lumpur: Antara Bencana dan Arsip Sejarah Secara historis, Tamiang adalah nadi kehidupan tempat perahu dagang bertukar rempah dan kapur barus.

Namun, banjir besar yang membawa lumpur tebal termasuk bencana hebat pada 25 November 2025 lalu sering kali mengubur jejak fisik peradaban ini.

“Lumpur bukan sekadar bencana. Ia adalah kabar dari alam menyimpan sisa tiang rumah, jalur pelabuhan kuno, hingga artefak yang belum sepenuhnya terungkap,” ujar Herdian, penggiat sejarah muda Tamiang.

Menurut Herdian, Tamiang juga memegang posisi unik sebagai salah satu gerbang Islam awal di Sumatra yang menyatu dengan adat Melayu.

Baca Juga  Kapolda Riau Imbau Sopir dan Nakhoda Jangan Konsumsi Minuman Keras Saat Bekerja

Walaupun fisik kerajaannya kini menghilang akibat perubahan alur sungai dan pendangkalan, nilai-nilai tersebut tetap hidup dalam sistem hukum keluarga dan kepemimpinan lokal.

Menjaga Identitas dari Kepunahan Meskipun istana dan prasasti mungkin telah terkubur, identitas Melayu Tamiang tetap bertahan dalam bahasa, pantun, dan adat istiadat.

Rian, alumni Universitas Sumatera Utara, menekankan pentingnya kesadaran kolektif agar sejarah ini tidak hilang ditelan waktu.

“Sampai kapan pun, Tamiang boleh saja kehilangan istana dan prasasti, tetapi tidak kehilangan jiwanya,” tegas Rian.

Kini, dengan pengerahan seluruh sumber daya negara, Tamiang berupaya bangkit. Upaya pemulihan ini bukan sekadar memperbaiki infrastruktur, tetapi menyelamatkan sisa-sisa cerita peradaban yang pernah berjaya di masa lalu.

Seperti kata para tetua di sana pada Minggu sore, selama cerita masih dituturkan, maka sejarah Tamiang belum benar-benar mati. (*)