BeritaPekanbaruUtama

Siswa SDN 108 Pekanbaru Tewas Diduga Dibully, Kasus Kini Disorot Publik

×

Siswa SDN 108 Pekanbaru Tewas Diduga Dibully, Kasus Kini Disorot Publik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.(ist)

INGATLAH.COM – Muhamamd Abdul Rohid, siswa kelasa VI SD yang meninggal usai menjadi korban bullying ternyata bersekolah di SDN 108 Tengkerang Labuai, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru.

Informasi yang berhasil ingatlah.com himpun, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya korban sempat menjalani perawatan seadanya.

Insiden bullying itu terjadi pada Kamis, 13 November 2025, saat korban bersama teman-temannya melaksanakan belajar kelompok di dalam kelas.

Di tengah kegiatan tersebut, korban tiba-tiba mengalami tindakan kekerasan. Kepala Abdul Rohid diduga ditendang oleh seorang murid berinisial FT.

Kejadian ini sebenarnya langsung dilaporkan oleh saksi berinisial Ark kepada wali kelas yang berada di lokasi, namun laporan itu hanya dibalas dengan respons singkat, “iya, tunggu,” tanpa ada tindak lanjut.

Sesampainya di rumah, korban menangis dan mengungkapkan kepada ibunya bahwa ia tidak ingin lagi pergi ke sekolah.

Kondisinya semakin memburuk keesokan harinya. Korban mendadak lumpuh dan baru berani bercerita bahwa kepalanya ditendang oleh FT saat belajar kelompok.

Karena keterbatasan biaya, pihak keluarga lebih dulu membawa korban ke pengobatan alternatif.

Namun pengobat tersebut menyarankan agar korban segera dibawa ke rumah sakit.

Baca Juga  Safari Ramadan di Padang Pariaman, Sekda Sumbar Salurkan Bantuan Masjid dan Panti Asuhan

Korban akhirnya dibawa ke puskesmas, tetapi fasilitas tersebut sedang tutup karena hari Sabtu.

Abdul Rohid pun dirawat di rumah dengan kondisi kritis.

Selama dalam keadaan lumpuh, ia beberapa kali mengingat dan menceritakan kembali kejadian penganiayaan yang dialaminya.

Beberapa jam sebelum meninggal, korban sempat menyampaikan pesan terakhir kepada ibunya. Ia meminta dimandikan dan digelar tikar, sambil mengatakan bahwa “rumah akan ramai nanti.”

Pada Minggu pukul 02.00 WIB, keluarga yang tertidur dikejutkan oleh kepergian Abdul Rohid untuk selamanya.

Tragisnya, tindakan perundungan yang dialami korban bukanlah yang pertama.

Pada Oktober 2025, korban juga sering dibully oleh teman sekelas lain berinisial SM, bahkan sempat menerima pukulan di bagian dada.

Akibat kejadian tersebut, ia dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit PMC Pekanbaru.

Saat itu pihak sekolah memanggil orang tua kedua belah pihak dan orang tua pelaku menyampaikan permintaan maaf.

Kepergian Abdul Rohid menyisakan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi warga sekitar.

Baca Juga  Pelajar 13 Tahun Tewas Terlindas Dump Truck di Rumbai Barat Pekanbaru

Korban dikenal sebagai anak yang baik, rajin salat berjamaah, dan sering disebut sebagai “anak masjid” oleh jamaah Masjid dekat kediamannya di Perumahan Kesadaran Indah, Blok A-10, Pekanbaru.

Awalnya, keluarga korban enggan membawa kasus ini ke ranah hukum.

Namun setelah mendapat masukan dari Suroto, SH, Ketua Tim Advokat Pejuang Keadilan (TAPAK) Riau, bahwa kasus ini harus diungkap demi evaluasi dan perlindungan anak di sekolah-sekolah lain.

Keluarga akhirnya setuju menunjuk TAPAK Riau sebagai kuasa hukum. Bantuan hukum diberikan secara cuma-cuma.

Kasus ini kini menjadi sorotan dan mendorong harapan besar agar pemerintah, sekolah, dan semua pihak terkait mengambil langkah tegas agar tragedi serupa tidak terulang.

Suroto yang dikonfirmasi ingatlah.com mengatakan bahwa hingga saat ini ia maupun keluarga korban belum membuat laporan polisi.

“Belum, hari ini mau pertemuan dulu. Pagi ini mau rapat di SDN 108 bersama dinas, sekolah dam keluarga korban,” ungkapnya.

Terpisah, Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Jeki Rahmat Mustika mengatakan pihaknya telah memerintahkan Kapolsek Bukitraya.

“Kasusnya ditangani Polsek Bukitraya,” katanya singkat.