Serbaneka

Puisi-puisi || Rudi Juliant 2

×

Puisi-puisi || Rudi Juliant 2

Sebarkan artikel ini

PESAN YANG TAK PERNAH TERKIRIM

Malam ini, aku menulis kesekian kali

Bukan untuk dibaca

Tapi untuk mengurangi beban sunyi

Anak lanang yang tak tahu cara pulang.

 

Kabar darinya tak lagi singgah,

Meskipun namanya masih tinggal

Seperti debu yang enggan hilang dari rak

kenangan.

 

Aku benci malam,

yang terlalu baik menyembunyikan luka,

Dan terlalu luas untuk menampung rindu yang tak kunjung reda.

 

Kau tertawa di sana,

Sementara aku menyulam puing-puing

dari tanya yang tak pernah kau jawab.

 

Kelak kau merasa sesak tanpa sebab

Barangkali, itu rindu yang tersesat

Tak tahu jalan kembali ke dadaku.

 

Dan seperti biasa,

Pesan ini takkan ku kirim

Karena aku tahu,

Kamu sudah tak menunggu.

 

— Payakumbuh, 2025

 

KOTA YANG TAK JADI PULANG

Ini tentang cinta, di kota
yang lenyap… begitu sempurna.
Terakhir kali—kau mengantarku pulang,
dengan diam yang belum sempat bernama.

Kapal berjalan lamban,
aku melaju,
kau tertinggal di tepi dermaga,
dan aku, ingin hidup lebih lama,
tapi tidak dengan cinta kita, katamu.

Baca Juga  Twibbon Resmi HJK Padang ke-356 Sudah Tersedia, Ayo Ramaikan di Media Sosial!

Sialnya,
mengapa percakapan itu tak lekang?
Ia menetap—mengetuk sunyi di dalam dada,
segala yang hidup, menjadi saksi diam.

Aroma tubuhmu…
masih mengikuti perjalananku pulang,
dan aku bertanya,
sebegitukah malam itu meninggalkan jejak?

Mungkin salahku. Maaf.
Kita mencinta terlalu cepat,
terlalu kebetulan, terlalu sebentar.
Semoga Tuhan menghapus yang sempat singgah.

Terima kasih,
untuk kenangan yang sempat kita rayakan.
Sampai jumpa, kota yang sesak,
yang tahu terlalu banyak.

— Batam, 2025

KATA TAMAN; AKU RINDU BUNGA

Musim bersalin rupa,

angin datang tanpa arah.

Aku tak ingin larut—

namun aku hanyalah taman.

Pernah kusembunyikan bunga,

ia mekar, memperelok sepi.

Lalu angin mencabutnya,

dan aku, hanya bisa mengucap: pergilah.

Kini aku pulang,

dengan gumam menggandeng sunyi.

Pada bayangnya,

aku belajar bahwa rindu adalah sejenis sepi.

Sejak kepergiannya,

aku retak tanpa suara—

seperti lensa kehilangan cahaya.

Masihkah mungkin,

taman ini ditumbuhi bunga?

— Luhak Nan Tuo, 2025

PERCAKAPAN YANG TAK SEMPAT PULANG

Aku : kau masih terjaga?

Aku hanya ingin bilang—langit di sini

Baca Juga  Program Makan Bergizi Gratis Disosialisasikan di Rohil, Maharani Tekankan Peran Orang Tua dan Sekolah

Malam ini seperti dulu

Abu-abu, dan diam.

Kau : terjaga, tapi tak benar-benar hadir

Kadang aku lupa rasanya bicara tanpa jeda antara hati dan layar.

Aku : apakah kita sedang menyapa, atau hanya saling mengetik kehilangan?

Aku masih menyimpan suara tertinggal dari panggilan terakhir kita.

Kau : mungkin kita hanya dua puisi yang gagal selesai.

Terlalu banyak jeda, terlalu sedikit temu.

Aku : dan sekarang, kita bicara dengan sinyal

yang kadang putus,

Seperti kita.

Kau : tapi lihatlah, bahkan sunyi ini tetap kita bagi.

Bukankah itu semacam setia juga?

— Padang, 2025

NESTAPA HATI

Ini adalah sebuah kenyataan

Ketika tangisan ke kamar membasahi

Langkah

Dimana aku mengantarkan hatiku kala itu.

Entah kau percaya atau tidak

Aku hanya ingin jadi penyair yang

Mardeka

Mencintaimu dalam setiap bait.

Oh hatiku…

Mengapa kau jadi budak sengsara?

Yang tak sederhana mengungkapkan

Sepatah kata: “aku mencintaimu” .

Oh hatiku…

Rehatlah dikau dari nestapa cinta

Dan ” celakalah dia, bagi orang-orang yang meninggalkan luka”, Al -HATI ayat 2.

— Barulak, 2025