PESAN YANG TAK PERNAH TERKIRIM
Malam ini, aku menulis kesekian kali
Bukan untuk dibaca
Tapi untuk mengurangi beban sunyi
Anak lanang yang tak tahu cara pulang.
Kabar darinya tak lagi singgah,
Meskipun namanya masih tinggal
Seperti debu yang enggan hilang dari rak
kenangan.
Aku benci malam,
yang terlalu baik menyembunyikan luka,
Dan terlalu luas untuk menampung rindu yang tak kunjung reda.
Kau tertawa di sana,
Sementara aku menyulam puing-puing
dari tanya yang tak pernah kau jawab.
Kelak kau merasa sesak tanpa sebab
Barangkali, itu rindu yang tersesat
Tak tahu jalan kembali ke dadaku.
Dan seperti biasa,
Pesan ini takkan ku kirim
Karena aku tahu,
Kamu sudah tak menunggu.
— Payakumbuh, 2025
KOTA YANG TAK JADI PULANG
Ini tentang cinta, di kota
yang lenyap… begitu sempurna.
Terakhir kali—kau mengantarku pulang,
dengan diam yang belum sempat bernama.
Kapal berjalan lamban,
aku melaju,
kau tertinggal di tepi dermaga,
dan aku, ingin hidup lebih lama,
tapi tidak dengan cinta kita, katamu.
Sialnya,
mengapa percakapan itu tak lekang?
Ia menetap—mengetuk sunyi di dalam dada,
segala yang hidup, menjadi saksi diam.
Aroma tubuhmu…
masih mengikuti perjalananku pulang,
dan aku bertanya,
sebegitukah malam itu meninggalkan jejak?
Mungkin salahku. Maaf.
Kita mencinta terlalu cepat,
terlalu kebetulan, terlalu sebentar.
Semoga Tuhan menghapus yang sempat singgah.
Terima kasih,
untuk kenangan yang sempat kita rayakan.
Sampai jumpa, kota yang sesak,
yang tahu terlalu banyak.
— Batam, 2025
KATA TAMAN; AKU RINDU BUNGA
Musim bersalin rupa,
angin datang tanpa arah.
Aku tak ingin larut—
namun aku hanyalah taman.
Pernah kusembunyikan bunga,
ia mekar, memperelok sepi.
Lalu angin mencabutnya,
dan aku, hanya bisa mengucap: pergilah.
Kini aku pulang,
dengan gumam menggandeng sunyi.
Pada bayangnya,
aku belajar bahwa rindu adalah sejenis sepi.
Sejak kepergiannya,
aku retak tanpa suara—
seperti lensa kehilangan cahaya.
Masihkah mungkin,
taman ini ditumbuhi bunga?
— Luhak Nan Tuo, 2025
PERCAKAPAN YANG TAK SEMPAT PULANG
Aku : kau masih terjaga?
Aku hanya ingin bilang—langit di sini
Malam ini seperti dulu
Abu-abu, dan diam.
Kau : terjaga, tapi tak benar-benar hadir
Kadang aku lupa rasanya bicara tanpa jeda antara hati dan layar.
Aku : apakah kita sedang menyapa, atau hanya saling mengetik kehilangan?
Aku masih menyimpan suara tertinggal dari panggilan terakhir kita.
Kau : mungkin kita hanya dua puisi yang gagal selesai.
Terlalu banyak jeda, terlalu sedikit temu.
Aku : dan sekarang, kita bicara dengan sinyal
yang kadang putus,
Seperti kita.
Kau : tapi lihatlah, bahkan sunyi ini tetap kita bagi.
Bukankah itu semacam setia juga?
— Padang, 2025
NESTAPA HATI
Ini adalah sebuah kenyataan
Ketika tangisan ke kamar membasahi
Langkah
Dimana aku mengantarkan hatiku kala itu.
Entah kau percaya atau tidak
Aku hanya ingin jadi penyair yang
Mardeka
Mencintaimu dalam setiap bait.
Oh hatiku…
Mengapa kau jadi budak sengsara?
Yang tak sederhana mengungkapkan
Sepatah kata: “aku mencintaimu” .
Oh hatiku…
Rehatlah dikau dari nestapa cinta
Dan ” celakalah dia, bagi orang-orang yang meninggalkan luka”, Al -HATI ayat 2.
— Barulak, 2025





