Berita

AI Memudahkan Penulis, tapi Jangan Jadi Produk Utama

×

AI Memudahkan Penulis, tapi Jangan Jadi Produk Utama

Sebarkan artikel ini
Bahaya Menyerahkan Jurnalistik Sepenuhnya ke Mesin AI. (ist)
Bahaya Menyerahkan Jurnalistik Sepenuhnya ke Mesin AI. (ist)

INGATLAH.COM – Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Mulai dari pekerjaan administrasi, desain, hingga penulisan konten, semua bisa dilakukan dengan bantuan teknologi ini.

Di bidang jurnalistik, AI memang memberi kemudahan baru: proses menulis yang biasanya memakan waktu berjam-jam kini bisa selesai hanya dalam hitungan menit.

Namun, sejumlah praktisi mengingatkan agar tidak menyerahkan sepenuhnya karya jurnalistik kepada mesin.

“Penggunaan AI untuk menulis sudah jadi hal biasa,” kata Mardoni, seorang mahasiswa.

Meski begitu, ia mengaku tetap membatasi penggunaannya.

“Bagaimanapun kemampuan berpikir tetap harus diasah,” lanjutnya.

Risiko Tulisan Jadi “Kering”

Sutradara teater sekaligus pendiri Komunitas Nan Tumpah, Mahatma Muhammad, menilai penggunaan AI secara penuh justru bisa membuat tulisan kehilangan nyawa.

“Kalau sepenuhnya dikerjakan mesin, tulisan wartawan jadi kering. Harus ada olah pikir manusia, terutama dalam pengolahan data,” ujarnya.

Baca Juga  Dua Kekalahan Beruntun, Persis Solo Masih Mencari Gol Pertama

Ia menambahkan, AI tetap bisa dimanfaatkan, misalnya untuk membuat kerangka tulisan, namun eksekusi akhir sebaiknya tetap dikerjakan penulis.

Hal senada disampaikan wartawan senior Merdi Sofansyah. Menurutnya, AI sah-sah saja digunakan, terutama untuk transkrip, ringkasan dokumen, atau ide dasar.

“Yang tidak boleh adalah fabrikasi kutipan, manipulasi gambar, atau deepfake. Selalu harus ada editor manusia dalam prosesnya,” kata Merdi, yang kini aktif mengembangkan konten digital berbasis AI di tvOne AI.

Popularitas ChatGPT menjadi bukti. Data Firstpagesage mencatat, per Maret 2025 ChatGPT menguasai 59,7 persen pangsa pasar chatbot generatif global. Jumlah penggunanya menembus 400 juta pada Februari 2025, hanya tiga tahun sejak diluncurkan.

Indonesia pun masuk tiga besar pengguna aktif ChatGPT terbanyak di Asia Pasifik, bersama India dan Jepang.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana masyarakat, terutama generasi muda, mulai menjadikan AI sebagai solusi instan dalam menulis.

Baca Juga  Pengedar Narkoba di Pessel Diringkus Tim Opsnal Sapu Jagat

Namun, Ilona Juwita, Co-Founder CEO Journalism Fellowship on CSR (JFC), mengingatkan agar AI tidak digunakan sepenuhnya dalam produksi konten.

“Kalau dibuat full AI, justru bisa merusak kredibilitas website,” ujarnya.

Menurut Ilona, AI sebaiknya digunakan pada tahap ideasi, pematangan struktur, riset, hingga validasi data—bukan sebagai produk akhir.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menyesuaikan konten dengan ekosistem mesin pencari berbasis AI.

“Konten harus beradaptasi, misalnya dengan menambahkan data terstruktur agar mudah dipahami Google, dan fokus pada intensi pengguna, bukan sekadar kata kunci,” katanya.

Ke depan, lanjut Ilona, optimasi konten akan ditentukan oleh kemampuan menjawab pertanyaan pengguna secara langsung, terstruktur, dan informatif.

“Dengan semakin banyak konten GenAI, orang justru cenderung melewati tulisan yang dibuat sekadar untuk ringkasan. Maka esensi konten jadi sangat penting,” pungkasnya.