Berita

TK di Pelalawan Dirusak OTK, Ditemukan Botol Miras dan Alat Isap Sabu

×

TK di Pelalawan Dirusak OTK, Ditemukan Botol Miras dan Alat Isap Sabu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi alat hisap sabu. (Foto: Istimewa)

INGATLAH — Gedung Taman Kanak-kanak (TK) di Kelurahan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau, dirusak oleh orang tak dikenal (OTK) pada Senin pagi, 7 April 2025.

Peristiwa ini membuat para guru kaget dan syok saat pertama kali masuk ke ruang kelas.

Tak hanya mengalami kerusakan, di dalam kelas tersebut juga ditemukan botol minuman keras dan alat yang diduga digunakan untuk menghisap sabu.

“Selama libur sekolah, kelas ini malah jadi tempat mabuk-mabukan dan mungkin juga penyalahgunaan narkoba. Tapi kami tetap semangat membersihkan dan mempersiapkan kelas untuk anak-anak,” ujar salah seorang guru dalam sebuah video yang beredar.

Baca Juga  Pelajar 15 Tahun Tewas Mengenaskan Tergilas Truk Tangki di Jalan Lintas Timur Pelalawan

Dinas Pendidikan Turun Tangan

Menanggapi kejadian tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan, Atil Mahdar, menyatakan telah menerima laporan awal dan akan menurunkan tim untuk menindaklanjuti.

“Besok kami akan kirim tim bersama Kabid TK untuk turun langsung ke lokasi dan menyelidiki lebih lanjut,” kata Atil Mahdar, Senin (7/4/2025).

Polisi Lakukan Penyelidikan

Pihak Polsek Langgam juga telah menerima laporan dan tengah melakukan penyelidikan. Kapolsek Langgam, Ipda Jery P. Sinaga, menyebut bahwa pihaknya sudah mengamankan lokasi dan mengumpulkan informasi awal.

Baca Juga  Polisi Tangkap Pria Diduga Pengedar Sabu di Pinggir Jalan Lintas Sumatera

“Kami sudah berkoordinasi dengan Satuan Narkoba Polres Pelalawan karena adanya temuan botol miras dan alat hisap sabu di lokasi,” tegas Jery.

Hingga kini, penyelidikan terus berlanjut untuk mengungkap pelaku dan motif di balik aksi perusakan tersebut.

Pihak Sekolah Minta Keamanan Ditingkatkan

Guru dan warga setempat berharap agar keamanan fasilitas pendidikan diperketat, terutama saat sekolah dalam keadaan kosong. Mereka khawatir kejadian serupa bisa terulang dan membahayakan lingkungan sekolah. (*)