PEKANBARU – Memasuki usia ke-68, Provinsi Riau diingatkan untuk menengok kembali akar sejarah yang membentuk jati dirinya.
Sejarawan Riau, Prof Suwardi MS, menegaskan bahwa Riau memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
“Riau ini negeri para pejuang. Banyak tokoh yang berperan dalam perjuangan terbentuknya provinsi ini. Ini bukan sejarah biasa, tapi sejarah perjuangan,” ujarnya kepada Media beberapa waktu lalu.
Menurut Suwardi, semangat perjuangan rakyat Riau sudah terlihat jauh sebelum provinsi ini resmi berdiri pada 1957. Salah satu tokoh sentral adalah Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Pada 28 November 1945, Sultan Syarif Kasim II menyerahkan kedaulatan dan menyumbangkan hartanya senilai 13 juta gulden kepada Republik Indonesia.
“Itu bukan sekadar bantuan, tapi simbol keikhlasan dan dukungan penuh untuk negara,” jelasnya.
Langkah tersebut, kata Suwardi, membantu memperkuat posisi Indonesia secara diplomatik dan finansial di awal kemerdekaan.
“Bayangkan, negara dalam kondisi genting, tapi dari Riau muncul sosok yang rela menyerahkan segalanya demi Indonesia,” tambahnya.
Ia juga menepis stigma lama yang sempat melekat pada Riau sebagai “negeri smokel” atau daerah penyelundupan.
“Penyebutan itu sudah terbantahkan. Faktanya, rakyat kita punya peran besar dalam perjuangan dan pembangunan,” tegasnya.
Memasuki usia 68 tahun, Suwardi menilai pembangunan Riau harus lebih matang, tidak hanya di sektor ekonomi, tetapi juga budaya dan identitas.
Budaya Melayu, katanya, adalah akar yang menghubungkan Riau dengan negara-negara serumpun.
Tahun ini, peringatan HUT Riau dirangkai dengan Simposium Melayu Serumpun yang menghadirkan delegasi budaya dari Malaysia, Brunei, Singapura, dan sejumlah negara Melayu lainnya.
“Alhamdulillah, ini langkah nyata memperkuat jaringan budaya dan identitas bersama,” ucapnya.
Suwardi mengingatkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menetapkan Riau sebagai pusat budaya Melayu dalam peresmian di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
“Artinya, kita punya tanggung jawab moral dan sejarah untuk menjaga warisan itu,” ujarnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak kehilangan jejak sejarah.
“Pemerintah perlu memasukkan sejarah dan budaya Melayu ke kurikulum sekolah. Apalagi pemerintah pusat sedang menyusun buku sejarah nasional baru, ini momentum yang tepat,” pungkasnya.





