INGATLAH – Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mencatat bahwa populasi kerbau di daerah tersebut terus mengalami penurunan setiap tahunnya.
Dua faktor utama penyebabnya adalah tingkat reproduksi yang lambat dan tingginya angka pemotongan ternak saat Lebaran.
“Kalau melihat data, populasi ternak kerbau setiap tahun memang menurun,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Padang Pariaman, Zulkhailisman, di Parik Malintang, Sabtu (15/2/2025).
Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2007, populasi kerbau di Padang Pariaman masih mencapai sekitar 17.800 ekor.
Namun, pada tahun 2024, jumlahnya turun drastis menjadi hanya 11.277 ekor. Bahkan jika dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencatat 11.121 ekor, terjadi penurunan sebanyak 156 ekor dalam satu tahun terakhir.
Reproduksi Lambat Jadi Kendala
Zulkhailisman menuturkan bahwa beternak kerbau memang lebih sulit dibandingkan sapi. Salah satu kendalanya adalah masa bunting yang lebih lama, yaitu sekitar satu tahun, serta tanda-tanda birahi yang tidak begitu terlihat.
“Kerbau betina sulit menunjukkan tanda birahi secara jelas. Kalaupun terlihat, peternak sering kesulitan mencari kerbau jantan untuk dikawinkan,” ungkapnya.
Selain itu, beberapa peternak pemilik kerbau jantan terkadang enggan mengizinkan hewan ternaknya dikawinkan dengan kerbau betina milik orang lain.
Solusi: Inseminasi Buatan untuk Kerbau
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah daerah mengerahkan 28 petugas inseminasi buatan (IB) yang tersebar di seluruh kecamatan di Padang Pariaman.
Para petugas ini bertugas menyuntikkan sperma kerbau jantan ke dalam rahim kerbau betina agar proses reproduksi tetap berjalan.
“Kami juga melakukan sosialisasi kepada peternak tentang tanda-tanda birahi pada kerbau. Jika sudah terlihat, segera dekatkan dengan kerbau jantan untuk perkawinan alami. Jika tidak ada, segera hubungi petugas IB,” jelas Zulkhailisman.
Daging Kerbau Favorit Saat Lebaran
Selain kendala reproduksi, penurunan populasi kerbau juga dipengaruhi oleh tingginya angka pemotongan saat Lebaran.
Banyak pasar tradisional dan pasar ternak dadakan di Padang Pariaman yang menjual daging kerbau karena lebih disukai masyarakat dibandingkan daging sapi.
“Tekstur daging kerbau lebih digemari saat Lebaran, sehingga jumlah pemotongannya sangat tinggi,” tambahnya.
Untuk mengurangi laju penurunan populasi, pemerintah daerah terus mendorong peternak memanfaatkan program inseminasi buatan serta mengelola peternakan secara lebih berkelanjutan. (*)





