INGATLAH – Sedikitnya 60 kepala keluarga (KK) korban bencana longsor di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, menyatakan keberatan untuk direlokasi ke Maninjau.
Para korban memilih tetap tinggal di tanah kelahiran mereka dan berharap dapat ditempatkan di lokasi yang aman namun masih berada di wilayah Malalak.
Permintaan pemerintah agar korban dipindahkan ke luar Kecamatan Malalak hingga kini belum dapat dipenuhi.
Warga menilai relokasi ke Maninjau akan menjauhkan mereka dari lingkungan sosial, budaya, serta mata pencaharian yang telah lama dijalani.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Agam Benny Warlis pada Sabtu (3/1) menyatakan bahwa pemerintah daerah telah mengambil langkah konkret.
Ia mengaku telah menugaskan seluruh camat untuk mencari lokasi alternatif yang aman dan layak bagi korban longsor, dengan jarak sedekat mungkin dari wilayah asal.
“Kami sudah menugaskan seluruh camat untuk mencari lokasi terdekat yang memenuhi syarat, aman, dan jauh dari potensi bencana, baik untuk pembangunan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap),” ujar Benny.
Benny menegaskan, pemerintah daerah siap melakukan percepatan pembangunan rumah beserta fasilitas pendukungnya begitu lokasi aman ditetapkan.
Pembangunan tersebut akan didukung pendanaan dari berbagai sumber, termasuk Buddha Suci, Danantara, serta APBN melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Pemerintah berharap seluruh program relokasi dan pembangunan hunian dapat berjalan lancar serta benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak, demi pemulihan kehidupan warga pascabencana secara berkelanjutan. (*)





