Ditulis Oleh: Elisa Febriyanti, M.Si (Alumni Magister Sains Universitas Andalas dan Pegiat Literasi Sains dan Budaya dan Pemgajar di MTsN 5 Lima Puluh Kota)
Kajian budaya tidak lepas dari adat istiadat yang berlaku di suatu tempat, tak terkecuali di daerah Minangkabau Sumatera Barat.
Aspek budaya dan kebudayaan ini sangat melekat dalam kebiasaan masyarakat Minang.
Terkadang dengan adanya aturan dan pola kebudayaan yang secara tidak langsung mengikat membuat masyarakat harus memahami makna filosofi adat mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak.
Filosofi ini tercermin dalam tatanan pola “alam takambang jadi guru”.
Sudah tidak asing lagi, tentunya makna tersirat dari filosofi ini membuat kearifan lokal yang semula belum berkembang, menjadi lebih bermakna.
Pemaknaan filosofi ini, misalnya dapat kita gambarkan dalam kegiatan sehari-hari. Bagi masyarakat, anggapan filosofi ini sangat melekat dalam tatanan sosial.
Belajar dari alam, tak ubahnya menuntut cara pandang kita untuk lebih mengerti dan bersahabat dengan alam.
Menjadikan alam sebagai guru. Ada nilai-nilai budaya yang memang harus kita laksanakan sesuai tuntutan alam. Kebiasaan masyarakat Minang yang sudah melekat dari zaman nenek moyang memang seharusnya kita lestarikan.
Tuntutan pelestarian nilai-nilai budaya lokal ini dapat kita rancang dalam kegiatan pembelajaran seni budaya, terutama aspek seni rupa yang diajarkan di tingkat Madrasah Tsanawiyah.
Salah satu cara pelestarian nilai-nilai budaya lokal ini yaitu dengan merancang pembelajaran yang menarik di Madrasah. Sebagaimana diketahui, topik materi seni rupa merupakan salah satu aspek yang dipelajari dalam pembelajaran seni budaya.
Adanya kegiatan merancang gambar pada materi ini membuat penulis tergugah untuk menjadikan pembelajaran ini lebih bermakna. Dengan adanya tuntutan tujuan pembelajaran, penulis disini lebih mengarahkan pembelajaran seni rupa dengan mengaitkan nilai-nilai budaya terutama topik materi ragam hias.
Penerapan nilai ragam hias budaya lokal sangat penting terutama dalam melestarikan budaya Minang. Berbagai corak hias yang ada di Minangkabau mempunyai makna tersendiri.
Jika kita lakukan telaah dan menelusuri corak ragam hias Sumatera Barat, maka akan kita temukan inspirasi corak ini yang bersumber dari alam, seperti corak flora, fauna dan geometris.
Misalnya saja kita contoh kan melalui corak flora yang ada di Minangkabau yaitu “aka cino sagagang”, “kaluak paku”, sedangkan motif fauna seperti “itiak pulang patang”, motif geometris seperti “saik ajik babungo”. Pemahaman nilai-nilai budaya yang ada dari corak tersebut memiliki arti tersendiri dalam kehidupan Minangkabau.
Penerapan nilai ini menjadi tolak ukur bahwa budaya dan kebudayaan yang bersumber dari falsafah Minangkabau sangat melekat dalam jati diri masyarakat Minangkabau.
Penerapan nilai ragam hias budaya lokal, dalam hal ini kaitannya dengan pembelajaran Seni Rupa di Madrasah telah diterapkan kepada siswa MTsN 5 Lima Puluh Kota.
Topik materi ragam hias tekstil disini dipilih karena nanti diharapkan pola ragam hias Minangkabau ini bisa diaplikasikan pada bahan tekstil. Dalam penerapannnya, siswa diberikan arahan dan motivasi dalam mengaplikasikan motif hias Minangkabau. Pembelajaran yang menarik akan membuat siswa lebih bisa mengeksplorasi motif hias Minangkabau yang diinginkan.
Inovasi terstruktur yang bisa diterapkan dalam pembelajaraan seni rupa di Madrasah ini dimulai dari pengenalan motif hias, menggambar motif hias, serta mengaplikasikan motif hias pada bahan tekstil.
Pada dasarnya, cara pengaplikasian penggambaran motif ini disesuaikan dengan kebutuhan. Semakin sedikit tingkat kesulitan pembuatan motif, maka semakin mudah siswa untuk membuat motif tersebut pada media gambar.
Seringkali imajinasi dan kenyataan yang ada didukung dengan alat yang memadai menjadikan corak motif hias ini lebih mudah untuk diaplikasikan.
Beragam teknik yang dipilih dalam menggambar corak motif hias ini menentukan keindahan dari sebuah karya. Nilai estetika dalam sebuah karya seni rupa ragam hias Minangkabau menggambarkan ciri khas tersendiri terhadap orang yang memandangnya.
Penyusunan teknik pembelajaran yang sesuai akan menunjang berjalannya penerapan nilai-nilai budaya lokal kepada siswa, baik secara langsung mapun tak langsung.
Dalam hal ini, pembelajaran secara langsung yang diterapkan yaitu dengan mengamati motif hias Minang yang ada, lalu dibuatkan sketsa terlebih dahulu pada media kertas sebelum dipindahkan pada media kain/ tekstil.
Siswa sangat antusias dengan adanya pembelajaran langsung ini, karena mereka mendapatkan pengalaman dalam membuat gambar hias. Dari segi warna, ukuran dan tekstur gambar hias sangat menentukan kreativitas seseorang. Gubahan bentuk yang dibuat sangat aplikatif diterapkan nantinya, terutama pada media kain/ tekstil.
Corak yang imajinatif akan sangat membantu dalam pembuatan motif hias di media gambar. Terlebih lagi, karena terdapat berbagai macam model ragam hias Minangkabau, baik itu ragam hias flora, fauna dan geometris.
Penerapan pembelajaran secara tak langsung, dimana melalui media ini siswa bisa memahami akan pentingnya pelestarian nilai budaya dan makna motif hias itu sendiri. Seperti aplikasi motif hias “saik ajik babungo”, mengandung makna kehati-hatian dalam berbuat dan menghadapi berbagai permasalahan.
Implementasi dan telaah nilai-nilai budaya lokal dalam pembelajaran ini telah menjadi dasar bahwa kekayaan alam Minangkabau sangat penting untuk terus dilestarikan. Diharapkan melalui pembelajaran ini, nilai ragam hias budaya lokal lebih dikenal terutama kalangan generasi muda. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?





