INGATLAH.COM – Suasana haru kembaki menyelimuti Masjid Raya An Nur Pekanbaru, Jumat (11/9/2026), saat lima orang mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk agama Islam.
Prosesi persyahadatan berlangsung selepas salat Jumat dan dipandu Pembimbing Mualaf Center An Nur Riau, Ustaz Rubianto. Puluhan jamaah turut menyaksikan momen tersebut, sementara Hasan dan Fadli hadir sebagai saksi.
Sebelum mengucapkan syahadat, kelima calon mualaf terlebih dahulu menceritakan perjalanan hidup serta alasan yang membawa mereka memilih Islam.
Kisah yang disampaikan pun beragam, mulai dari pencarian keyakinan hingga keinginan membangun rumah tangga bersama pasangan Muslim.
Salah satu kisah yang paling mengundang haru datang dari Choeriah Rohmi, kelahiran Majalengka, 18 Februari 1972.
Ia mengaku kembali memeluk Islam setelah sebelumnya berpindah keyakinan ke agama Kristen ketika masih muda.
Choeriah mengatakan, keputusan berpindah agama pada masa lalu dipengaruhi rasa cintanya kepada pasangan yang saat itu beragama Kristen.
“Ketika masih muda, saya terlalu mencintai pasangan yang beragama Kristen sehingga saya ikut berpindah agama. Sekarang saya kembali memeluk Islam dan ingin mempertanggungjawabkan kesalahan saya yang dulu,” ungkap Choeriah.
Saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Choeriah tampak tak mampu menahan rasa haru. Dengan suara bergetar, ia mengikuti tuntunan yang diberikan pembimbing.
Air mata mengalir di pipinya. Seusai prosesi, Choeriah beberapa kali menyeka air mata sembari mengungkapkan rasa syukur karena kembali menjadi seorang Muslim.
Kisah berbeda disampaikan Alex Sandro Gultom, kelahiran Pekanbaru, 8 April 2000. Ia mengaku tertarik memeluk Islam karena akan menikah dengan pasangannya, Ana.
Ketertarikannya semakin kuat setelah Alex mendapatkan pembelajaran mengenai Islam dari keluarga dan calon pasangannya.
“Saya tertarik masuk Islam karena akan menikah. Saya banyak diajari dan dikenalkan tentang Islam oleh keluarga dan pasangan,” ujar Alex.
Ana turut hadir menyaksikan prosesi tersebut. Ia berharap Alex dapat istiqamah dan kelak mampu menjadi imam serta pemimpin dalam keluarga mereka.
“Ya, harapannya semoga dia istiqomah. Dia bakal jadi imam, bakal jadi pemimpin nanti kelaknya di rumah tangga kami. Dia bisa benar-benar di jalannya Allah, membimbing saya juga dan keluarga kecil kami nanti,” ujar Ana.
Ana juga mengatakan bahwa dirinya bersama Alex akan terus belajar agar kehidupan rumah tangga yang dibangun nantinya sama-sama berlandaskan pemahaman agama.
“Saya juga pastinya belajar lagi, biar sama-sama belajar. Biar sama-sama baik,” katanya.
Sementara itu, David Federico, kelahiran Pekanbaru, 12 Februari 2008, mengaku mulai tertarik mengenal Islam sejak duduk di bangku SMA.
Ketertarikan itu tumbuh setelah David beberapa kali mengantarkan temannya ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh.
Ia juga kerap menyaksikan video ceramah tentang Islam di YouTube.
“Saya waktu SMA sering ikut mengantar teman ke masjid saat Subuh. Saya juga suka menonton ceramah-ceramah tentang Islam di YouTube. Dari situ muncul ketertarikan untuk masuk Islam,” kata David.
Calon mualaf lainnya, Sania Maria Panjaitan, kelahiran Jakarta, 1 Juli 2000, memiliki pengalaman yang cukup dekat dengan lingkungan Muslim sejak kecil.
Sania sejak kecil tinggal di kawasan mayoritas Muslim dan pernah menempuh pendidikan di sekolah Islam. Ia juga terbiasa membaca ayat-ayat pendek sejak usia dini.
“Saya sejak kecil tinggal di lingkungan Muslim dan bersekolah di sekolah Islam. Saya juga sejak kecil sering membaca ayat-ayat pendek. Sampai sekarang saya banyak bersama orang-orang Muslim,” ujar Sania.
Lingkungan tersebut membuat Sania semakin dekat dengan Islam hingga akhirnya mantap mengucapkan dua kalimat syahadat.
Adapun Cristian Stefanus, kelahiran Jakarta, 14 Juli 2001, mengaku mulai mendalami Islam setelah mendapatkan pembelajaran dari calon pasangan dan orang tua pasangannya.
Keputusan Cristian semakin mantap karena ia juga berencana melangsungkan pernikahan.
“Saya belajar tentang Islam dari calon pasangan dan orang tua pasangan. Dari situ saya tertarik untuk mendalami Islam. Apalagi saya juga akan menikah,” kata Cristian.
Setelah kelima calon mualaf mengucapkan dua kalimat syahadat, Ustaz Rubianto memberikan nasihat agar mereka tidak berhenti belajar dan tetap istiqamah dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.
Menurutnya, syahadat bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk terus mengenal, memahami, dan menjalankan ajaran Islam.
“Yang paling penting setelah bersyahadat adalah tetap istiqamah. Terus belajar mengenal Islam, belajar ibadah, dan jangan pernah berhenti menuntut ilmu,” pesannya.
Para mualaf juga diingatkan untuk tetap menghormati dan menjaga hubungan baik dengan orang tua meskipun terdapat perbedaan keyakinan.
“Islam mengajarkan kita untuk tetap berbakti kepada kedua orang tua. Tetap hormati, sayangi, dan jaga hubungan baik dengan mereka meskipun berbeda agama. Kecuali apabila diajak kembali kepada agama sebelumnya, maka hal itu tidak boleh diikuti,” ujarnya.
Prosesi berlangsung lancar hingga kelima mualaf resmi menjadi Muslim. Sebelum kegiatan ditutup, pembimbing juga memberikan sejumlah arahan mengenai hal-hal yang perlu dilakukan setelah mengucapkan syahadat.
“Sehabis ini jangan lupa mandi besar. Setelah itu terus belajar tentang bersuci, salat, rukun iman, dan rukun Islam agar ibadah yang dijalankan semakin baik,” pesannya.
Sebagai bentuk perhatian dan dukungan, Mualaf Center An Nur Riau turut menyerahkan bingkisan berupa perlengkapan salat lengkap kepada kelima mualaf.
Bingkisan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal awal bagi mereka untuk menjalankan ibadah sekaligus terus memperdalam ajaran Islam.
Prosesi kemudian ditutup dengan doa bersama. Para jamaah mendoakan agar kelima mualaf diberikan kemudahan, keteguhan hati, dan kekuatan untuk terus istiqamah menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.





