UtamaRokan Hilir

Anak Petani Asal Inhil Kini Berdiri di Istana sebagai Paskibraka Nasional

×

Anak Petani Asal Inhil Kini Berdiri di Istana sebagai Paskibraka Nasional

Sebarkan artikel ini
Anak Petani Asal Inhil Kini Berdiri di Istana sebagai Paskibraka Nasional
Anak Petani Asal Inhil Kini Berdiri di Istana sebagai Paskibraka Nasional

INGATLAH.COM – Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika seorang ayah akhirnya bisa melihat langsung putrinya setelah berbulan-bulan hanya mengikuti kabarnya dari kejauhan.

Itulah yang kini dirasakan Sulaiman, ayah Arifa Rahma Maulydha, putri asal Kabupaten Indragiri Hilir yang terpilih mewakili Provinsi Riau sebagai anggota Paskibraka Nasional.

Sulaiman kini berada di Jakarta bersama keluarga. Bukan untuk berlibur, melainkan memenuhi undangan menyaksikan putri bungsunya menjalankan tugas dalam upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Senin (17/8/2026).

Bagi Sulaiman, momen tersebut terasa seperti sebuah mimpi yang perlahan menjadi kenyataan.

Selama menjalani pemusatan latihan nasional, komunikasi Arifa dengan keluarga sangat terbatas. Tidak ada lagi percakapan rutin melalui telepon maupun pesan singkat. Keluarga hanya bisa mengikuti perkembangan Arifa melalui media sosial.

Kakak Arifa menjadi salah satu orang yang paling aktif memantau setiap unggahan tentang sang adik.

Dari foto dan video latihan yang beredar, Sulaiman perlahan melihat perubahan pada putrinya. Tubuh Arifa terlihat semakin berisi dan bugar setelah menjalani rangkaian latihan intensif.

“Semenjak ikut pemusatan latihan nasional, Arifa dan kami sudah tak ada lagi komunikasi. Jadi saya tidak tahu detail bagaimana latihannya di sana. Cuma kakaknya aktif memantau dia melalui medsos,” ujar Sulaiman saat diwawancarai Media Center Riau, Sabtu (15/8/2026).

Bagi seorang ayah, perubahan fisik tersebut bukan sekadar soal penampilan. Itu menjadi tanda bahwa Arifa sedang melewati proses panjang untuk menjadi bagian dari barisan Paskibraka Nasional.

Menyerahkan Segalanya kepada Allah

Meski tidak mengetahui secara langsung seperti apa beratnya latihan yang dijalani Arifa, Sulaiman percaya kepada putrinya.

Ia mengenal Arifa sebagai anak yang patuh dan mampu mengikuti aturan. Karena itu, keluarga memilih menyerahkan seluruh proses yang dijalani Arifa kepada Allah SWT.

Baca Juga  Gubernur Riau Abdul Wahid Diduga Terjaring OTT KPK, Kantor dan Rumah Dinas Mendadak Sepi

“Kalau saya dan ibunya ini tahu betul kalau dia itu anaknya manut-manut saja. Jadi apa pun bentuk latihannya, kami dari sini sudah serahkan ke Allah,” katanya.

Sulaiman tidak menuntut putrinya untuk menjadi yang terbaik atau mendapatkan posisi tertentu. Harapannya justru sederhana: Arifa selalu diberikan kesehatan dan mampu menyelesaikan seluruh rangkaian tugas dengan lancar.

“Yang penting, selalu diberikan kesehatan dan semoga kegiatannya lancar sampai selesai,” ujarnya.

Dua Hari di Jakarta, Menunggu Momen Bersejarah

Setelah berbulan-bulan hanya melihat Arifa melalui layar ponsel, akhirnya Sulaiman memiliki kesempatan untuk berada di kota yang sama dengan putrinya.

Ia telah berada di Jakarta selama dua hari bersama keluarga.

Kedatangan mereka membawa perasaan yang campur aduk. Ada kebanggaan, rasa haru, sekaligus kegembiraan karena sebentar lagi mereka akan melihat Arifa berdiri dalam salah satu upacara kenegaraan paling penting di Indonesia.

“Ini saya sudah berada dua hari di Jakarta. Kami diundang ke Istana Merdeka untuk menyaksikan Arifa pada 17 Agustus nanti. Momen seperti ini tak pernah ada di pikiran saya. Senang dan terharu pastinya,” tutur Sulaiman.

Bagi keluarga Arifa, kesempatan tersebut bukan sekadar menghadiri sebuah upacara. Ini adalah momen yang akan menjadi bagian dari cerita keluarga mereka sepanjang hidup.

Arifa, anak bungsu dari keluarga di Indragiri Hilir, kini mendapatkan kesempatan berdiri bersama putra-putri terbaik dari berbagai penjuru Indonesia.

Kabar tersebut juga disambut antusias oleh keluarga besar dan teman-teman sekolahnya di daerah asal.

“Semua keluarga dan kawan-kawan sekolahnya sangat senang. Bahkan ada kabar kalau mereka mau nonton bareng untuk menyaksikan Arifa dari TV,” ungkap Sulaiman.

Anak Petani, Mimpi Kuliah di Singapura

Menjadi Paskibraka Nasional tentu membuka banyak kemungkinan bagi masa depan Arifa. Salah satunya adalah peluang melanjutkan pendidikan melalui sekolah kedinasan yang selama ini kerap menjadi pilihan bagi para alumni Paskibraka.

Baca Juga  Ditangkap Polda Sumbar, 21 Terduga Pelaku Jadikan Sebar Link Judi Online sebagai Mata Pencaharian

Namun, Sulaiman dan istrinya tidak ingin menentukan masa depan putrinya berdasarkan pencapaian tersebut.

Bagi mereka, menjadi Paskibraka Nasional adalah sebuah kebanggaan, tetapi bukan berarti Arifa harus mengikuti jalan yang ditentukan orang lain.

Orang tua memberikan kebebasan kepada Arifa untuk memilih pendidikan dan masa depan sesuai minat serta cita-citanya.

“Kalau dari orang tua pengennya pasti yang terbaik saja untuk dia. Apa pun pilihannya, kami sudah siap,” katanya.

Dan ternyata, impian Arifa cukup berbeda.

Jika sebagian orang mungkin membayangkan dirinya melanjutkan pendidikan di sekolah kedinasan setelah menjadi Paskibraka Nasional, Arifa justru memiliki cita-cita untuk menempuh pendidikan di luar negeri.

Singapura menjadi negara yang ingin ditujunya untuk melanjutkan pendidikan.

“Arifa sendiri cita-citanya kalau bisa mau kuliah di Singapura. Ya, semoga mana yang terbaik saja untuk masa depannya,” ujar Sulaiman.

Kini, sebelum memikirkan terlalu jauh tentang masa depan, keluarga hanya ingin menikmati satu momen terlebih dahulu: melihat Arifa berdiri tegap di Istana Merdeka.

Seorang anak dari keluarga petani di Indragiri Hilir yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan keluarga dan sekolahnya, kini berada di panggung nasional.

Bagi Sulaiman, tidak penting ke mana perjalanan Arifa setelah ini. Yang terpenting, putrinya dapat menjalani setiap langkah dengan baik.

Dan pada 17 Agustus nanti, ketika Sang Merah Putih berkibar di Istana Merdeka, mungkin akan ada seorang ayah dari Indragiri Hilir yang menatap barisan Paskibraka dengan mata berkaca-kaca.

Di antara banyak wajah yang berdiri tegap, matanya hanya mencari satu sosok: Arifa, putri bungsunya.