INGATLAH.COM – Narapidana kasus narkoba yang kabur dari Lapas Kelas IIA Pekanbaru dipastikan sudah tidak lagi berada di Provinsi Riau.
Berdasarkan hasil penelusuran, yang bersangkutan diduga telah melarikan diri hingga ke Jakarta dengan menggunakan identitas palsu.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Riau, Rudy Fernando Sianturi, mengungkapkan bahwa informasi tersebut diperoleh dari hasil koordinasi intensif dengan pihak kepolisian.
“Hasil koordinasi kami dengan kepolisian, beberapa hari lalu yang bersangkutan terpantau sudah berada di Jakarta,” ujar Rudy saat dikonfirmasi, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, narapidana tersebut diduga keluar dari Riau melalui Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dengan cara menyamarkan identitas untuk menghindari deteksi petugas.
“Pengejaran masih terus berlangsung. Kami menduga yang bersangkutan menggunakan identitas lain saat bepergian, sehingga proses pelacakan menjadi lebih kompleks,” jelasnya.
Temuan ini menguatkan dugaan bahwa pelarian telah direncanakan secara matang.
Selain berpindah lokasi dengan cepat, narapidana tersebut juga disebut kerap mengganti nomor komunikasi guna menghilangkan jejak.
Dalam upaya mempersempit ruang gerak pelaku, Ditjenpas Riau terus bersinergi dengan kepolisian serta instansi terkait lainnya, termasuk pihak imigrasi.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi apabila yang bersangkutan mencoba melarikan diri ke luar negeri.
“Kami sudah menyurati pihak imigrasi untuk mencegah kemungkinan pelarian ke luar negeri,” tambah Rudy.
Di sisi lain, evaluasi internal juga dilakukan terkait insiden kaburnya narapidana tersebut.
Hingga saat ini, sebanyak 12 orang telah diperiksa, termasuk Kepala Lapas (Kalapas) dan Kepala Pengamanan Lapas (KPLP).
“Tiga petugas pengawal telah diperiksa dan mengakui adanya kesalahan. Sanksi disiplin sudah diberikan sesuai SOP, sementara sanksi berat berupa pemberhentian masih diproses di tingkat pusat,” tegasnya.
Rudy turut mengakui adanya keterbatasan sarana, khususnya dalam hal teknologi pelacakan, sehingga pihaknya sangat bergantung pada dukungan kepolisian.
“Dari bantuan teknologi kepolisian, sempat terdeteksi jejak hingga ke Jakarta. Namun yang bersangkutan cukup cerdik, seperti mengganti nomor dan menghilangkan jejak,” ungkapnya.
Selain mengandalkan teknologi, penelusuran juga dilakukan melalui pendekatan sosial dengan memetakan jaringan pertemanan narapidana di luar lapas.
Upaya ini diharapkan dapat membantu mengungkap keberadaan pelaku.
“Kami terus bekerja sama dengan kepolisian untuk menelusuri kemungkinan tujuan pelarian, termasuk relasi di luar. Harapannya, pelaku segera ditemukan,” tutup Rudy.





