INGATLAH.COM – Kapal pompong yang tenggelam di perairan Pelabuhan Tanjung Buton, Kabupaten Siak, diduga terseret arus laut yang sangat kuat hingga menghantam rantai jangkar kapal kargo MV Himala.
Tragedi yang terjadi di Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB), Kecamatan Sungai Apit, itu kembali memakan korban jiwa setelah satu korban hilang ditemukan meninggal dunia pada Selasa (7/7/2026).
Korban yang ditemukan adalah Desmond Nataldo (44), seorang shipper dari PT Kharisma Inti Mitra Indonesia (KIMI).
Jenazah korban berhasil ditemukan oleh tim gabungan setelah dilakukan pencarian intensif sejak insiden terjadi.
Humas Kantor SAR Pekanbaru, Kukuh Widodo, membenarkan penemuan tersebut.
“Jenazah korban ditemukan oleh tim gabungan dan langsung dievakuasi ke Puskesmas Sungai Apit untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Kukuh.
Berdasarkan informasi yang dihimpun INGATLAH.COM, kecelakaan laut itu bermula pada Senin (6/7/2026) sekitar pukul 23.30 WIB.
Saat itu, kapal motor jenis pompong yang dinakhodai Aprizal baru saja mengantarkan dokumen ke kapal TB MTS 29.
Setelah menyelesaikan tugas tersebut, pompong bergerak menuju kapal kargo MV Himala untuk menjemput tim gabungan yang akan melaksanakan kegiatan draft survey.
Namun nahas, ketika kapal kecil itu berada di sekitar haluan MV Himala, arus laut yang sangat deras tiba-tiba menyeret pompong keluar dari jalur pelayaran.
Buritan kapal kemudian menghantam rantai jangkar kapal kargo. Nakhoda sempat berusaha mengendalikan kemudi dan menambah putaran mesin agar kapal dapat keluar dari pusaran arus.
Sayangnya, tenaga mesin pompong tidak mampu melawan derasnya arus. Dalam hitungan detik, kapal kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya tenggelam bersama para penumpangnya.
Saat kejadian, terdapat tujuh orang berada di atas kapal.
Tiga di antaranya berhasil menyelamatkan diri, yakni nahkoda Aprizal, Hamdy selaku agen PT Segara Mitra Abadi, serta Lewie Marvie Yuson Ga, Chief Officer MV Himala.
Sementara itu, korban pertama yang ditemukan meninggal dunia adalah Ilham Syahputra Siregar (29), seorang surveyor.
Dengan ditemukannya Desmond Nataldo, jumlah korban meninggal dunia kini bertambah menjadi dua orang.
Hingga Selasa sore, tim SAR masih terus berupaya mencari dua korban lainnya yang belum ditemukan, yakni Aditia Waskita (27), petugas Bea Cukai Pekanbaru, serta Febri (30), surveyor dari PT Sucofindo.
Operasi pencarian melibatkan tim gabungan dari Basarnas, KSOP Kelas II Tanjung Buton, TNI, Polri, pihak perusahaan, hingga masyarakat setempat.
Untuk mempercepat proses pencarian, tim mengerahkan tiga unit kapal tugboat dan satu kapal nelayan guna menyisir area sekitar lokasi tenggelamnya kapal.
Selain melakukan penyisiran di permukaan, koordinasi juga terus dilakukan untuk memperluas radius pencarian mengingat kuatnya arus laut di kawasan tersebut berpotensi menyeret korban menjauh dari titik awal kejadian.
Tragedi ini menjadi pengingat akan tingginya risiko aktivitas pelayaran di perairan dengan arus kuat, terutama bagi kapal-kapal berukuran kecil yang beroperasi di sekitar kapal berbobot besar.
Hingga berita ini diterbitkan, operasi SAR masih terus berlangsung dengan harapan dua korban yang masih hilang dapat segera ditemukan.
Tim penyelamat juga terus memantau kondisi arus dan cuaca agar proses pencarian dapat berjalan secara maksimal dan aman bagi seluruh personel yang bertugas.





