INGATLAH.COM – Ada benang merah yang menarik dalam perjalanan karier Alfeandra Dewangga. Dari PSIS Semarang, kemudian Persib Bandung, hingga kini resmi memperkuat Arema FC.
Ternyata, bek serbabisa berusia 25 tahun itu seolah tak pernah jauh dari warna biru.
Yang lebih menarik, kepindahannya ke Arema FC ternyata tidak berlangsung seperti yang ia bayangkan.
Dewangga mengaku sempat mengira masih akan berseragam Persib Bandung pada musim 2026/2027 karena merasa kontraknya masih tersisa satu musim.
Namun, sebuah keputusan di balik layar mengubah arah kariernya.
“Sebenarnya kalau itu karena agen. Saya hanya dapat kabar musim depan ke Arema karena saya mikirnya masih ada kontrak satu musim lagi di Persib. Ternyata Arema membayar transfer fee ke Persib,” ungkap Dewangga.
Ia mengaku bukan hanya Arema FC yang menunjukkan ketertarikan. Sejumlah klub lain juga sempat menghubungi agennya. Namun, Arema menjadi klub yang paling serius dengan bersedia menebus biaya transfer kepada Persib Bandung.
“Ada beberapa tim juga yang berminat, cuma yang saya tahu dari agen, Arema yang berani transfer fee ke Persib,” tambahnya.
Kepindahan tersebut menjadi awal petualangan baru bagi mantan pemain Timnas Indonesia itu.
Tak hanya soal klub baru, Dewangga juga harus rela melepas identitas yang selama ini melekat erat dalam kariernya, yakni nomor punggung 19.
Selama membela PSIS maupun Persib, nomor tersebut selalu menjadi pilihannya. Namun setibanya di Arema FC, nomor 19 ternyata sudah lebih dulu dimiliki pemain lain.
Alih-alih mempersoalkannya, Dewangga justru memilih mengalah.
“Tapi karena sudah dipakai dan Ahmad minta ke saya, ‘Bang, nomor 19 biar saya pakai ya.’ Saya bilang ya sudah tidak apa-apa, nanti saya pakai nomor lain,” tuturnya.
Sikap itu menunjukkan karakter Dewangga yang lebih mengutamakan kebersamaan dibanding sekadar mempertahankan nomor favoritnya.
Di balik cerita kepindahannya, ada fakta unik yang baru disadari sang pemain. Selama berkarier di level profesional, ia selalu berlabuh di klub-klub yang identik dengan warna biru.
Mulai dari PSIS Semarang, Persib Bandung, hingga kini Arema FC, semuanya menggunakan jersey berwarna biru sebagai identitas utama.
Awalnya, ia tidak pernah menyadari kebetulan tersebut.
“Sebenarnya kalau dilihat, saya juga kaget. Selama bergabung di tiga klub ini saya baru ngeh kok biru semua. Tidak ada kepikiran mau pindah dari tim berwarna biru ke biru lagi,” katanya sambil tersenyum.
Dengan nada bercanda, Dewangga pun menyebut warna biru seolah sudah menjadi jodohnya.
“Mungkin karena jodohnya baju biru, jadi ya dapat biru lagi,” ucapnya.
Kini, fokusnya sepenuhnya tertuju pada Arema FC. Meski mengakui Persib memiliki basis suporter yang luar biasa besar, ia menilai Singo Edan juga merupakan salah satu klub paling bersejarah di Indonesia.
Bagi Dewangga, kesempatan mengenakan seragam Arema adalah sebuah kebanggaan sekaligus tantangan besar dalam kariernya.
“Arema ini kan bisa dibilang klub legenda. Sudah lama berdiri dan tetap bertahan di Super League. Ini tim yang punya banyak sejarah menurut saya. Saya bahagia bisa bergabung dan semoga bisa membantu Arema finis di papan atas,” pungkasnya.
Kini, perjalanan baru Alfeandra Dewangga resmi dimulai di Stadion Kanjuruhan. Setelah Semarang dan Bandung, Malang menjadi babak berikutnya dalam karier seorang pemain yang seolah ditakdirkan selalu mengenakan jersey berwarna biru.
Di balik kebetulan itu, tersimpan harapan besar untuk mengukir prestasi baru bersama Singo Edan pada musim 2026/2027.





