UtamaSumbar

Keren! Mahasiswi ISI Padang Panjang Sulap Baju Adat Minang Pakai Teknologi 3D

×

Keren! Mahasiswi ISI Padang Panjang Sulap Baju Adat Minang Pakai Teknologi 3D

Sebarkan artikel ini
Keren! Mahasiswi ISI Padang Panjang Sulap Baju Adat Minang Pakai Teknologi 3D
Keren! Mahasiswi ISI Padang Panjang Sulap Baju Adat Minang Pakai Teknologi 3D

INGATLAH.COM – Dunia pendidikan tinggi dan industri kreatif di Sumatera Barat kembali mencatatkan inovasi baru, Selasa (7/7/2026).

Inovasi itu hadir dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang berupa sebuah terobosan yang memadukan pelestarian budaya lokal dengan teknologi digital.

Inovasi itu pertama kali dipublikasikan melalui pameran tugas akhir bertajuk Inovasi Digital dalam Industri Fashion di Gedung Galeri Pertunjukan Hoerijah Adam.

Pameran itu adalah karya desainer muda Yuli Yanti, mahasiswi Program Studi Penciptaan Seni Program Magister Terapan Pascasarjana ISI Padang Panjang.

Berbeda dari pameran busana pada umumnya, karya yang ditampilkan tidak hanya menghadirkan pakaian dalam bentuk fisik, tetapi juga memperlihatkan proses kreatif berbasis teknologi digital mulai dari desain, simulasi hingga peragaan busana virtual.

Direktur Pascasarjana ISI Padang Panjang, Dr. Rasmida, S.Sn., M.Sn., memberikan apresiasi atas karya tersebut. Menurutnya, inovasi yang dihadirkan tidak berhenti sebagai penciptaan karya seni, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Pemilihan pondok pesantren di Nagari Canduang Koto Laweh sebagai target penerapan karya merupakan langkah yang sangat tepat,” katanya.

“Ini membuktikan bahwa karya seni terapan mahasiswa pascasarjana mampu berinteraksi langsung dengan masyarakat, menghadirkan solusi visual sekaligus memiliki nilai guna,” ujarnya saat membuka pameran.

Karya Yuli Yanti mengangkat filosofi Baju Kuruang Pangkek Duo, salah satu warisan budaya khas Nagari Canduang Koto Laweh.

Baca Juga  Dari Vespa Keliling hingga Cafe Kreatif, Ini Kisah Inspiratif Wowen Anjona

Selama ini, pakaian adat tersebut identik dikenakan oleh perempuan yang telah menikah sehingga generasi muda relatif kurang mengenalnya.

Melalui inovasi ini, nilai-nilai budaya tersebut diadaptasi ke dalam desain seragam santri di lingkungan pondok pesantren.

Pendekatan itu diharapkan mampu menjadi media edukasi yang lebih efektif agar generasi muda mengenal filosofi adat Minangkabau sejak dini tanpa harus mengubah makna budaya yang terkandung di dalamnya.

Keunggulan utama karya ini terletak pada pemanfaatan teknologi CLO3D, perangkat lunak desain busana tiga dimensi yang kini banyak digunakan industri mode dunia.

Dengan teknologi tersebut, seluruh proses desain dapat divisualisasikan secara digital sebelum diproduksi.

Perancang dapat melihat bentuk pakaian, pola, hingga simulasi jahitan secara virtual tanpa harus membuat sampel kain terlebih dahulu.

Metode ini dinilai mampu mengurangi kesalahan produksi, menekan pemborosan bahan, sekaligus meningkatkan efisiensi proses desain.

Pengunjung pameran pun diajak menyaksikan perjalanan lengkap penciptaan karya.

Mulai dari sketsa dua dimensi, pola digital, simulasi penjahitan virtual (virtual sewing), video mapping, hingga virtual fashion show yang memperlihatkan bagaimana busana dikenakan secara digital.

Kurator pameran, Ahmad Solihin, S.Sn., M.Sn., menyebut konsep tersebut sebagai salah satu lompatan penting dalam perkembangan pendidikan desain mode di ISI Padang Panjang.

Baca Juga  Keluarga Gadis Penjual Gorengan Berharap Pelaku Pembunuhan Segera Terungkap

“Ini merupakan terobosan baru. Fashion tidak lagi hanya ditampilkan melalui peragaan busana konvensional. Di berbagai negara Eropa, digital fashion sudah menjadi bagian dari industri kreatif. Hari ini, Yuli Yanti berhasil membuktikan bahwa tradisi lokal dapat ditransformasikan ke dalam bentuk digital tanpa kehilangan nilai budayanya,” jelas Ahmad.

Keberhasilan karya tersebut juga tidak lepas dari pendampingan pembimbing akademik, Dr. Novina Yeni Fatrina, S.Sn., M.Sn., yang mengarahkan proses kreatif agar tetap menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan pelestarian nilai-nilai adat Minangkabau.

Melalui pendekatan tersebut, karya yang dihasilkan tidak sekadar menjadi seragam sekolah, tetapi juga menjadi media konservasi budaya sekaligus contoh bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat identitas lokal.

Pameran ini menjadi bukti bahwa transformasi digital tidak harus mengikis tradisi. Sebaliknya, inovasi justru mampu membuka ruang baru bagi pelestarian budaya agar lebih dekat dengan generasi muda dan relevan dengan perkembangan industri fashion masa depan.

Dengan memadukan filosofi adat, kreativitas, dan teknologi modern, karya Yuli Yanti diharapkan menjadi inspirasi bagi para desainer muda Indonesia untuk terus menghadirkan inovasi yang berakar pada budaya bangsa namun mampu bersaing di panggung global.