INGATLAH.COM – Di tengah padatnya permukiman di kawasan Tenayan Raya, secercah harapan tumbuh dari sebuah rumah sederhana yang selama ini menjadi saksi perjuangan sebuah keluarga kecil.
Rumah papan milik Tuti Ardianti (30) di Jalan Budi Luhur, Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya, kini perlahan berubah menjadi lebih layak huni setelah menerima bantuan renovasi dari pemerintah.
Bagi Tuti, rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang untuk menyimpan harapan dan membesarkan tiga anaknya di tengah keterbatasan ekonomi.
Perempuan kelahiran 1996 itu sehari-hari menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, anak kedua kelas dua SD, sementara si bungsu masih berusia dua tahun tujuh bulan.
Sejak kecil, Tuti memang telah tinggal di lingkungan tersebut bersama orang tuanya. Setelah menikah, ia bersama suami berupaya membangun rumah sederhana di samping rumah orang tua dengan kemampuan yang terbatas.
“Saya dari lahir memang tinggal di sini. Setelah menikah, kami bangun rumah papan seadanya agar tetap dekat dengan orang tua,” ujar Tuti, Rabu (10/6/2026).
Selama delapan tahun terakhir, keluarga ini harus bertahan dengan kondisi rumah yang jauh dari kata layak. Dinding kayu yang mulai lapuk, atap yang kerap bocor saat hujan, hingga lantai sederhana menjadi bagian dari keseharian mereka.
Meski demikian, harapan tak pernah padam. Hingga akhirnya, pada Februari 2026, kabar yang tak pernah dibayangkan datang menghampiri.
Rumah mereka terpilih sebagai penerima program bantuan renovasi dari pemerintah setelah didatangi oleh pihak BKKBN.
Awalnya, Tuti mengaku sempat kebingungan dengan kedatangan petugas. Namun rasa itu berubah menjadi haru saat mengetahui rumahnya akan direnovasi.
“Waktu itu pihak BKKBN datang ke rumah dan memberi tahu kalau rumah ini akan direnovasi. Rasanya seperti mimpi,” ungkapnya.
Tak hanya bantuan renovasi rumah, Tuti juga menerima dukungan modal usaha dari Seruni Kabinet Merah Putih berupa paket daster dan pakaian anak.
Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi perekonomian keluarga, sekaligus membuka peluang bagi Tuti untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Bukan hanya rumah yang diperbaiki, tapi juga diberi modal usaha,” katanya.
Bagi Tuti, perubahan rumah bukan sekadar soal bangunan yang menjadi lebih baik. Lebih dari itu, rumah yang layak memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anaknya untuk tumbuh dan belajar.
Ia pun tak lagi khawatir saat hujan turun, yang sebelumnya kerap membuat keluarganya harus mengungsi ke rumah orang tua.
“Kalau sekarang sudah bagus, kami tidak perlu khawatir lagi kalau hujan. Anak-anak juga bisa lebih nyaman di rumah,” jelasnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, perhatian pemerintah menjadi harapan bagi banyak keluarga kecil seperti dirinya.
Tuti berharap program bantuan serupa dapat terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.
“Semoga ke depan pemerintah terus memperhatikan masyarakat, karena di kondisi sekarang bantuan seperti ini sangat berarti,” harapnya.
Kisah Tuti menjadi gambaran bahwa di balik keterbatasan, selalu ada harapan yang bisa tumbuh bahkan dari sebuah rumah sederhana





