SerbanekaUtama

Kasus DBD di Riau Tembus 1.682, Rohil Tertinggi

×

Kasus DBD di Riau Tembus 1.682, Rohil Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Kasus DBD di Riau Tembus 1.682, Rohil Tertinggi
Kasus DBD di Riau Tembus 1.682, Rohil Tertinggi

INGATLAH, PEKANBARU – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Riau terus menunjukkan angka mengkhawatirkan.

Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau mencatat sebanyak 1.682 kasus DBD terjadi sepanjang Januari hingga April 2026, dengan 12 pasien di antaranya meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan tingginya kasus DBD dipengaruhi kondisi lingkungan yang kurang bersih sehingga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, penyebab penyebaran virus dengue.

“Selama empat bulan terakhir, sebanyak 1.682 warga Riau telah terjangkit DBD. Ini bukan hal yang bisa kita anggap sepele. Semua pihak harus berperan aktif dalam pencegahannya,” ujar Zulkifli, Sabtu (23/5/2026).

Berdasarkan data Diskes Riau, Kabupaten Rokan Hilir menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 282 kasus dengan empat korban meninggal dunia. Posisi berikutnya ditempati Kota Pekanbaru dengan 251 kasus.

Baca Juga  Target Mencuri Poin dari Bali United Berhasil, Pelatih Semen Padang FC Kritik Wasit

Kasus DBD juga tercatat cukup tinggi di Kabupaten Bengkalis dengan 230 kasus dan satu korban meninggal dunia.

Selanjutnya Kota Dumai mencatat 208 kasus dengan satu kematian, serta Kabupaten Kampar sebanyak 165 kasus dengan tiga korban meninggal.

Sementara itu, Kabupaten Kuantan Singingi melaporkan 130 kasus, Rokan Hulu 98 kasus dengan satu korban meninggal, Indragiri Hulu 80 kasus dengan satu korban meninggal, Indragiri Hilir 81 kasus dengan satu kematian, Pelalawan 72 kasus, Siak 50 kasus, dan Kepulauan Meranti sebanyak 35 kasus.

Melihat tren peningkatan tersebut, Dinas Kesehatan Riau telah mengeluarkan surat edaran terkait kewaspadaan dan pengendalian DBD di seluruh wilayah.

Baca Juga  Tragis di Tol Permai KM 14 B, Avanza Putih Hantam U-Turn

Masyarakat diminta meningkatkan upaya pencegahan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin di lingkungan sekitar.

Menurut Zulkifli, kegiatan PSN perlu difokuskan pada tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, terutama genangan air yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah.

“Kegiatan PSN harus difokuskan pada genangan air seperti bak mandi, tempat penampungan air, wadah pembuangan kulkas, tempat minum burung, pot bunga, wadah dispenser, hingga barang bekas yang dapat menampung air hujan,” jelasnya.

Ia mengingatkan, pencegahan DBD tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat agar penyebaran penyakit dapat ditekan dan tidak menimbulkan lebih banyak korban jiwa.