INGATLAH.COM – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Limapuluh Kota sejak Selasa malam (12/5/2026) memicu bencana longsor dan tanah amblas di Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.
Akibatnya, sebanyak 600 kepala keluarga atau sekitar 2.053 jiwa dilaporkan terisolasi karena akses jalan utama tertutup material longsor dan amblas membentuk lubang menyerupai sinkhole.
Bencana tersebut membuat kendaraan tidak bisa keluar maupun masuk ke wilayah nagari. Aktivitas warga lumpuh, sementara anak-anak sekolah diliburkan akibat putusnya akses transportasi.
“Iya. Sebanyak 600 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa warga kami terisolasi akibat jalan tertimbun longsor dan amblas. Kendaraan tak bisa keluar-masuk. Kami minta bantuan pemda,” ujar Wali Nagari Situjuah Ladang Laweh, Mawardi Dt Sinaro Paneh.
Di lokasi bencana, jalan kabupaten yang menjadi satu-satunya akses warga tampak rusak parah. Selain tertutup longsor, badan jalan juga amblas hingga membentuk lubang besar yang membahayakan pengguna jalan.
Anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang turun langsung meninjau lokasi meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat dan menetapkan penanganan darurat.
“Jalan kabupaten ini tak hanya amblas dan berlubang mirip sinkhole, tetapi juga tertimbun material longsor. Dampaknya, ribuan warga terisolasi, sekolah libur, dan ekonomi nyaris lumpuh. Jalan ini harus segera diperbaiki,” kata Fajar Vesky.
Ia mendesak pemerintah daerah segera melakukan kaji cepat terhadap dampak bencana, mulai dari evakuasi, pembersihan material longsor, hingga pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
Menurutnya, jika dampak bencana terus meluas dan anggaran operasional terbatas, pemerintah daerah perlu segera menetapkan status tanggap darurat bencana agar penggunaan dana tak terduga dan mobilisasi bantuan bisa dilakukan lebih cepat.
Tak hanya di Situjuah Ladang Laweh, bencana hidrometeorologi juga melanda sejumlah wilayah lain di Limapuluh Kota. Di Nagari Tungkar, warga dilaporkan mengungsi akibat banjir dan longsor.
Sementara itu, aliran Batang Sandir atau Batang Air Pondam yang bermuara ke Batang Agam Payakumbuh kembali meluap dan merendam area pertanian warga serta merusak lubuk ikan larangan.
Fajar Vesky menilai penanganan bencana di Limapuluh Kota tidak boleh lagi bersifat sementara atau reaktif saat musibah terjadi. Ia meminta pemerintah daerah menyusun langkah mitigasi jangka panjang karena bencana hidrometeorologi yang terus berulang diduga berkaitan dengan kerusakan ekosistem dan anomali iklim.
“Banyak pakar lingkungan menyebut bencana hidrometeorologi ini bukan lagi masalah lokal semata, tetapi berkaitan dengan perubahan ekosistem dan iklim. Karena itu, penanganannya harus komprehensif dan berkelanjutan,” tegasnya.





