PEKANBARU – Di tengah pesatnya pertumbuhan Kota Pekanbaru sebagai pusat aktivitas ekonomi dan urbanisasi di Riau, persoalan sampah masih menjadi tantangan serius yang belum sepenuhnya teratasi.
Peningkatan volume sampah setiap hari kerap tidak sebanding dengan tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Di balik dinamika tersebut, para petugas kebersihan menjadi garda terdepan yang bekerja tanpa banyak sorotan. Setiap hari mereka menyapu jalan, mengangkut sampah, hingga memastikan wajah kota tetap bersih, meski harus berhadapan langsung dengan dampak kebiasaan masyarakat yang belum disiplin terhadap lingkungan.
Salah satu sosok di balik upaya itu adalah Anastasya Sriutami. Perempuan yang akrab disapa Tami ini telah lama mengabdikan dirinya sebagai petugas kebersihan. Dari rutinitas yang dijalaninya, ia menyaksikan bagaimana perilaku sederhana masyarakat dapat menentukan kondisi lingkungan kota.
“Kami sebenarnya tidak masalah menyapu jalan setiap hari. Tapi kadang saat kami sedang membersihkan, masih ada saja yang langsung membuang sampah. Bahkan ada yang membawa sampah dari rumah lalu dibuang di sini,” ujar Tami saat ditemui di Jalan Cut Nyak Dien, Selasa (21/4/2026).
Tumpukan sampah di pinggir jalan, plastik yang menyumbat selokan, hingga limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan menjadi pemandangan yang kerap ia temui. Upaya pembersihan yang dilakukan setiap hari sering kali terasa seperti mengulang pekerjaan yang sama.
“Kadang hari ini sudah bersih, besoknya kembali kotor. Begitu terus setiap hari,” katanya.
Bagi Tami, kebersihan lingkungan bukan sekadar tugas pekerjaan, melainkan investasi bagi masa depan generasi berikutnya. Ia percaya perubahan hanya bisa terjadi jika masyarakat turut mengambil peran aktif.
Menurutnya, kerja keras petugas kebersihan tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa kesadaran bersama. Kota yang bersih, katanya, tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau petugas lapangan semata.
“Kami yakin kalau semua ikut peduli, pasti bisa. Lingkungan bersih itu tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Di balik pekerjaan yang dijalaninya, Tami menyimpan harapan sederhana: masyarakat mulai peduli dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya dan menjaga fasilitas umum. Baginya, perubahan perilaku masyarakat merupakan bentuk penghargaan terbesar bagi para petugas kebersihan.
“Kalau masyarakat mulai sadar, itu sudah jadi penyemangat bagi kami,” ungkapnya.
Ia menyadari perubahan tidak dapat terjadi secara instan. Namun dengan keteladanan dan konsistensi, ia memilih tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, berharap kesadaran lingkungan tumbuh perlahan di tengah masyarakat.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, suara Tami mungkin terdengar sederhana. Namun dari kerja sunyi para petugas kebersihan seperti dirinya, harapan akan Pekanbaru yang lebih bersih dan nyaman terus dijaga—bahwa perubahan besar selalu bermula dari langkah kecil dan kepedulian bersama.





