INGATLAH.COM – Hujan deras yang mengguyur Kota Pekanbaru sejak pagi hari tak menyurutkan semangat masyarakat untuk menunaikan Salat Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026).
Rencana awal pelaksanaan salat di halaman Kantor Gubernur Riau pun harus berubah secara mendadak, dengan dipindahkan ke Masjid Al Hidayah yang berada di dalam kompleks perkantoran tersebut.
Meski perpindahan lokasi dilakukan secara cepat akibat cuaca, ribuan jamaah tetap memadati masjid dan mengikuti ibadah dengan khusyuk.
Suasana kebersamaan dan kekhidmatan tetap terasa kuat, bahkan di tengah rintik hujan yang masih mengguyur.
Bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan salat, Ustaz H. Amin Yono SSy, Alhafiz memimpin jalannya ibadah dengan lancar.
Sementara itu, khotbah Idulfitri disampaikan oleh Dr. H. Muliardi, MPd, yang juga mewakili Pemerintah Provinsi Riau.
Dalam sambutannya, Dr. Muliardi mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum suci untuk saling memaafkan dan memperbaiki diri.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas nama pribadi dan pemerintah kepada seluruh masyarakat.
“Memaknai Idulfitri adalah momen untuk saling memaafkan dan memperbaiki diri. Saya pribadi dan mewakili Pemerintah Provinsi Riau memohon maaf yang sebesar-besarnya. Minal Aidin Wal Faizin,” ujarnya.
Tak hanya menyentuh aspek spiritual, dalam khotbahnya Dr. Muliardi juga mengulas manfaat puasa dari sisi kesehatan.
Ia menjelaskan bahwa selama Ramadan, tubuh mengalami proses perbaikan sel secara bertahap mulai dari 10 persen pada 10 hari pertama, meningkat hingga 65 persen pada fase kedua, hingga mencapai puncaknya pada 10 hari terakhir.
Selain itu, puasa disebut mampu membantu proses detoksifikasi, seperti membersihkan ginjal serta meningkatkan konsentrasi otak.
Ramadan, menurutnya, menjadi momen yang tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga menyehatkan tubuh secara menyeluruh.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya nilai kejujuran yang dilatih selama berpuasa.
Kejujuran dinilai sebagai fondasi utama dalam membentuk akhlak mulia, sekaligus menjadi jalan menuju kebaikan di dunia dan akhirat.
“Ramadan mendidik kita untuk jujur, bersabar, serta mampu menahan amarah dan memaafkan sesama,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan agar kebiasaan baik selama Ramadan, seperti salat berjamaah dan disiplin dalam beribadah, tidak berhenti setelah bulan suci berakhir.
Konsistensi tersebut diharapkan menjadi identitas baru bagi umat Muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, Dr. Muliardi turut menyoroti pentingnya zakat dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial.
Menurutnya, dalam setiap harta terdapat hak orang lain yang membutuhkan, sehingga berbagi menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Menutup khotbahnya, ia menegaskan bahwa perintah zakat disebutkan sebanyak 82 kali dalam Al-Qur’an dan hampir selalu berdampingan dengan perintah salat.
Hal ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.
“Salat adalah hubungan vertikal dengan Allah, sedangkan zakat adalah hubungan horizontal dengan manusia. Keduanya menjadi kunci dalam memperkuat persaudaraan dan mengentaskan kemiskinan,” pungkasnya.





