INGATLAH.COM – Program Perhutanan Sosial di Sumatera Barat tidak hanya sukses dalam peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga berhasil menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha di berbagai daerah.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menyatakan bahwa program ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan menjaga kelestarian hutan melalui pengelolaan yang melibatkan masyarakat langsung.
“Program ini memberikan dampak besar bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Dengan pengelolaan yang baik, seperti yang terjadi di HKm Solok Radjo dan LPHN Taram, masyarakat tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan,” kata Mahyeldi.
Salah satu contoh keberhasilan Program Perhutanan Sosial adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm) Solok Radjo di Kabupaten Solok.
Kawasan ini berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut dan sangat cocok untuk budidaya kopi.
Sejak berdirinya Koperasi Produsen & Serba Usaha (KPSU) Solok Radjo pada 2014, produksi kopi dari kawasan ini berhasil menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Korea.
“Keberhasilan HKm Solok Radjo membuktikan bahwa potensi hutan yang dikelola dengan baik dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat,” ujar Mahyeldi.
Ketua KPSU, Joni Sandika Putra, menambahkan bahwa mereka menampung hasil panen kopi dari masyarakat sekitar, yang rata-rata adalah petani holtikultura.
Pendapatan dari kopi menjadi penopang ekonomi masyarakat sambil menunggu panen holtikultura lainnya.
Ekowisata LPHN Taram di Kabupaten Limapuluh Kota
Keberhasilan lain dari Program Perhutanan Sosial dapat dilihat di Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Taram, Kabupaten Limapuluh Kota.
Pada 2018, kawasan seluas 800 hektare ini mendapatkan izin pengelolaan dalam skema Hutan Nagari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sejak itu, pengembangan ekowisata di kawasan tersebut berkembang pesat, dengan perputaran uang mencapai Rp2 miliar per tahun.
Menurut Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Ekowisata Kapalo Banda, Muhammad Yahdi, pengelolaan destinasi wisata ini memberi dampak besar terhadap ekonomi masyarakat lokal.
“Potensi wisata di kawasan ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dari berbagai sektor, termasuk UMKM, usaha makanan dan minuman, serta jasa penyewaan kendaraan dan homestay,” jelasnya.
Gubernur Mahyeldi juga menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mendukung pengembangan kawasan-kawasan seperti LPHN Taram agar potensi ekonomi dari perhutanan sosial semakin berkembang.
“Kami serius dan sungguh-sungguh memberikan perhatian kepada masyarakat agar tetap menjaga hutan dan lingkungan, sambil memanfaatkan potensi ekonominya secara bijak,” tambah Mahyeldi. (*)





