Berita

5 Adab Berbuka Puasa Sesuai Sunnah Nabi, Jangan Ditunda Saat Maghrib Tiba

×

5 Adab Berbuka Puasa Sesuai Sunnah Nabi, Jangan Ditunda Saat Maghrib Tiba

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi buka puasa. (Foto: Kompas TV)
Ilustrasi buka puasa. (Foto: Kompas TV)

INGATLAH – Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga. Ia adalah fase pembentukan disiplin spiritual, pengendalian diri, serta penguatan integritas seorang Muslim.

Puasa yang dijalankan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari memiliki tata cara yang tidak berhenti pada waktu menahan diri saja.

Ketika azan Maghrib berkumandang, terdapat adab yang dianjurkan untuk dijalankan agar ibadah puasa semakin bernilai.

Berikut lima adab berbuka puasa sesuai sunnah Nabi Muhammad yang perlu dipahami dan diterapkan.

1. Tidak Menunda Berbuka Puasa

Salah satu prinsip penting dalam berbuka adalah menyegerakannya saat waktu Maghrib tiba. Rasulullah menganjurkan umatnya untuk tidak menunda berbuka tanpa alasan yang dibenarkan.

Menyegerakan berbuka bukan hanya bentuk ketaatan terhadap sunnah, tetapi juga langkah bijak menjaga kondisi fisik. Setelah seharian menahan lapar dan haus, tubuh membutuhkan asupan energi untuk kembali stabil.

Menunda berbuka berpotensi menyebabkan tubuh semakin lemah, dehidrasi, bahkan kehilangan konsentrasi. Dalam konteks manajemen diri, ini adalah bentuk respons cepat terhadap kebutuhan dasar tubuh tanpa melampaui batas syariat.

Baca Juga  Kompolnas RI Investigasi Penembakan Tragis di Polres Solok Selatan, Tambang Ilegal Jadi Sorotan

2. Membaca Doa Berbuka Puasa

Sebelum dan setelah membatalkan puasa, doa menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

Doa berbuka puasa adalah ekspresi syukur atas kemampuan menyelesaikan ibadah seharian penuh. Dalam doa yang diajarkan Rasulullah, terdapat lafaz yang menunjukkan bahwa doa dibaca setelah berbuka, karena mengandung kata “telah”.

Momentum ini mengajarkan kesadaran bahwa setiap rezeki dan kekuatan bersumber dari Allah SWT. Berbuka bukan sekadar aktivitas biologis, tetapi juga peristiwa spiritual.

3. Berbuka dengan Kurma atau Air

Rasulullah mencontohkan berbuka dengan kurma. Jika tidak tersedia, maka cukup dengan air.

Kurma mengandung gula alami yang cepat diserap tubuh, membantu menaikkan kadar gula darah secara bertahap. Sementara air mengembalikan cairan yang hilang selama berpuasa.

Prinsip ini menunjukkan keseimbangan antara mengikuti sunnah dan menjaga kesehatan. Berbuka tidak harus berlebihan. Sederhana, efektif, dan tepat sasaran.

4. Makan Secukupnya

Setelah membatalkan puasa dengan kurma atau air, dianjurkan untuk makan dalam porsi yang wajar.

Rasulullah mengajarkan prinsip moderasi: tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan. Makan berlebihan justru dapat memicu gangguan pencernaan, rasa kantuk berlebih, serta menurunkan kualitas ibadah malam seperti shalat Tarawih.

Baca Juga  Satpol PP Padang Bubarkan Hiburan Malam dan Tertibkan Muda-mudi

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip hidup seimbang: cukup untuk bertenaga, tanpa kehilangan kendali.

5. Membaca Doa Setelah Makan

Menutup aktivitas berbuka dengan doa adalah bagian dari sunnah yang sering diabaikan.

Doa setelah makan menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat rezeki dan kesehatan.

Dengan doa penutup, proses berbuka menjadi rangkaian ibadah yang utuh—dimulai dengan niat, dijalankan dengan disiplin, dan ditutup dengan rasa syukur.

Kesadaran spiritual inilah yang menjadi esensi Ramadhan.

Kesimpulan

Berbuka puasa bukan sekadar mengakhiri lapar dan dahaga. Ia adalah momentum refleksi, penguatan nilai, serta implementasi sunnah dalam kehidupan sehari-hari.

Lima adab yang diajarkan Rasulullah—menyegerakan berbuka, membaca doa, berbuka dengan kurma atau air, makan secukupnya, serta menutup dengan doa merupakan panduan sederhana namun berdampak besar.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi tentang bagaimana kita mengelola diri dengan disiplin, kesadaran, dan rasa syukur.