INGATLAH – “Rumah baru kami di sebelah masjid, Masya Allah,” tulis Riski dalam pesan singkatnya, Jumat (2/1/2026).
Kalimat itu dikirimkan usai ia melaksanakan ibadah Jumat, menggambarkan rasa syukur yang mendalam saat pertama kali menginjakkan kaki di Hunian Sementara (Huntara) Danantara.
Bagi Riski dan ratusan penyintas lainnya, komplek hunian ini adalah jawaban atas duka yang melanda 37 hari lalu, saat kayu dan lumpur menghancurkan tempat tinggal mereka.
Banjir bandang kala itu menyisakan kepedihan; banyak rumah yang tertelan lumpur, hanyut, bahkan tidak lagi berbentuk.
Simbol Kehangatan di Serambi Mekah Lokasi huntara yang bertetangga langsung dengan Masjid Darusallam seolah mempertegas identitas Aceh sebagai Serambi Mekah. Lokasi ini terletak strategis di pinggir jalan utama Aceh Tamiang-Langsa.
Dalam pesannya, Riski merasa dikuatkan oleh kepedulian dari berbagai pihak di bawah arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
“Bismillah kami tidak sendiri, banyak tangan saudara kami dari berbagai daerah di Indonesia lewat pimpinan bangsa ini, Bapak Prabowo Subianto, berjibaku bantu Aceh Tamiang pulih,” ungkap Riski.
Komitmen Danantara dan Pemerintah Pada awal Januari, Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung hunian ini.
Ia memberikan apresiasi tinggi kepada Danantara serta jajaran BUMN Karya yang bekerja tanpa kenal lelah untuk menyediakan tempat tinggal yang humanis bagi rakyat.
“600 rumah dalam delapan hari, bukti Danantara serius dan selalu bersama untuk masyarakat Indonesia,” tegas Presiden Prabowo di hadapan CEO Danantara Rosan dan COO Danantara Dony Oskaria.
Meski berstatus sebagai hunian sementara, bangunan ini dibuat dengan struktur yang kokoh, bersih, dan sangat nyaman.
Setiap rumah telah dilengkapi dengan fasilitas dasar, termasuk dua dipan lengkap dengan kasurnya, serta akses jaringan wifi.
Tidak hanya urusan hunian, aspek psikologis anak-anak pun diperhatikan melalui penyediaan taman bermain di dalam area komplek.
Hunian Danantara kini menjadi titik balik bagi masyarakat Aceh Tamiang untuk merajut kembali kehidupan mereka dengan penuh optimisme. (*)





