Berita

Lampaui Salmon, Sidat Ternyata Memiliki Omega-3 Tertinggi

×

Lampaui Salmon, Sidat Ternyata Memiliki Omega-3 Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Ikan Sidat. (Antara foto)
Ikan Sidat. (Antara foto)

INGATLAH.COM – Pemahaman umum masyarakat selama ini menempatkan salmon sebagai ikan dengan kandungan omega-3 tertinggi.

Namun, riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan temuan berbeda.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Gadis Sri Haryani, menegaskan bahwa ikan sidat (eel) justru menjadi sumber omega-3 paling unggul di antara salmon dan gabus.

Gadis menjelaskan, sidat memiliki kadar DHA dan EPA yang lebih tinggi, ditambah kandungan vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor dalam jumlah signifikan.

“Selama ini kita mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis.

Kandungan DHA yang berperan dalam perkembangan otak serta EPA yang membantu menekan peradangan menjadikan sidat sebagai komoditas perikanan yang bernilai strategis—baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Baca Juga  Ditreskrimsus Polda Riau Limpahkan Kasus Korupsi KUR BRI ke Kejati

Karena itu, Gadis menekankan pentingnya pengelolaan sidat yang berbasis sains agar potensi besar ini tidak hilang akibat eksploitasi berlebih.

Ia menjelaskan bahwa sidat merupakan spesies katadromus dengan siklus hidup yang kompleks.

Sidat menetas di laut dalam sebagai larva leptocephalus, lalu bermigrasi menuju estuari dan bertransformasi menjadi glass eel sebelum memasuki perairan tawar.

Siklus yang melibatkan tiga ekosistem ini membuat populasinya rentan terhadap perubahan lingkungan dan tekanan penangkapan.

Permintaan pasar yang tinggi, penangkapan glass eel secara masif, serta perubahan kondisi muara menjadi tantangan terbesar dalam menjaga ketersediaan populasi.

Situasi ini membuat harga glass eel di lapangan berfluktuasi tajam, bahkan tak jarang tidak terserap industri karena kapasitas hatchery yang terbatas.

Baca Juga  Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bagikan 4 Kunci Sukses di Masjid Al Furqan

Sebagai langkah pengendalian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan kuota penangkapan glass eel dan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor.

Kebijakan ini dirancang untuk menjaga populasi sidat di alam sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah melalui pembesaran di dalam negeri.

Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan kapasitas budidaya, ketergantungan pakan impor, hingga lemahnya pengawasan di lapangan.

Gadis menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi industri sidat harus berlandaskan tata kelola ekologi yang kuat dan berbasis bukti ilmiah.

Ini meliputi pelaksanaan rencana aksi nasional, penguatan konservasi, hingga perlindungan ekosistem yang menopang siklus hidup sidat.