Ekonomi

Guncangan Hebat di Bursa, IHSG Anjlok 3,33 Persen

×

Guncangan Hebat di Bursa, IHSG Anjlok 3,33 Persen

Sebarkan artikel ini

INGATLAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan yang sangat dalam pada perdagangan Senin (27/10/2025).

Hingga Sesi II berakhir, IHSG ambles 275,47 poin atau 3,33% (persen), menyentuh level 7.996. Angka ini dicapai di tengah tekanan jual yang amat deras, dengan rentang perdagangan melebar hingga level terlemah 7.959,16.

Data dari Bloomberg mencatat bahwa koreksi parah ini menempatkan IHSG sebagai indeks dengan penurunan terdalam di kawasan ASEAN, bersanding dengan indeks PSEI (Filipina).

Total transaksi perdagangan mencapai Rp19,62 triliun, didominasi oleh penjualan, dengan perbandingan yang timpang: 551 saham melemah dan hanya 159 saham yang berhasil menguat.

Pelemahan ini didorong oleh koreksi di seluruh sektor, dengan saham-saham energi, properti, dan perindustrian mencatatkan pelemahan paling signifikan, masing-masing terkoreksi hingga 4,76%, 4,71%, dan 4,11%.

Saham Big Caps Jadi Pemberat Utama

Kejatuhan IHSG secara langsung diakibatkan oleh amblesnya sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar (Big Caps).

Saham-saham seperti Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Barito Renewables Energy (BREN), dan Barito Pacific (BRPT) menjadi penekan utama indeks.

Baca Juga  Fokus Bidik Nasabah Berkualitas, DPK Krom Bank Tumbuh Positif hingga Empat Kali Lipat

Beberapa saham Big Caps yang menekan IHSG per Senin (27/10/2025) antara lain:

  • Dian Swastatika Sentosa (DSSA): Menekan 50,4 poin
  • Barito Renewables Energy (BREN): Menekan 46,2 poin
  • Barito Pacific (BRPT): Menekan 26,84 poin
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Menekan 9,82 poin
  • Amman Mineral Internasional (AMMN): Menekan 11,14 poin

Di sektor energi, pelemahan drastis juga dialami saham PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), yang keduanya drop hingga 14,7%.

Sementara di sektor properti, saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) terjun bebas 7,76%.

Isu Revisi Metodologi MSCI Memicu Panic Selling

Berdasarkan informasi yang beredar di pasar, kejatuhan masif ini tersengat oleh isu dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks global yang sangat berpengaruh bagi arus dana asing.

MSCI dikabarkan sedang melakukan konsultasi khusus mengenai metodologi perhitungan free float (saham bebas diperdagangkan) untuk konstituen perusahaan Indonesia.

Baca Juga  1.335 Keluarga Miskin Naik Desil, Akses Bansos di Sawahlunto Terancam Hilang

“MSCI announced that they are doing a consultation in regards to the calculation of Indonesia constituents’ free-float calculation. They will accept inputs from market participants until 31 Dec 2025; and results will be announced on/before 30 Jan 2026,” demikian bunyi pengumuman yang diterima pasar.

Revisi ini mengindikasikan perhitungan free float akan menjadi lebih ketat, di mana banyak saham terutama yang dimiliki oleh ‘corporate and others’ akan dianggap tidak bebas diperdagangkan, sehingga free float saham secara keseluruhan akan menurun.

Menurut riset yang diterima Panin Sekuritas, potensi terbesar dari perubahan metodologi ini adalah aliran dana asing keluar (outflow) yang signifikan.

“Intinya: lebih banyak saham akan dianggap tidak bebas diperdagangkan, sehingga free float turun. Dampaknya, potensi outflow yang cukup besar,” tulis riset tersebut, menjelaskan alasan di balik aksi panic selling massal di bursa hari ini. (*)