Serbaneka

Puisi-puisi || Rudi Juliant

×

Puisi-puisi || Rudi Juliant

Sebarkan artikel ini

SURAT PENDERITAAN: AYAT KEBENCIAN

Malam turun berselendang muram

Seperti rahim langit yang melahirkan kelam

Aku mengiqro’kan wahyu dari jemarimu—

bukan dari langit,

Melainkan dari selembar risalah

Yang kau tulis dengan tinta menyala

 

Katamu itu ayat cinta

Tapi bagiku – ia Nubuatan luka

Firman yang tak sempat disunting semesta.

 

Lidahmu—yang pernah kusebut surga—

kini menabur titik-titik benci,

lafadzmu menjelma isyarat

yang tak mampu kutafsirkan lagi.

 

Malam pun menyuarakan dendamnya

Aku tenggelam dalam tiga alif

Terluntah enam harakat

Yang kehilangan tajwidnya.

 

Tuhan – tidak menjawab lewat firman

Tidak pula lewat kuda berkepak cahaya

hanya lewat sunyi yang menyiratkan

“Bukan keelokkan yang memilihmu, melainkan siapa yang memaknainya”.

 

— Luhak Nan Tuo, 2025

 

SEKETIKA PULANG

Senja meremang di pelupuk Kota Industri,

langit menyulam kelabu di atas lambung yang lelah.

Ombak berseru pada kapal—

riuh rindu dan takut mengapung di permukaan waktu.

 

Tubuh-tubuh pulang,

mengendap dalam sesak yang diam.

Seperti ibu,

menyulam doa di jendela malam,

tanpa tahu benar:

di mana pulang itu tinggal.

Baca Juga  BNI Buka Presale Konser Andrea Bocelli, Nasabah Bisa Dapat Diskon hingga 20 Persen

Kekasihku,

apa arti pulang bagi jiwa yang tak lagi berpeta?

 

Malam turun perlahan,

menyelimuti sisa-sisa rindu yang mengendap.

Kemana rinduku ingin berlabuh?

Ke rumahku,

ke rumahmu,

atau ke sunyi yang enggan disingkap?

 

Kapal merambat dalam pasang,

dan pada laut kubisikkan:

Jangan kabarkan pada siapapun,

bahwa aku tengah pulang

membawa rindu yang tak bernama.

 

—– Pelabuhan Button, 2025

 

 

KITA YANG HILANG

Tidak apa

Aku dan kau… tak lagi menjelma

Kita hilang di sisa pertempuran yang sunyi

 

Tak usah berkata maaf

Aku hanya salah memilih luka di kedalaman

Luka yang melekat

(Membeku) diantara lenguhan nafas

 

Jangan lagi

Cinta…

Sebab cinta, tak lebih dari kata…. telanjang

Ia hanya air yang mengalir

Membasahi tubuh… dibawah guyuran gayung

 

Kita adalah

kata yang hilang

Tak bisa dicari

di peta manapun

Hanyut ditelan fatamorgana

Mati…

Tanpa tau di mana pusara

 

Kini …

Malam demi malam aku telan

Aku … menjahit diriku sendiri

Dengan benang yang tak terlihat orang awam

 

— Luhak Nan Tuo, 2025

 

Baca Juga  Sebelum ke IKN Nusantara, 76 Calon Paskibraka Jalani Latihan di Wildatika

SEPTEMBER KELABU

Hari ini, September pergi secara terburu-buru
Seakan Sumatra menjadi lebih dingin dari yang teringat.

Pada september, aku gagal
Membuatku menelan malam-malam yang
Mengerikan
Kehampaan
Kesepian tak berujung.

Di ujung pelosok Sumatra
Dalam kamar tanpa jam dinding
Diantara buku-buku nan basah
Bagi mereka,
Aku adalah tulisan-tulisan yang sepi
Berderai diantara kata-kata.

Yang semulanya melihat pena-pena merintih
Kini dibuai keheningan malam

Adakah yang menyeka air matanya?

— Barulak, 2025

 

PULANG YANG TERLAMBAT

Payakumbuh, jelang subuh
Hujan gerimis menambah kecepatan langkah
di jalanan basah

Lampu-lampu di tiang listrik padam
Diganti gelap yang pekat
Jalan kosong
Sunyi…
Dan aku berlari
Menghindari dingin yang memenggut

Pintu rumah terbuka setengah menganga
Jam dinding tua milik nenek tertawa
Seolah mengejek kepulanganku
Terlalu larut
Atau terlalu sia-sia

Kemerdekaanku —
Adalah nasib terima dalam getir
Tumpah dalam nyatanya hidup
Tak pernah dipilih

Di pojok kamar,
Yang tersisa satu kamera tua
Pena tanpa tinta
Sisanya, hidup yang muram

Kenapa tak menulis lagi?
Sungguh aku merindukannya
Tanpa kantuk

 

— Payakumbuah, 2024